Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi

Mengubah Hidupnya Setelah Rainkarnasi
Bab 5 Bertindak (1)


__ADS_3

Malam hari, hujan deras sudah berhenti. Udara dipenuhi oleh aroma lumpur.


Dalam kegelapan, Su Yue membuka kedua matanya. Saat dia teringat tatapan menjijikkan Zhang Dong pada ibunya di sore tadi, dia pun berniat untuk membunuhnya.


Dia tidak akan membiarkan ibunya terluka di kehidupan ini.


Rumah ini tidak besar sehingga dia bisa samar-samar mendengar suara dengkuran Zhang Dong dan Cui Cui yang semakin lama semakin keras.


Melihat memang sudah waktunya, dia pelan-pelan berbalik dan bangkit dari kasur. Dia menyelimuti ibunya dengan selimut yang sudah usang.


Mungkin karena sudah kelelahan bekerja di pagi hari, sekarang ibunya tidur dengan sangat lelap.


Dia diam-diam membuka pintu kamar. 'Krek!' terdengar suara pintu terbuka. Suara pintu kayu terbuka di malam yang sunyi membuatnya terdiam. Dia menoleh dan memastikan tidak ada pergerakan sama sekali di kasur itu, barulah dia langsung berjalan keluar.


Dia berjalan ke luar pintu rumah. Dia ingat di belakang rumah ini ada sebuah aliran air kecil. Dulu ibunya sering datang kemari untuk diam-diam menangkap beberapa kepiting di bawah batu dan memasak kepiting itu untuknya.


Dia sampai di tepi aliran air. Mungkin karena turun hujan, aliran air yang kecil sudah menjadi sungai. Air sungai mengalir deras. Dengan tubuh Su Yue yang kecil, dia sama sekali tidak berani turun sehingga dia pulang dengan rasa kecewa.


Mungkin dua hari lagi akan membaik. Karena tidak bisa menangkap kepiting, dia pun pergi cari alat yang lain dulu. Jadi, dia berbalik pergi ke arah gunung.


Untung saja ada cahaya bulan sehingga dia tidak akan tersesat. Setelah menemukan batu yang sebesar telapak tangan orang dewasa, barulah dia kembali ke tepi sungai dengan rasa puas. Dia memanfaatkan suara air sungai yang mengalir deras untuk menutupi suara asahan batu yang dipungutnya. Air sungai sangat dingin sampai menusuk tulang, tapi tidak bisa mengalahkan rasa dingin yang ada di dalam hatinya.


Dia mengasah batu semalaman. Saat lapar, dia memakan roti yang diberikan ibunya. Roti yang keras membuat giginya terasa sakit. Namun, hal ini membuat Su Yue lebih bertekad lagi.


Dia mengangkat kepalanya untuk melihat langit. Saat dia merasa sudah cukup barulah dia berhenti.


Dengan hati-hati dia mengasah batu yang sudah terlihat seperti batu penumbuk. Dia ingin membuat batu ulek yang sederhana. Dapur di dalam rumah ada, tapi dia tidak berani pakai karena takut rencananya terbongkar.


Setelah menyelesaikan semua ini, dia menyembunyikan batu ulek di belakang rumah dan kembali berbaring di kamar dengan hati yang puas.

__ADS_1


Langit sudah mulai terang. Ibunya pelan-pelan bangkit karena takut membangunkan Su Yue. Pekerjaan rumah yang kasar masih menunggunya.


"Ibu." Sekarang hati Su Yue dipenuhi dengan rasa dendam. Dia tidak bisa tidur begitu nyenyak seperti dirinya di kehidupan yang lalu.


"Yue'er, tidurlah sebentar lagi." Mendengar putrinya memangil dirinya, dia merasa gerakannya terlalu besar sehingga dia berbalik untuk menenangkan putrinya dengan suara pelan.


"Aku tidak mau. Aku mau bantu Ibu bekerja," ucap Su Yue sambil dengan lincah memakai baju yang warnanya sudah luntur karena sering dicuci. Dia melompat turun dari kasur, lalu menarik tangan ibunya dan berjalan keluar.


"Yue'er ...." Putri yang ada di hadapannya sungguh sudah berubah, dia menjadi pengertian.


Saat Su Yue baru saja keluar dari pintu, dia langsung bertatapan dengan mata mesum Zhang Dong.


Zhang Dong baru kembali dari buang air kecil. Mendengar ada suara di kamar Su Yue, dia pun tahu Gu Qin'er sudah bangun sehingga dia bersandar di pintu untuk mengintip.


Hanya saja Su Yue terlalu cepat membuka pintu dan membuat Zhang Dong hampir terjatuh.


Saat Ibunya melihat Zhang Dong, tubuhnya sontak mundur selangkah dengan perasaan takut. Mengingat putrinya juga ada di sini, dia pun menarik putrinya lalu pergi dengan langkah cepat.


Hati Su Yue langsung tertekan dan merasa sedikit tidak tenang.


"Ibu, apakah Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin sudah hampir tiba?" tanya Su Yue dengan hati-hati tanpa menunjukkan emosi apa pun karena takut ibunya curiga.


