
Setelah mengobrol sebentar dengan Su Yue, Bibi lekas-lekas pergi untuk membantu Su Yue memilih beberapa pelayan cakap.
Sementara Su Yue duduk di depan cermin. Dia tiba-tiba terpikir Xiao He, alhasil dia segera mengutus seseorang memanggil Xiao He.
Tak lama kemudian, seorang pelayan kurus dan kecil masuk. Sejak masuk, pelayan itu terus tertunduk seolah-olah dia sangat takut pada Su Yue.
Su Yue menatap gadis di hadapannya yang baginya sangat akrab, hati merasa sangat lembut. Pada pertemuan mereka yang pertama kalinya di kehidupan sebelumnya, pelayan ini juga bersikap seolah-olah sangat takut padanya. Apa pun yang dia katakan, pelayan ini hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
Su Yue tidak tahu alasan kenapa Xiao He takut padanya adalah karena saat dia dikirim ke Paviliun Pingyue, dia mendengar dari pelayan lama berkata dulunya nona kedua ini memiliki sifat yang sangat aneh dan sering memarahi serta memukuli pelayannya di Kediaman Perdana Menteri.
Orang-orang yang tinggal di Paviliun Pingyue pada pernah dipukul maupun dimarahinya. Sebagai bawahan, walau telah dipukul pun mereka tidak berani mengeluh. Apalagi kalau mereka kedapatan bergosip ataupun mengeluh, mereka bakal dipukuli lebih parah lagi.
Makanya ketika Xiao He tahu nona kedua menyuruhnya tinggal di Paviliun Pingyue, tapi malah tidak pernah memanggilnya, dia ketakutan hingga tidak bisa tidur nyenyak tadi malam.
Kekhawatiran Xiao He cukup masuk akal, karena pada kehidupan sebelumnya Su Yue memang sering memukul dan memarahinya.
"Hamba memberi hormat kepada Nona." Xiao He memberanikan dirinya untuk membuka topik pembicaraan karena Su Yue tidak berbicara sehingga ruangan terlalu sunyi sampai-sampai dia agak merinding.
Namun, dia masih saja tidak berani mengangkat kepalanya. Kalau dia angkat kepalanya, dia bakal langsung melihat Nona Kedua Su yang dikatakan bersifat seperti iblis itu sedang menatapnya erat-erat dengan mata hitam besar yang berkilauan.
Ketika Su Yue mendengar suara ketakutan Xiao He, dia baru menyadari pipinya telah dibasahi oleh air mata. Dia pun segera menyeka dengan tangan sembari berusaha menenangkan emosinya.
"Coba angkat kepalamu dulu. Siapa namamu?" Su Yue tahu namanya Xiao He, tapi dia harus berpura-pura tidak tahu.
"Nama hamba Xiao He. Hamba berusia 12 tahun." Mendengar nona kedua menyuruhnya mengangkat kepala, Xiao He pun menarik napas beberapa kali sebelum akhirnya memiliki keberanian yang cukup untuk mengangkat kepala.
Dia melihat seorang gadis yang tampak kurus kerempeng. Gadis tersebut mengenakan rompi biru muda dengan bordir bunga melati berwarna kuning pucat di lengannya. Hal yang paling mencolok adalah rambutnya yang kering. Selain mata hitam dan besar yang tampak berkilau itu, gadis di hadapannya ini sama sekali tidak terlihat anggun dan elegan seperti nona bangsawan biasanya.
__ADS_1
Entah kenapa Xiao He tiba-tiba merasa iba terhadap nona kedua di hadapannya ini. Dia merasa nona kedua ini pasti telah hidup menderita di pedesaan.
"Xiao He, apakah kamu merasa nyaman saat tinggal di Paviliun Pingyue?" Sebenarnya Su Yue sangat ingin bertanya apakah Xiao He menyesal karena telah mengorbankan hidup untuknya.
Namun, dia tidak berani menanyakannya. Dia takut setelah dia melontarkan pertanyaan itu, pelayan di depan mungkin akan mengira dia orang gila.
Begitu mendengar pertanyaan nona kedua yang penuh perhatian, hati Xiao Yue sontak melunak.
Dia lahir di pedesaan dan memiliki empat saudara. Lalu karena ayahnya tidak sanggup menghidupi semua anak, tiga tahun yang lalu dia dijual hingga akhirnya datang ke Kediaman Perdana Menteri.
Selama ini, dipukul dan diomel telah menjadi hal biasa. Makanya tumbuh sikap penakut dan waspada padanya. Dia juga selalu berusaha meminimalkan kemunculannya di depan orang-orang. Alhasil setiap kali dia merasa sangat lelah atau sedih, tidak ada seorang pun yang menanyakan kabarnya.
"Lapor pada Nona Kedua, Xiao He merasa sangat nyaman tinggal di Paviliun Pingyue." Jawabannya ini sangat jujur.
Tadi malam dia memang ketakutan untuk bertemu nona kedua, tapi tadi malam merupakan malam paling nyaman baginya sejak datang ke Kediaman Perdana Menteri selama tiga tahun. Tidak ada orang yang terus-menerus menyuruhnya membantu pekerjaan mereka hanya karena dia berusia paling kecil.
