
Di dalam rumah.
Ibu Pelayan Yun terbangun karena kelaparan. Saat dia pergi ke dapur, nyatanya hanya ada panci dan kompor yang kosong dan dingin. Belum ada yang membuat sarapan.
Matahari bahkan sudah berada tepat di atas kepala, kedua ibu dan anak itu malah masih bersenang-senang di kamar! Sialan, dasar dua ****** yang minta dipukul.' Alhasil Ibu Pelayan Yun bergegas dan mendobrak pintu dengan marah.
"Dasar dua ****** ini, sudah jam berapa sekarang, kenapa kalian ...."
Tengah berkata, Ibu Pelayan Yun teringat bahwa kedua ibu dan anak itu keluar untuk mencari uang. Saat mendengar dengkuran keras dari kamar Cui Cui, dia langsung menendang pintu kamar dengan berang.
Lalu dia mengangkat selimut dan membangunkan Cui Cui dengan tamparan.
"Dasar sialan, cepat buat sarapan! Betapa sialnya Keluarga Zhang sampai mendapatkan menantu malas sepertimu!"
Tamparan ini sontak membuat Cui Cui kliyengan.
"Ibu, bukankah si ****** itu yang bertugas memasak? Kenapa pagi-pagi emosimu sudah setinggi ini? Ibu bahkan memukulku." Cui Cui mengusap wajahnya yang sakit sambil bangkit untuk duduk di tempat tidur. Jelas sekali dia tidak ingin turun dari tempat tidur.
"Dasar pemalas, mereka berdua keluar untuk menghasilkan uang untuk kita. Apa kamu bisa menghasilkan uang? Kalau bisa, kamu boleh saja tidak masak!" Mendengar omelan Ibu Pelayan Yun yang tak kunjung henti, Zhang Dong mulai jengkel. Dia langsung menendang pantat Cui Cui sehingga Cui Cui jatuh tergeletak di lantai.
"Hei, sialan. Ketika kamu terbaring di tempat tidur dan tidak bisa bergerak, aku yang membantumu dalam segala hal. Begitu sembuh dan punya tenaga, kamu malah langsung menendangku?" Cui Cui bukan orang yang gampang diprovokasi. Dia langsung berdiri dan menjerit sembari menangis.
"Tidak usah berlagak di sini. Kalau kamu tidak mau memasak, percaya tidak kalau aku akan menceraikanmu?" Zhang Dong sama sekali tidak tergerak.
Cui Cui sangat ketakutan sehingga dia langsung berhenti menangis. Dia mengelap ingus di pantatnya, lalu keluar dengan enggan.
"Ibu, apakah orang di sebelah sudah keluar?" Sorot mata Zhang Dong tampak mesum. Begitu mendapat jawaban dari Ibu Pelayan Yun, dia langsung bergegas ke kamar sebelah tanpa mengenakan pakaian dan memorakporandakan seisi ruangan.
Namun, dia sepertinya tidak menemukan barang yang sedang dicarinya. Alhasil dia berbaring di selimut tempat Nyonya Gu tidur dengan ekspresi cabul, lalu menarik napas dalam-dalam. 'Wangi sekali! Dibandingkan dengan istrinya yang sering kentut di dalam selimut, Nyonya Gu ini sungguh bagaikan bidadari dari langit.'
__ADS_1
Melihat perilaku putranya yang tidak senonoh itu, Ibu Pelayan Yun sangat marah dan menamparnya beberapa kali.
Zhang Dong sama sekali tidak peduli. Dia mencium-cium selimut itu lagi sampai ****** di dalam tubuhnya meluap-luap.
"Ibu, bagaimana kalau kamu bantu aku lagi? Aku merasa tidak nyaman sekali gara-gara kemarin gagal menidurinya."
"Dasar bajingan! Apa kamu sudah melupakan penderitaanmu kemarin? Untungnya kamu diberkati para dewa sehingga bisa selamat." Memikirkan kemarin putranya hampir mati, Ibu Pelayan Yun masih takut.
"Aku tidak mau tahu. Kamu bisa lihat sendiri betapa kasarnya Cui Cui. Tidak ada satu pun bagian dari ujung rambut sampai ujung kakinya yang membuatku tertarik. Terlebih lagi, dia tidak bisa hamil. Kemarin Ibu yang memaksaku menikahinya. Jadi, Ibu harus bertanggung jawab atas kemalanganku sekarang."
Zhang Dong tahu ibunya amat kesal karena dia telah menikahi seekor ayam yang tidak bisa bertelur. Ibunya bahkan merasa sangat bersalah karena ini adalah idenya. Jadi setiap kali Zhang Dong kekurangan uang untuk melacur dan berjudi, dia selalu menggunakan cara ini untuk meminta uang dari ibunya dan selalu diberi pula.
Melihat wajah Ibu Pelayan Yun memuram. Zhang Dong melanjutkan perkataannya, "Aku tidak mau tahu. Aku anak kandungmu. Apa kamu tega melihatku sengsara menahan nafsu?"
Kata-kata 'sengsara menahan nafsu' didengarnya dari seorang pelajar miskin ketika berkunjung ke tempat pelacuran. Dia merasa kata-kata ini sangat bersastra, makanya dia pakai.
Setelah mendengar perkataan putranya yang bercampur nada lembut dan kasar, Ibu Pelayan Yun akhirnya setuju. Dia melepaskan jimat di lehernya dan menggantungkannya di leher Zhang Dong sembari bergumam, "Ini jimat yang aku minta, kamu pakai saja biar terlindungi dari bahaya. Kapan kamu akan beraksi?"
