Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi

Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi
Bab 33 Memperingatkan Istri Paman Pertama (2)


__ADS_3

Di bawah bimbingan Xiao Lingdang, Su Yue berjalan ke pintu dapur. Dia melihat istri Paman Ketiga yang sedang memasukkan kayu bakar ke dalam kompor dengan posisi setengah berjongkok dengan susah payah karena takut anak dalam kandungannya tertekan.


Wajah istri Paman Ketiga memerah saat berusaha menyalakan api. Selain itu, di bawah bulu matanya yang panjang, tatapannya terlihat sedih sekali.


"Bu, Kakak Sepupu datang," kata Xiao Lingdang dengan penuh kegembiraan sambil menarik tangan Su Yue.


"Bibi Ketiga, aku Su Yue," kata Su Yue begitu melihat istri Paman Ketiga yang tertegun melihat dirinya.


"Yue'er, kamu Yue'er?" Istri Paman Ketiga menatapi Su Yue lama sekali. Setelah melihat tatapan Su Yue yang sangat familier, barulah dia yakin bahwa gadis ini Su Yue.


Istri Paman Ketiga bersusah payah untuk bangkit berdiri. Perutnya terlalu besar. Sementara itu, dia sudah ada dalam posisi setengah berjongkok dalam waktu yang terlalu lama, sehingga dalam sesaat dia tidak bisa berdiri. Karenanya, dia hanya menatapi Su Yue dengan penuh permohonan maaf sambil tersenyum.


Su Yue langsung berlari ke sisinya dan memapahnya untuk berdiri.


Istri Paman Ketiga menepuk tangan Su Yue, nada suaranya penuh dengan belas kasih, "Yue'er, selama beberapa tahun ini kamu sudah mengalami banyak penderitaan di desa. Kamu jadi kurus sekali, wajahmu juga pucat. Seingatku saat masih kecil rambutmu berwarna hitam legam. Sekarang kenapa malah jadi kuning sekali? Yue'er, sudah seberapa banyak penderitaan yang kamu lalui selama ini ...."


Istri Paman Ketiga menatapi Su Yue dengan penuh kasih. Dia menyentuh dan menepuk-nepuk tubuh Su Yue. Air matanya mengalir saat dirinya berbicara.


"Ah, Keluarga Gu telah membuatmu dan ibumu menderita." Tapi, Su Yue langsung menggeleng-geleng begitu melihat ekspresi istri Paman Ketiga yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Bibi Ketiga, jangan bilang begitu. Kita semua ini satu keluarga, jangan membuat kita terkesan jadi seperti bukan keluarga." Su Yue merasa ada sesuatu yang mengalir menuruni wajahnya. Dia kaget menyadari bahwa dirinya bercucuran air mata. Ini adalah pertama kali dirinya menangis semenjak terlahir kembali.


Begitu melihat ibu dan kakak sepupunya menangis, sepasang mata Xiao Lingdang yang besar juga jadi penuh air mata, lalu ikut menangis.


"Bagaimana kondisi Bibi Ketiga di sini?" Istri Paman Ketiga berbicara panjang lebar mengenai Su Yue dan ibunya, tapi dia sama sekali tidak mengeluhkan kehidupannya sekarang. Karena itu, Su Yue tidak bisa menahan diri untuk bertanya padanya.


"Aku dan Xiao Lingdang baik-baik saja. Kamu dan ibumu tidak perlu khawatir. Ke depannya jangan terlalu sering kemari. Jika Perdana Menteri tahu kamu kemari, kamu dan ibumu akan dihukum." Sang istri Paman Ketiga, yaitu Nyonya Luo, juga berasal dari keluarga besar. Jadi, dia tahu seluk-beluk permasalahan sebuah keluarga besar.


"Bibi Ketiga, Bibi Pertama menindasmu, 'kan?" Melihat istri Paman Ketiga yang tidak mengatakan apa pun, Su Yue terpaksa bertanya terus terang.

__ADS_1


"Ah, Yue'er. Jangan menjerumuskan orang seperti ini. Di keluarga besar ini, siapa lagi yang bisa menghasilkan uang selain Paman Pertamamu? Semuanya hanya tahu minta makan!"


Begitu Nyonya Chen masuk ke dapur, dia langsung mendengar suara dingin Su Yue yang bertanya pada Nyonya Luo apakah dirinya menindas Nyonya Luo. Karena itu, dirinya langsung menyangkalnya.


Begitu istri Paman Pertama masuk, istri Paman Ketiga langsung terdiam. Dia langsung membalikkan tubuh untuk memanaskan air. Tapi gerakannya dihentikan Su Yue.


"Baik, karena Bibi Pertama juga ada di sini, mari kita bicarakan baik-baik. Dengan perut sebesar ini, masyarakat biasa pun tahu bahwa orang yang akan melahirkan tidak boleh bekerja. Jika terjadi sesuatu, akan gawat jadinya. Kenapa Bibi malah menyuruh Bibi Ketiga memanaskan air?"


Selesai mengatakannya, Su Yue menarik tangan kecil Xiao Lingdang lagi. Nada suara Su Yue terdengar sakit hati, "Coba lihat. Dia itu hanya anak berusia 5 tahun. Kenapa tangannya bisa terkena radang dingin? Tanganmu yang mulus itu lumpuh atau cacat? Kenapa kamu menyuruh anak kecil mengerjakan pekerjaan rumah tangga?"


"Kamu ... kamu... ah..." Pertanyaan Su Yue banyak sekali, Nyonya Chen tidak tahu harus bagaimana menyangkalnya. Karena itu, Nyonya Chen langsung menangis tersedu-sedu sambil duduk di atas lantai. Sikapnya ini dipelajari dari janda yang tinggal di rumah sebelah.


