
Hujan turun deras selama seharian, lalu hari menggelap secara perlahan. Suara angin yang bertiup melalui jendela bobrok membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya meremang.
Seorang gadis yang kira-kira berusia tiga belas atau empat belas tahun merosot di atas kasur dengan wajah pucat pasi.
Gadis itu mengucurkan bulir keringat yang besar-besar. Rambutnya yang kering kerontang karena kurang gizi dalam jangka waktu panjang terurai basah. Dia membuka mulutnya lebar-lebar untuk bernapas, seolah-olah dirinya terperangkap dalam mimpi buruk.
"Aku akan membunuh kalian!" Dia tiba-tiba bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Sepasang mata sipitnya yang sangat cantik menatapi pemandangan di depannya dengan kebingungan.
"Fiuh, Fiuh ..." Suara tiupan angin musim gugur yang membawa bulir-bulir hujan yang dingin masuk melalui jendela yang tidak tertutup rapat, lalu bulir hujan itu menerpa wajahnya. Sensasi dingin ini membuatnya bergetar. Sekarang, dirinya baru benar-benar tersadar.
Gadis itu mengulurkan tangan untuk menyeka air hujan di wajahnya. Lalu saat tatapannya jatuh pada sepasang tangannya yang kurus kering, pupil matanya langsung mengecil.
"Duar!" Petir yang menyambar di luar langsung menerangi seluruh isi rumah ini. Di selingan waktu yang singkat ini, sang gadis baru melihat dengan jelas ruangan yang ditempatinya ini.
Kamar ini adalah sebuah kamar yang sangat bobrok. Hanya ada sebuah rak kayu yang bahkan tidak berpintu, sebuah meja miring yang di atasnya terdapat sebuah teko teh dan cangkir yang bergoyang-goyang nyaris jatuh.
Sementara itu, perhatiannya tertuju pada sebuah bangku kayu yang hanya tersisa tiga kaki yang terletak di samping meja.
Gadis ini familier sekali dengan bangku ini. Saat dirinya masih ada di desa, ini adalah bangku khusus milik ibunya. Dirinya tidak diperbolehkan untuk menyentuhnya. Kalau diingat kembali, sebenarnya saat itu ibunya hanya takut dirinya terluka kalau terjatuh dari bangku ini.
Ibunya yang lemah lembut itu selalu memperhatikan dirinya dengan penuh kasih. Sayangnya, saat itu dirinya tidak memahami kasih ibunya. Dia malah menyalahkan kesialan Ibu yang membuat dirinya ikut menderita di desa karena keputusan keluarga pihak ibu.
Saat dia memikirkan ini, mendadak terdengar suara benda terjatuh. Pintu kayu yang pada dasarnya sudah bergoyang-goyang dan nyaris terjatuh, sekarang terbanting terbuka. Pintu itu hampir saja lepas.
Gadis itu melihat seorang wanita muda yang mengenakan jas hijau tua di hadapannya. Karena wanita itu bekerja keras selama bertahun-tahun, sehingga pinggangnya jadi lebar. Wanita itu sedang menatapinya.
Begitu masuk ke rumah, wanita itu langsung berjalan ke samping ranjang Su Yue. Wanita itu menurunkannya bak mengangkat seekor ayam kecil. Lalu, dia memukul punggung Su Yue keras-keras sebanyak tiga kali dengan sapu yang diambilnya dari ujung ranjang.
"Sampah, manusia malas! Kamu kira dirimu itu putrinya Perdana Menteri? Setelah bangun kenapa tidak memasak, tapi malah tidur dan bermalas-malasan?"
__ADS_1
Suara amarah wanita itu memenuhi telinga Su Yue. Sekarang hari sudah gelap. Begitu wanita itu mendekat, Su Yue baru mengenalinya. Dia adalah Cui Cui, menantunya Ibu Pelayan Yun, si pengurus rumah kediaman yang bobrok di desa.
Cui Cui masih hidup? Seingat Su Yue, saat dirinya dijemput kembali ke Kediaman Perdana Menteri dengan penuh kehormatan, ayahnya memberi perintah untuk membunuh semua orang di kediaman mereka di desa. Tentu saja, termasuk Cui Cui yang ada di hadapannya ini.
Sekarang Cui Cui malah berdiri di hadapannya dengan sehat walafiat. Kenapa bisa?
Su Yue langsung menyentuh tubuhnya sendiri. Dirinya kurus kering, jelas sekali ini karena dirinya kurang gizi dalam jangka waktu yang lama.
Dirinya tidak gendut. Lalu, Su Yue berdiri dengan susah payah. Meski dirinya terasa ringan, punggungnya yang perih karena dipukuli mengingatkannya bahwa ini bukanlah sebuah mimpi.
"Hahahaha..." Su Yue tertawa keras bagai orang gila sampai mengalirkan air mata. Dia tertawa hingga tubuh lemahnya lemas dan jatuh di lantai.
Su Yue bersyukur pada Dewa. Dewa mengasihaninya yang tewas dengan begitu mengenaskan, mengasihaninya memercayai orang yang salah dan mengasihaninya yang bodohnya minta ampun. Sekarang, Dewa memberinya sebuah kesempatan untuk mengulang hidupnya sekali lagi.
Adegan yang familier, juga pemukulan serta omelan yang familier. Ketika dia berusia empat belas tahun, dia seharusnya berada di pedesaan.
