
Hujan turun selama sepuluh hari berturut-turut. Udara menjadi lembab sehingga terasa sangat tidak nyaman.
"Nona Kedua, Anda harus sering merendam kaki Anda. Sudah berhari-hari hujan sehingga tingkat kelembapannya sangat tinggi. Merendam kaki Anda sangat baik untuk tubuh. Cara ini diajarkan oleh Ibu dari budak yang tinggal di pedesaan ."
Sambil melepas sepatu dan kaus kaki Su Yue, Xiao He menjelaskan beberapa praktik kesehatan penduduk pedesaan yang diajarkan ibunya.
Setelah berinteraksi selama beberapa hari, Xiao He mendapati bahwa nona kedua cukup enak diajak bergaul. Asalkan dia melalukan pekerjaannya sendiri dengan baik, semua pun baik-baik saja. Sekarang dia bahkan sudah mulai berani berbicara.
Sekujur tubuh Su Yue terbungkus selimut, sementara kakinya berendam dalam air panas. Beberapa hari ini hidupnya cukup tenteram karena tidak ada gangguan dari Selir Liu.
"Aneh sekali! Sekarang sudah mendekati akhir tahun dan cuaca sangat dingin. Bukannya turun salju, malah turun hujan sampai berhari-hari. Hais, kira-kira akan mempengaruhi hasil panen orang tua hamba tidak, ya?"
Xiao He mulai mengoceh lagi. Meskipun ayahnya telah menjual dirinya, ayahnya tetaplah ayahnya. Mereka memiliki ikatan hubungan darah yang sangat kuat. Xiao He juga sering mengkhawatirkan keluarganya.
Akhir tahun! Hujan! Hasil panen! Kata-kata Xiao He seolah-olah meledak di benak Su Yue. Dia akhirnya teringat apa yang telah dia lupakan!
Dalam kehidupan sebelumnya, hujan ini turun selama hampir tiga bulan berturut-turut! Kota Kekaisaran penuh dengan pengungsi korban bencana banjir. Separuh hasil panen satu negara terendam air. Akibatnya, rakyat hidup menderita.
Semua ini terjadi karena Sungai Wei, yaitu sungai terbesar di Kerajaan Dongyou, meluap akibat tidak mampu menahan derasnya hujan.
Jika sejak awal turun hujan pemerintah langsung mengutus orang untuk memperkuat bendungan Sungai Wei, maka air sungai tidak akan meluap, sawah tidak akan banjir dan jumlah korban pun tidak akan terlalu banyak!
Su Yue berpikir jika dia dapat membujuk ayahnya untuk menyarankan penguatan bendungan kepada Kaisar, kemudian mencari cara agar Sang Kaisar tahu bahwa ini adalah usulannya, dia mungkin bisa meminta imbalan berupa pembatalan pernikahan dari Kaisar.
Walau tidak bisa dibatalkan, ditunda pun jadi. Nantinya dia akan menjadi murid dari raja pengobatan dan menyembuhkan Pangeran Ketiga sebelum hari pernikahan tiba. Pada saat itu, pernikahan pun tidak lagi penting, bukan?
Kenapa dia melupakan hal yang begitu penting! "Xiao He, kamu benar-benar bintang keberuntunganku!" Su Yue tiba-tiba berkata kepada Xiao He, lalu bergegas keluar tanpa mengeringkan kakinya terlebih dahulu. Dia ingin mencari ayahnya.
Xiao He menatap sosok jauh Su Yue dengan bingung. Namun, dia segera bereaksi, mengambil payung dan mengejar Su Yue yang berteriak memanggilnya.
__ADS_1
Saat Su Yue hendak memasuki ruang baca ayahnya, dia mendengar suara Selir Liu dari dalam. Beberapa hari ini Selir Liu terus menyalin aturan dan tiba hari ini baru selesai. Dia sengaja berdandan cantik dan menyerahkan hasil salinannya untuk dilihat Perdana Menteri.
"Tuan Besar, beberapa hari ini saya terus mencatat sampai tangan saya pun sudah pegal." Terdengar suara Selir Liu yang lemah lembut dari dalam ruangan.
"Mei'er, beberapa hari ini kamu pasti kecapekan." Terdengar suara ayahnya berkata demikian dan dilanjutkan dengan suara-suara yang tidak pantas didengar anak-anak.
"Tuan Besar, Tuan Besar, Nona Kedua ingin bertemu Anda!" teriak Xiao He. Xiao He masih kecil sehingga dia tidak mengerti suara apa itu. Pelayan-pelayan di sekitar ruang baca tidak melaporkan kedatangan Nona Kedua, sementara hujan sedang lebat dan Xiao He takut Nona Kedua akan kehujanan hingga akhirnya jatuh sakit. Makanya dia memberanikan diri untuk melapor sendiri.
Saat Su Yue mendengar suara di
dalam, dia ingin pulang dan berencana datang di lain hari saja. Namun, Xiao He tiba-tiba berteriak sehingga dia mau tidak mau harus menunggu di depan pintu. Seketika suasana menjadi sangat canggung.
Suara di ruang baca terhenti. Setelah beberapa saat, terdengar suara parau Perdana Menteri, "Masuklah."