"Masih ada lima hari sebelum Festival Titik Balik Matahari Musim Dingin. Yue'er sudah ingin makan pangsit, ya? Ibu akan cari cara untuk membuatnya." Gu Qin'er juga tidak berpikir banyak. Dia mengira putrinya hanya ingin makan pangsit saja.


Di saat ini udara dingin berhembus, ibu dan anak yang berpakaian tipis itu langsung gemetar kedinginan.


Masih tersisa lima hari lagi? Sepertinya dia harus bertindak lebih cepat lagi.


Ibunya sedang sibuk menyiapkan sarapan. Melihat Zhang Dong terus tidak masuk ke kamar, malah terus menatapi ibunya. Hati Su Yue diam-diam merasa sangat khawatir. Jangan-jangan pria berengsek ini sudah tidak tahan lagi.

__ADS_1


Otak Su Yue berputar dengan cepat. Dia tidak sengaja melihat air mendidih yang dimasak ibunya sedang meluap-luap, kemudian dia memikirkan sebuah ide di dalam hatinya.


Bersamaan dengan itu, di saat langit belum sepenuhnya terang, Zhang Dong diam-diam mendekati Gu Qin'er. Namun, Gu Qin'er membelakanginya sehingga tidak menyadari bahaya sedang menghampirinya.


Di saat dia bersiap untuk menyerbu, sebuah suara teriakan terdengar dalam rumah, "Tolong! Ada pencuri!" Sebuah ember yang berisi air panas langsung disiramkan pada Zhang Dong.


"Aahh!! Ibu!!!" Di detik berikutnya teriakan Zhang Dong meledakkan keheningan rumah.


"Nak! Nak, kenapa denganmu?" Mendengar teriakan anaknya, Ibu Pelayan Yun terhuyung-huyung berlari keluar dari kamarnya. Dia tidak sempat memakai baju lagi. Ibu Pelayan Yun hanya memakai pakaian tipis di hari yang dingin ini.


Dia melihat anaknya berbaring lemah di lantai sambil mengeluh kesakitan dengan tubuh yang mengeluarkan uap panas. Ibu Pelayan Yun baru menyadari anaknya tersiram air panas. Sedangkan ibu dan anak rendahan itu berdiri terpaku di samping, tangan Su Yue masih memegang ember kayu.


"Dasar ******! Kamu tidak punya kerjaan sampai menyirami anakku?!" Dada Ibu Pelayan Yun terasa sakit karena marah. Dia mengambil tongkat kayu di samping dan ingin memukul Su Yue.


Su Yue melihat Ibu Pelayan Yun datang ke arahnya, langsung melempar ember kayu dengan kuat ke lantai. Dia langsung duduk dan berguling-guling di lantai sambil menangis dengan keras. Dia menangis sambil berteriak, "Ibu Pelayan Yun! Ibu Pelayan Yun! Ada pencuri!" Gerakannya itu seakan dialah yang tersiram air panas.


Perbuatannya ini membuat Ibu Pelayan Yun kebingungan.


"Ibu, tolong aku! Tolong aku!" teriak Zhang Dong yang kembali menyadarkan Ibu Pelayan Yun.


"Buka mata jelekmu itu dan lihat dengan baik. Itu bukan pencuri! Dasar ******! Apakah matamu buta?" bentak Ibu Pelayan Yun sambil mengulurkan tangannya ingin menarik Su Yue.


Su Yue tidak akan berikan kesempatan pada Ibu Pelayan Yun untuk menyentuhnya. Jadi, dia langsung menghindar dan berdiri. Ibu Pelayan Yun melihat Zhang Dong bergetar kesakitan di lantai. Karena cuaca sangat dingin, air mendidih tadi sudah mulai beku. Bisa dibilang dia mengalami dua situasi yang sangat kontras hanya dalam waktu singkat ini.


"Ya ampun, aku sudah melakukan kesalahan! Langit masih belum terang, aku hanya melihat sebuah bayangan. Kukira itu adalah pencuri yang mau mencuri beras kita untuk merayakan festival," jelasnya tanpa memberi kesempatan pada Ibu Pelayan Yun untuk menyalahkannya. Dia langsung berlagak sangat ketakutan karena sudah melakukan kesalahan. Dia menangis sekeras-kerasnya sampai menutupi teriakan kesakitan Zhang Dong.


Sedangkan di posisi yang tidak terlihat orang lain, sudut bibirnya terangkat dan menunjukkan senyuman puas.


Ibu Pelayan Yun mengangkat tongkatnya, dia berpikir harus memukul Su Yue atau tidak. Dia ingin memukul, tapi Su Yue bilang dia mengira putranya adalah pencuri yang mau mencuri barang. Namun, jika tidak pukul, putranya sudah terluka parah.

__ADS_1


"Ibu, bisakah Ibu panggilkan tabib untukku dulu?" Saat ini Zhang Dong yang gemetar kedinginan memaksakan diri mengatakan kalimat ini. Tubuhnya yang terluka karena siraman air panas terasa perih seperti ada jutaan jarum menusuknya bersamaan.


"Kenapa ini? Pagi-pagi begini orang lain masih mau tidur. Untuk apa menangis? Bukankah ibumu yang ****** itu masih berdiri dengan baik di sisimu?" Saat ini Cui Cui baru buka pintu, tapi tidak menyadari suaminya yang berbaring di lantai.


__ADS_2