Karenanya, Cui Cui memukulnya beberapa kali lagi. Rasa sakit menyebar dari punggung Su Yue. Akhirnya, emosi Su Yue yang tidak terbendung berhenti karena pukulan ini.
"Cui Cui, Yue'er sedang tidak enak badan. Aku yang menyuruhnya beristirahat, biar aku yang memasak makan malam." Sesosok wanita berlari masuk dengan terburu-buru. Karena terlalu kalut, sehingga wanita itu tidak memedulikan dirinya yang basah kehujanan untuk kemari.
Su Yue sedang dipukuli. Sementara itu, wanita itu menerjang ke depan dan memeluk Su Yue erat-erat, melindunginya dengan tubuhnya sendiri.
Aroma ini adalah aroma Ibu yang familier. Aroma ini membuat Su Yue yang sudah berusaha menahan air matanya jadi menangis sekali lagi.
"Jangan menangis, jangan menangis. Yue'er anak baik. Ini salah Ibu. Sakit tidak?" Gu Qin'er menyeka air mata Su Yue dengan gerakan yang serba salah. Karena sering dipaksa bekerja oleh Cui Cui dalam jangka waktu lama, sepasang tangan ibunya yang awalnya putih dan lembut jadi terasa kasar dan menusuk saat mengelus wajah Su Yue.
Di balik bulu mata Su Yue yang panjang, tatapannya dingin. 'Bu, di kehidupan sebelumnya aku bersalah padamu. Sekarang, aku yang akan melindungimu.'
Sementara itu, kebenciannya bermula dari Cui Cui yang ada di hadapannya. Orang-orang yang mencelakainya akan membayar dengan nyawa mereka satu per satu.
__ADS_1
"Bu, aku tidak sakit." Su Yue memiringkan wajahnya, mendekatkan wajahnya pada ibunya. Dulu dia benci dielus ibunya karena tangannya kasar. Setiap kali disentuh, Su Yue merasa perih. Alhasil, lama-kelamaan ibunya tidak menyentuhnya lagi.
"Heh, jangan memainkan drama kasih ibu dan anak yang berbakti di depanku. Jika pekerjaan hari ini tidak selesai, jangan harap kalian berdua bisa tidur!" Selesai mengatakannya, Cui Cuil mengangkat sapunya tinggi-tinggi dan diarahkan ke ibunya Su Yue!
Wajah Su Yue langsung muram. Berani-beraninya manusia rendahan ini memukul ibunya!
Detik selanjutnya, Su Yue mendorong ibunya dengan perlahan. Su Yue menangkap sapu itu, lalu menariknya sekuat-kuatnya. Lalu, Cui Cui yang tidak menyangka akan gerakan Su Yue ini langsung terjatuh dengan keras.
"Biadab! Berani-beraninya kamu memukul Nyonya Kediaman Perdana Menteri! Berani sekali!"
Cui Cui mendengar suara Su Yue yang dingin dan lantang, suaranya terdengar tidak berperasaan.
Cui Cui langsung terkejut setengah mati. Lalu, sebuah petir menyambar lagi. Seharusnya, petir tidak akan muncul di musim dingin. Cui Cui menengadah, kebetulan bertatapan dengan Su Yue yang tatapannya bak setan neraka yang sedang membalas dendam. Untuk sesaat, bulu kuduk Cui Cui meremang, dirinya tidak tahu harus berkata apa.
Tatapan Su Yue tajam sekali. Saking tajamnya, Cui Cui sampai merasa gadis di hadapannya ini dirasuki setan.
Jika dilihat dengan teliti, sebenarnya gadis rendahan itu masih tetap sama. Sementara itu, sepertinya tatapannya hanyalah ilusi Cui Cui sendiri.
"Nyonya Kediaman Perdana Menteri? Hahaha... lucu sekali. Memangnya kamu tidak tahu bahwa Nyonya Kediaman Perdana Menteri sekarang itu Nyonya Liu?" Cui Cui langsung tertawa dingin. Dia merangkak naik dari lantai, seolah dirinya baru saja mendengar lelucon besar.
Su Yue tahu siapa Nyonya Liu itu. Dia adalah ibu kandungnya Su Xin. Saat ayah menjemput wanita itu masuk ke kediaman, Su Xin yang baru berusia tiga tahun juga ikut dengannya.
Di pernikahan orang tua Su Yue, sebenarnya hanya ibunya yang jatuh cinta sepihak dengan menyedihkan pada ayahnya. Ayah menikahi ibunya hanya karena menginginkan kekuasaan keluarga ibunya yang hebat. Juga karena kekuasaan keluarga ibulah, ayah Su Yue baru bisa naik pangkat menjadi Tuan Perdana Menteri yang membuat semua orang jadi iri.
Ayah pernah memberitahu Ibu bahwa sebelum ayahnya menikah, Nyonya Liu pernah menyelamatkan nyawanya. Jadi, Nyonya Liu adalah cinta sejatinya. Sayangnya, sampai mati pun ayahnya tidak pernah tahu bahwa cinta sejatinya itu berselingkuh di baliknya.
"Kediaman Perdana Menteri sudah membuang kalian ke tempat terpencil ini. Dasar ******, jangan harap kamu bisa kembali. Aku jujur padamu, hal yang kulakukan sekarang sudah disetujui Perdana Menteri."
Seolah-olah dirinya benar-benar kaget melihat Su Yue, akhirnya Cui Cui membocorkan rahasia yang tidak pernah dibocorkannya sebelumnya.
__ADS_1