"Yue... Yue'er, kami berdua baik-baik saja." Nyonya Luo khawatir masalah ini akan membesar, sehingga dia menarik tangan Su Yue sambil menggeleng ke arahnya.


"Bibi Ketiga, kalau Bibi tidak memikirkan diri sendiri, bisakah Bibi memikirkan Xiao Lingdang dan anak di dalam perut Bibi? Lihatlah, sikap Bibi yang lemah lembut membuat tangan Xiao Lingdang jadi seperti ini!"


"Kakak Sepupu jelek, jangan katai ibuku." Begitu Xiao Lingdang melihat Su Yue meneriaki ibunya, dia langsung berdiri ke depan Nyonya Luo. Dirinya bagaikan anak serigala yang berusaha melindungi ibunya sendiri.


"Bibi Ketiga! Lihatlah, Xiao Lingdang yang masih begitu kecil saja sudah berusaha melindungimu. Ibu dan anak memiliki ikatan batin. Memangnya Bibi rela Xiao Lingdang menderita?"


Mendengar kata-kata Su Yue, Nyonya Luo yang malah hanya bisa menangis sambil memeluk Xiao Lingdang.


"Xiao Lingdang, kamu tahu di mana Paman Pertama?"


Su Yue tahu, saat ini kakeknya sedang terbaring sakit. Sementara itu, neneknya buta karena terlalu sering menangis. Sebenarnya, masih ada kakak sepupu Su Yue di rumah kakek. Tapi begitu kakak sepupu itu baru datang ke rumah Keluarga Gu, Kakek yang berpendapat bahwa anak laki-laki Keluarga Gu harus bersekolah malah langsung mengirimnya ke luar kota untuk bersekolah bersama anak-anak miskin di sebuah sekolah swasta.


Sementara itu, paman terkecil Su Yue tahun ini baru berusia 8 tahun. Karena itu, tulang punggung keluarga ini hanyalah Paman Pertama seorang.


"Biasanya Paman Pertama keluar selama beberapa hari untuk mencari uang. Kali ini, entah Paman ada di mana. Paman sudah pergi selama beberapa hari." kata Xiao Lingdang malu-malu.

__ADS_1


"Istriku, saat masuk ke rumah, aku melihat ada sebuah kereta kuda di luar. Kata kusir, dia berasal dari Kediaman Su. Apa Yue'er datang?" Terdengar sebuah suara yang tenang dan nyaring dari luar pintu. Baru saja dia dibicarakan, Paman Pertama langsung datang.


Begitu Nyonya Chen mendengar suaminya pulang, tangisannya semakin kencang. Gu Pingzhi yang kaget langsung menerobos masuk ke dapur.


"Istriku, ada apa denganmu?" Seorang pria berusia paruh baya yang terlihat kuat berjalan masuk, lalu dia memapah Nyonya Chen yang sedang menangis tersedu-sedu dengan penuh perhatian.


"Dia hanya belajar meniru tingkah wanita desa yang kasar. Begitu dia kalah bicara, langsung menangis-nangis di lantai!" Terdengar suara nyaring seorang gadis yang berdiri di belakangnya.


Saat ini, barulah Gu Pingzhi menoleh dan menyadari keberadaan Su Yue. Melihat ekspresi Paman Pertamanya yang kebingungan, barulah Su Yue berkata, "Paman Pertama, aku Su Yue. Jadi, kejadiannya seperti ini."


Su Yue menjelaskan semua hal yang dilihatnya dengan detail. Sementara itu, Nyonya Chen sama sekali tidak menyangkal. Sepasang matanya malah melirik ke mana-mana, jelas sekali bahwa dia sedang gugup.


"Istriku, apa yang dikatakan Yue'er ini benar? Tapi bukankah setiap kali aku kembali, hubungan kalian semua baik sekali? Kamu bahkan bilang dirimu sakit hati sekali melihat tangan Xiao Lingdang yang terkena radang dingin, lalu kamu menyuruhku membawa obat radang dingin begitu kembali ke rumah, kamu...."


Gu Pingzhi tidak bodoh. Begitu melihat ekspresi Nyonya Chen, dia langsung tahu garis besar kejadiannya.


"Plak!" Gu Pingzhi menampar wajah Nyonya Chen keras-keras. "Begitukah sikapmu pada istri Adik Ketiga?" Gu Pingzhi teringat akan adik ketiganya yang mempertaruhkan nyawanya di area perbatasan demi Keluarga Gu.


Gu Pingzhi masih ingat kondisi saat Adik Ketiga menitipkan istri dan anak perempuannya padanya. Adik Ketiga yang biasanya hanya rela berlutut pada orang tua mereka, saat itu malah berlutut dan menyentuhkan kepalanya ke lantai pada Pingzhi. Sekarang, begitu melihat istri Adik Ketiga ditindas sampai seperti ini, Gu Pingzhi merasa sangat bersalah.


"Bagus sekali. Dasar orang yang tidak tahu diri. Kamu berani memukulku? Lihat saja ...."


Setelah dipukuli, Nyonya Chen malah ingin melawan suaminya.


"Paman Pertama, Nyonya Chen sama sekali tidak lemah lembut. Sebaiknya ceraikan saja dia." Kalimat Su Yue membuat Nyonya Chen berhenti melawan karena kaget.


Namun, dirinya langsung menjawab sambil tersenyum dingin,


"Menceraikanku? Di rumah ini banyak sekali orang yang harus dirawat. Kalau aku diceraikan, memangnya dia bisa pergi bekerja dengan tenang? Kalau aku diceraikan, memangnya ada wanita yang mau bersamanya dengan kondisinya seperti sekarang ini?"

__ADS_1


__ADS_2