
Su Yue pada dasarnya memang sangat polos. Di kehidupan yang lalu, dia dengan lugu merasa ini hanyalah pelayan jahat yang menyiksa majikan. Setelah Ayah memukul mereka sampai mati, dia juga tidak berpikir banyak lagi.
Orang Kediaman Perdana Menteri yang dimaksud Cui Cui adalah ayahnya yang tidak menyukai dia dan ibunya atau Su Xin dan ibunya yang berhati kejam itu?
"Sedang apa kalian? Masih tidak pergi bekerja?" Di depan pintu berdiri seorang pria kurus yang dipenuhi bau alkohol.
Tatapannya yang mesum bagai ular berbisa tidak lepas dari dada ibunya. Orang ini adalah Zhang Dong, suaminya Cui Cui dan anaknya Ibu Pelayan Yun.
Di kehidupan yang lalu, dia masih belum dewasa sehingga tidak mengerti apa arti dari tatapan ini dan karena dirinya yang keras kepala sampai diam-diam lari keluar, barulah memberi Zhang Dong sebuah kesempatan.
"Kenapa hari ini kamu pulang untuk makan malam?" sambut Cui Cui dengan wajah tersenyum.
Su Yue tentu saja tahu kenapa dia kembali begitu cepat. Zhang Dong sudah pasti diusir orang karena ketahuan mencuri uang. Orang ini biasanya suka berjudi dan bermain wanita. Dia mempunyai banyak utang. Melihatnya membuat orang merasa sangat jijik.
Su Yue bergeser ke hadapan ibunya tanpa ekspresi untuk menutupi pandangan Zhang Dong yang menjijikkan itu.
Melihat Su Yue yang kurus kering, Zhang Dong langsung tidak bersemangat lagi. Lalu, dia langsung emosi begitu melihat pinggul Cui Cui yang besar, "Aku bisa pulang kapan pun yang kumau, apakah wanita rendahan sepertimu pantas mempertanyakan urusanku?"
Setelah Cui Cui dibentak suaminya, dia juga tidak punya tenaga seperti saat memukul Su Yue lagi.
Melihat Cui Cui tidak bicara. Kedua mata Zhang Dong itu melihat ke arah Su Yue.
Su Yue menundukkan kepalanya. Bulu matanya yang panjang menyembunyikan rasa benci yang meluap tinggi.
Ini adalah rumah leluhur ayahnya di kampung halaman. Kondisinya sudah sangat buruk karena sama sekali tidak terurus.
Hanya karena takut orang desa menyebutnya melupakan asal menjaga rumah ini.
Karena kakek dari ibunya difitnah orang melakukan korupsi, ayahnya langsung meminta Su Yue dan ibunya tinggal di rumah leluhur ini. Dengan alasan tidak ingin ibunya merasa sedih karena melihat kehancuran keluarga orang tuanya sehingga ayahnya meminta ibunya tinggal di kampung halaman untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Kenyataannya, ayahnya sangat ingin mengusir mereka pergi agar bisa hidup bahagia bersama Nyonya Liu.
Saat mereka baru tiba, Ibu Pelayan Yun dan keluarganya masih segan dan tidak berani lancang pada mereka.
Lalu, saat melihat Kediaman Perdana Menteri sudah sepenuhnya membuang mereka di sini dan tidak pernah mempertanyakan mereka lagi, bahkan tidak mengirim uang lagi setiap tahunnya. Alhasil mereka perlahan-lahan mulai tidak senang. Su Yue dan ibunya diminta melakukan semua pekerjaan yang melelahkan dan kotor.
Sebentar-sebentar kalau bukan dipukul maka dimarahi. Ibunya sangat lemah, ditambah lagi tinggal di tempat terpencil yang jauh dari jangkauan hukum. Hidup Su Yue dan ibunya semakin lama semakin menyedihkan.
Di kehidupannya yang lalu, dia sangat benci pada kelemahan ibunya. Dia selalu ingat di akhir musim dingin tahun itu, dia melampiaskan emosi pada ibunya dan berlari keluar.
Saat dirinya pulang dan baru masuk ke dalam rumah, dia sudah melihat Zhang Dong, Cui Cui serta Ibu Pelayan Yun berjalan keluar dari kamar ibunya sambil tersenyum.
Saat mereka melihatnya datang, mereka hanya berjalan pergi tanpa rasa panik.
Saat dia masuk ke kamar ibunya, dia melihat ibunya berbaring di kasur dengan putus asa.
Kemudian mental ibunya menjadi terkadang baik dan terkadang buruk setelah menerima pukulan besar itu.
Satu keluarga akan sama-sama terhormat. Ayahnya yang melihat adanya dukungan baru langsung teringat pada istri resmi yang sudah 'menenangkan diri' bertahun-tahun, kemudian menjemput Su Yue dan ibunya kembali.
Di saat itu, Su Yue terlalu dungu. Saat sedang berduaan dengan ayahnya, dia mengatakan semua derita yang dialami ibunya. Dia menceritakan semua yang ada di pikirannya, tentu saja termasuk ibunya yang dilecehkan dan kemudian menggila. Dia masih ingat saat itu ayahnya emosi dan langsung menghancurkan rak buku. Sejak saat itu, ayahnya memakai tatapan menghina setiap kali melihat ibunya.