Setelah Zhang Dong keluar, Ibu Pelayan Yun memandangi seisi ruangan. Setelah melakukan pencarian kedua kalinya, dia masih tidak menemukan suatu barang berharga. 'Dasar miskin, apa benar mereka datang dari Kediaman Perdana Menteri? Puih!'
Pada saat ini, pasangan ibu dan anak masih sedang mencari-cari di gunung. Matahari musim dingin menyinari lereng bukit. Su Yue yang telah mencari sepanjang hari agak lelah. Alhasil dia memanggil ibunya untuk beristirahat sebentar.
Nyonya Gu sudah berjalan agak jauh dari Su Yue. Ketika dia mendengar panggilan putrinya, dia berhenti mencari dan perlahan melangkah ke arah putrinya.
Pada saat ini pula, embusan angin dingin bertiup sehingga rumput di samping terbuka-buka. Sudut mata Nyonya Gu tiba-tiba menemukan sesuatu yang berwarna putih di antara rerumputan itu.
Dia pun berhenti dan berjalan menuju rerumputan. Begitu dia menyingkirkan rumput itu, dia menemukan dua-tiga kuntum bunga putih berbentuk corong yang bermekaran di sana. Karena tidak terlindung dalam rerumputan, kelopaknya mulai bergetar diterpa angin dingin.
"Yue'er, coba kamu lihat apa ini?" Nyonya Gu tidak tahu seperti apa bunga kecubung itu, makanya dia buru-buru memanggil putrinya.
__ADS_1
Sebelum mendekat, Su Yue sudah melihat bunga putih kecil di samping ibunya itu. Bunga Itu jelas berbentuk corong, jadi sudah pasti itu adalah bunga kecubung! Dia amat kegirangan dan langsung bergegas ke arah ibunya. Lelah yang dirasakannya sebelumnya lekas lenyap tak berjejak.
"Ibu, ini bunga kecubung! Ibu beruntung sekali. Bunganya lebih beracun daripada daunnya." Sambil melihat Su Yue tersenyum cerah, Nyonya Gu memikirkan bahwa putrinya mau menggunakan bunga ini untuk meracuni ketiga orang di rumah.
Bagaimanapun juga dia adalah seorang wanita rumahan. Sembari melihat Su Yue memetik ketiga bunga putih itu dengan sangat hati-hati, dia bergumam sejenak dan akhirnya berkata, "Yue'er, apakah kamu benar-benar mau melakukannya?"
Su Yue menyadari keraguan dalam kata-kata ibunya. Bagaimanapun ibunya adalah nona bangsawan yang terdidik, jadi wajar saja dia akan ragu-ragu. "Ibu, aku tidak akan mencelakai orang-orang yang tidak pernah mencelakaiku. Apakah Ibu lupa apa yang dilakukan si Zhang Dong mesum itu pada Ibu sebelumnya?"
"Ibu, terus terang saja, sebelumnya si anjing mesum itu gagal menidurimu karena aku memberinya bubuk kepiting beracun. Siapa tahu dia cukup beruntung karena tidak sengaja memuntahkan semua yang dimakannya.
Begitu Nyonya Gu mengingat dirinya hampir diperkosa, rasa dingin menjalar dari telapak kaki ke sekujur tubuhnya. Dia menggigil di bawah sinar matahari yang hangat.
Su Yue memang sengaja mengingatkan ibunya tentang kejadian malam itu. Bukannya dia kejam, tapi dia merasa ibunya terlalu baik hati. Jika ibunya tidak bersikap lebih kejam, mereka bakal dicelakai orang lain begitu kembali ke Kediaman Perdana Menteri.
Dia tidak bisa selalu melindungi ibunya sepanjang waktu, jadi mulai sekarang dia harus mengajarkan ibunya cara menjadi kejam dan bagaimana cara membalas dendam.
"Ibu, kata maaf hanya diucapkan para pengecut. Ibu, aku ingin melindungi Ibu dan aku juga membutuhkan perlindungan Ibu." Su Yue bertatapan dengan ibunya sembari melontarkan sekata demi sekata yang tepat mengenai titik lemah di hati ibunya.
Benar, Yue'er membutuhkan perlindungannya ....
Namun, apakah benar bahwa kepengecutan dan ketidakmampuannya selama ini telah melindungi putrinya?
Sejak kecil, dia selalu diajari ayahnya untuk bersikap murah hati dan rendah hati. Bahkan ketika Perdana Menteri membawa pulang Nyonya Liu di saat dia sedang hamil sekalipun dia masih bersikap murah hati. Saat itu hatinya memang merasa masam dan getir, tapi ketika dia mendengar dari Perdana Menteri bahwa Nyonya Liu hidup kesusahan dengan membawa seorang anak, langsung tumbuh rasa iba di hatinya.
Bahkan setelah dibujuk ibunya sendiri pun dia tetap mengizinkan Perdana Menteri mengangkat Nyonya Liu sebagai selir. Sejak saat itu pula, suaminya tidak pernah datang ke kamarnya lagi hingga akhirnya dia dan anaknya diusir dari kediaman.
Melihat rambut dan wajah putrinya yang pucat akibat kekurangan gizi, hatinya seketika dibanjiri rasa iba.
Pada dasarnya dialah yang menyebabkan Yue'er hidup sengsara dengannya. Kepengecutannya telah mencelakai anaknya sendiri.
__ADS_1
Nyonya Gu berangsur-angsur menyadari semuanya.