Sebelumnya ada seorang pelayan yang telah tinggal di kediaman selama sepuluh tahun. Dia ketahuan memerintahkan pelayan baru untuk bekerja, alhasil dia dipukuli habis-habisan dan akhirnya dijual.
"Baguslah kalau begitu. Bantu aku panggil Ibu Pelayan Hua kemari." Ibu Pelayan Hua adalah pelayan yang baru saja diutus kemari oleh nyonya besar kemarin. Nyonya besar mengatakan bahwa Su Yue boleh menginstruksikannya untuk melakukan apa saja.
Tak lama kemudian, seorang wanita tua dengan rambut beruban masuk. Meskipun dia tampak tua, rambutnya disisir dengan rapi dan matanya yang tajam seolah-olah dapat membaca isi hati orang.
"Nona kedua, Anda mencari hamba?" Begitu masuk, Ibu Pelayan Hua langsung membungkuk hormat pada Su Yue terlebih dahulu. Mata Su Yue menyipit. Wajar saja Ibu Pelayan Hua disukai tuan besar dan nyonya besar, dia kelihatan taat dan patuh.
"Bantu aku beresi kamar di sebelah kamarku supaya bisa ditinggali Xiao He."
"Selain itu, ke depannya kamu adalah pengurus di Paviliun Pingyue. Nanti Bibi akan membawa beberapa pelayan ke sini. Tolong bantu aku lihat pekerjaan apa yang cocok untuk masing-masing dari mereka. Lalu kamu bisa atur sendiri saja."
__ADS_1
Dari luar nyonya besar kelihatannya memang mengutus Ibu Pelayan Hua untuk melayani Su Yue, tapi sebenarnya Ibu Pelayan Hua adalah mata-matanya. Yah, Ibu Pelayan Hua memang sangat teliti dan cermat.
Dalam kehidupan sebelumnya, Su Yue terlalu bodoh. Setiap kali melihat Ibu Pelayan Hua bersikap ketat dan taat pada aturan, dia sangat tidak senang dan selalu mencari masalah dengannya. Makanya masalah-masalah kecil di Paviliun Pingyue sering diberitahukan pada nyonya besar, bahkan dibesar-besarkan. Alhasil dia pun tidak disukai nyonya besar.
Sekarang Su Yue menjadikan Ibu Pelayan Hua sebagai pengurus sama saja dengan memberi muka pada nyonya besar.
"Baik, Nona Kedua." Ibu Pelayan Hua juga amat cerdik. Ketika dia disuruh Su Yue memberesi kamar untuk pelayan baru, hatinya mulai bergumam, 'Kenapa Nona Kedua begitu perhatian pada seorang pelayan?'
Namun, dia cukup senang karena telah diangkat menjadi pengurus di Paviliun Pingyue.
Sebelum keluar, Ibu Pelayan Hua diam-diam melirik Su Yue semata. Pandangannya terhadap Su Yue agaknya berubah. Sebelumnya dia tidak menyangka gadis kecil yang lemah ini ternyata cukup pintar dalam mengelola masalah.
Saat itu, hujan tiba-tiba turun dan menerpa daun biwa di pekarangan menimbulkan suara seperti tepuk tangan.
"Xiao He, jika kamu tidak punya hal lain untuk dilakukan, kamu harus membereskan dulu agar kamu bisa tinggal di kamar sebelah malam ini." Ketika Pembantu Hua keluar, dia tidak menutup pintu karena dia melihat Xiao He berdiri di luar pintu. Melihat Xiao He masih berdiri dengan canggung di depan pintu, Su Yue menyuruhnya untuk mengurus pekerjaannya sendiri.
"Bagus, Nona Kedua." Xiao He mendengar dengan jelas bahwa Nona Kedua memerintahkan Ibu Pembantu Hua membersihkan ruang samping untuknya.
Biasanya para pelayan akan tidur bersama. Ranjang hangat berisi selusin orang. Makanya ketika hamba lama ingin istirahat, mereka suka menyuruh hamba baru bekerja agar tidak perlu tidur nyenyak.
Terkadang ketika Xiao He terbaring di tempat tidur dengan tubuh yang lelah, dia suka membayangkan betapa menyenangkannya jika dia bisa tidur sendirian di satu kamar. Kamarnya tidak perlu besar, asal bisa muat satu ranjang saja, dia sudah sangat puas.
Tak disangka, keinginannya ini dikabuli Nona Kedua yang dikatakan bersifat aneh oleh pelayan-pelayan lama. Ketika melihat Nona Kedua melihatnya dengan tatapan lembut lagi, Xiao He merasa orang-orang itu pasti sengaja mengatakan semua itu untuk menakuti dirinya yang tidak pernah bertemu Nona Kedua.
Memikirkan hal ini, Xiao He tidak lagi mengkhawatirkan dirinya akan dipukuli ataupun dimarahi Nona Kedua. Dia menjadi lebih santai dan merasa cukup senang untuk bisa melayani Nona Kedua!
Xiao He terburu-buru pergi sehingga lupa untuk menutup pintu. Melihat Xiao He perg, Su Yue berkata dalam hatinya, 'Xiao He benar-benar ceroboh, wajar saja jika di kehidupan sebelumnya dia sering menghukum dan memarahinya.
__ADS_1
Hujan di luar semakin deras. Saat Su Yue melihat hujan yang menetes dari atap, dia merasa seolah-olah dia telah melupakan sesuatu yang penting.