Sekarang dipikir lagi baru tahu. Dibalik tatapan ayahnya itu tersembunyi niat membunuh dan orang yang ingin dia bunuh adalah ibunya. Bagaimanapun tidak ada pria yang bisa menerima istrinya dilecehkan. Walaupun itu terpaksa juga tidak bisa.
Ibunya seperti barang pribadi ayahnya. Dia bisa tidak mencintai, tapi tidak akan mengizinkan siapa pun menyentuhnya.
Setelah itu demi menutupi mulut orang-orang, ayahnya membunuh semua orang di rumah kampung itu. Beberapa hari kemudian, tetangga di samping rumah juga tiba-tiba mati.
Melihat dua orang itu pergi, kedua mata Su Yue pelan-pelan cerah kembali.
__ADS_1
"Ibu, pakaian Ibu sudah basah. Kupanaskan air untuk Ibu mandi, jangan sampai masuk angin," katanya sambil menepuk punggung ibunya dengan lembut.
Ibunya tercengang. Putri di hadapannya ini tidak pernah memperlakukannya begitu lembut. Sejak putrinya lahir, Nyonya Liu memperlakukannya dengan sangat baik. Sejak kecil sampai besar, apa pun yang putrinya inginkan, Nyonya Liu akan mengabulkannya. Kalau putrinya tidak ingin belajar, maka Nyonya Liu akan membujuk Tuan Besar untuk mengizinkannya.
Pelayan di Kediaman Perdana Menteri pun berkata Nyonya Liu lebih terlihat seperti ibu Nona Kedua daripada ibu kandungnya sendiri. Namun, karena tindakan memanjakan seperti inilah yang membuat sifat putrinya berubah menjadi sangat arogan dan keras kepala.
Selama 5 tahun berada di rumah ini, putrinya selalu saja mengeluh tentang dirinya yang tidak berguna, lemah bahkan tidak pantas menjadi ibunya. Putrinya sering mengungkit kebaikan Nyonya Liu padanya, sedangkan dia hanya bisa mengerahkan seluruh tenaga agar putrinya bisa hidup lebih nyaman di rumah yang kotor dan sempit ini.
Perhatian yang datang tiba-tiba dari putrinya membuat hidungnya terasa perih dan air matanya yang sebesar kacang jatuh tanpa henti.
Selama ini pekerjaan kasar yang tiada habisnya dan putrinya yang sering membentaknya pun tidak pernah membuatnya menangis.
"Ibu, Ibu jangan menangis. Dulu aku yang salah. Aku yang dungu, aku yang tidak patuh." Melihat ibunya menangis, Su Yue juga ikut menahan tangis.
"Apa yang kalian tangisi? Apakah ada keluarga kalian yang meninggal? Jangan mengumpulkan aura tidak baik di sini. Cepat datang bakar kayu," desak Cui Cui yang sedang sibuk memasak di dapur.
Ibunya menghentikan tangisannya dan mengelap pelan air mata Su Yue dengan ujung lengan bajunya. "Ibu pergi bakar kayu dulu. Yue'er tidak perlu khawatirkan Ibu. Sebentar lagi baju Ibu akan kering."
Begitu kata-kata ini diucapkan, dia diam-diam memasukkan setengah potong roti yang sudah keras ke pelukan Su Yue dan berjalan ke dapur.
"Dasar wanita ****** yang hanya bisa berlagak lemah lembut untuk menggoda orang. Jangan macam-macam denganku." Terdengar suara marah yang sangat menghina dari dapur. Ibunya tidak merasakan apa-apa lagi karena sudah sering mendengarnya. Dia hanya terus berulang kali memasukkan kayu bakar.
Roti yang ada di pelukannya masih ada kehangatan ibunya, hati Su Yue yang dipenuhi rasa dendam bergetar perlahan-lahan.
Di kehidupan yang lalu, ibunya juga sering diam-diam memberinya makanan yang sengaja disisakan karena takut dirinya tidak kenyang. Sayangnya dia sama sekali tidak menghargai niat baik ibunya saat itu.
Makan malam sudah siap. Hanya bubur putih biasa yang ditambah dengan beberapa roti dan semangkok sayur asin yang diasinkan sendiri.
"Apa yang kamu lihat? Cepat pergi bekerja. Setelah kami selesai makan, baru kamu boleh makan. Pergi sana," usir Ibu Pelayan Yun dengan mata segitiganya yang terlihat jelas sedang menghina mereka. Lalu, terdengar suara sendok yang beradu dengan mangkok.
__ADS_1
"Benar, awalnya mengira Nyonya Besar dan Nona dari Kediaman Perdana Menteri bisa memberikan kita uang lebih. Siapa sangka Kediaman Perdana Menteri bahkan tidak kirim sedikit pun uang kemari. Sebaliknya minta kita yang menghidupi dua manusia rendahan ini," keluh Cui Cui yang ikut menimpali.
Tiga orang itu menyelesaikan makan malamnya sambil marah-marah. Saat giliran Su Yue dan ibunya makan, di kuali hanya tersisa beberapa butir nasi yang terapung dalam sup.