Begitu pelayan di luar mendengar suara Perdana Menteri, mereka buru-buru membuka pintu untuk Su Yue. Setelah Su Yue melangkah masuk, pelayan buru-buru menutup pintu lagi. Xiao He tidak berani masuk dan hanya menunggu di luar pintu.
"Ada apa, Yue'er?" Begitu Su Yue masuk, dia langsung melihat wajah kedua orang itu sangat merah. Tanpa berpikir pun Su Yue sudah tahu apa yang baru saja mereka lakukan. Dia mencibir di dalam hati. Padahal kedua orang ini hanya terpisah selama belasan hari, sekarang begitu bertemu mereka langsung tidak sabar untuk bersanggama di siang bolong ini. Sungguh hebat ayahnya ini.
Segera setelah dia menyelesaikan salinan terakhir, dia cepat-cepat mengenakan pakaian kesukaan Perdana Menteri dan datang ke kediaman Perdana Menteri dengan membawa setumpuk hasil salinannya.
Tadinya dia berencana bersikap baik-baik supaya Perdana Menteri senang dan kehidupannya di kediaman ini bisa menjadi lebih baik. Siapa sangka rencananya malah dikacaukan gadis sialan ini lagi.
"Ayah, apa yang ingin saya katakan mungkin tidak cocok didengarkan Tante Liu." Su Yue langsung berterus terang. Dia tidak ingin Selir Liu tinggal di sini.
"Yue'er, apa yang tidak boleh didengar tante? Apa kamu lupa kalau tante paling menyayangimu? Dulu saat kamu masih kecil, kamu selalu menempel pada tante sepanjang hari."
"Kenapa lima tahun kemudian setelah kamu kembali dari pedesaan kamu menjadi begitu tidak suka terhadap tante dan sering menjauhi tante?" Usai berkata, Selir Liu berpura-pura menangis seolah-olah dia benar-benar merasa sangat sedih karena telah dijauhi Su Yue.
Melihat Selir Liu menangis sedih, Perdana Menteri pun merasa iba. Dia memelototi Su Yue, "Yue'er, lihat betapa sedihnya tantemu! Apa kamu tidak bisa baik-baik dengan tantemu?"
__ADS_1
Su Yue merasa sangat jijik melihat kepura-puraan Selir Liu. Dia tersenyum halus, "Baik, Ayah. Tapi apa yang mau saya katakan benar-benar adalah masalah penting dan tidak cocok didengar Tante."
"Saya bukan sengaja menjauhi Selir Liu. Beberapa hari nanti saya akan pergi ke Paviliun Yanliu dengan membawakan hadiah sebagai tanda permintaan maaf saya pada Tante Liu, sekaligus menjalin hubungan yang baik dengan Tante Liu!"
Melihat putrinya berkata demikian, Perdana Menteri menjadi lebih santai, "Mei'er, kamu pulang saja dulu. Nanti malam aku akan mengunjungimu."
"Baiklah, Tuan Besar. Mei'er akan mendengar perintah Anda." Karena Perdana Menteri sudah berkata begitu, Selir Liu pun merasa tidak enak untuk tetap tinggal. Alhasil dia bangkit dan berjalan keluar pintu.
Awalnya Selir Liu masih ingin menguping, tapi dia melihat beberapa pelayan yang sedang berjaga di luar. Alhasil dia hanya bisa merapikan pakaiannya dan berjalan pulang dengan dipayungi Xiao Xue.
"Sekarang hanya tersisa kita berdua. Apa yang ingin kamu katakan?" Perdana Menteri tidak merasa Su Yue akan menyampaikan sesuatu yang penting.
Dia merasa Su Yue pasti hanya ingin mengadukan sesuatu padanya, jadi dia bersikap santai dan mulai menggambar di atas kertas putih setelah mengambil sebuah kuas.
"Ayah, apa Anda tidak merasa cuaca ini sangat aneh?" Su Yue langsung terjun ke inti pembicaraan.
Gerakan tangan Su Yan berhenti sejenak. Dia cukup kaget saat mendengar putrinya membahas tentang cuaca, bukan mengadu tentang orang lain.
Kemudian Su Yan mendongak dan melihat derai hujan di luar melalui jendela yang setengah terbuka.
"Aneh? Bukankah ini hanya hujan biasa?" jawabnya santai.
"Ayah, sekarang sudah mendekati akhir tahun. Biasanya akhir tahun selalu turun salju lebat, tapi tahun ini malah turun hujan. Hujan yang turun di musim dingin sangat jarang, apalagi hujan ini sudah berlangsung selama belasan hari."
"Yue'er benar. Cuaca ini memang sedikit aneh, tapi cuaca memang selalu berubah. Walau biasanya turun salju, itu tidak berarti tahun-tahun selanjutnya pasti turun salju, bisa saja turun hujan atau tidak turun hujan maupun salju."
Setelah mendengar penjelasan Su Yue, Perdana Menteri juga merasa aneh. Namun, dia tidak menganggapnya serius dan kembali menggambar dengan santai.
Melihat ayahnya yang masih tidak terlalu peduli, Su Yue merasa dia mungkin harus menggunakan cara lama.
__ADS_1
"Ayah, aku pernah bermimpi sebelumnya."