
TRING TRING TRING
Bel tanda waktu istirahat baru saja berbunyi. Siswa-siswi bersorak riang dan langsung berhamburan dari kelas masing masing, membebaskan diri dari penjara yang berkendok kelas.
Mustika langsung menghampiri Gerald, saat melihat Gerald bangkit dari duduknya. Gerald mengangkat sebelah alisnya dan sedikit menunduk, menatap Mustika yang tubuhnya lebih pendek 10 cm dari tinggi badannya.
"Gerald, kamu tau alasan Zeli gak masuk?" Tanya Mustika saat berada didepan Gerald.
"Katanya sih ada acara keluarga, jadi gak masuk. Kenapa emang?" Jawab Gerald yang diakhiri pertanyaan.
"Ohh, gapapa. Nanya aja, soalnya Zeli jarang ijin kayak gini." Ucap gadis itu sambil tersenyum manis.
"Oh." Gerald hanya ber'oh'ria dan mengangguk canggung. "Kekantin?" Tanya Gerald sambil melirik Mustika.
"Ehh, gak deh. Aku biasa bawa bekal kok." Jawab Mustika dengan ramah.
"Yaudah, gw ngantin dulu."
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
3 bulan kemudian, Zelisia sudah menyusun rencana untuk kehidupannya kedepan, bahkan dia sudah membuat catatan untuk dirinya sendiri, sekaligus dia mencari cara agar dia bisa kembali ke dunia asalnya.
Seperti biasa, Zelisia akan pergi berkerja sepulang sekolah. Saat ini juga, Zelisia telah bersiap dengan stelan pria, yang biasa dia gunakan untuk berkerja.
"Mangat Zel." Ucap Zelisia menyemangati diri sendiri kemudian meninggalkan area mansion besar itu menggunakan sepedanya menuju caffe, tempat kerjanya.
Tak butuh waktu lama, Zelisia sudah sampai di tempat tujuannya. Dia langsung memarkirkan sepedanya di taman depan caffe itu.
Tatapan Zelisia langsung tertuju pada pintu depan caffe itu "WTF?!" Umpat Zelisia ketika melihat deretan pelanggan yang sudah mengerumuni caffe itu.
__ADS_1
"Hadehhh, emang kalau orang ganteng terkenal, brabe gini yah?!" Ucap Zelisia sambil menyugar rambutnya dengan tingkat kepercayaan diri yang teramat tinggi.
Zelisia berjalan perlahan kebelakang caffe, dan masuk lewat pintu belakang. Beruntung tidak ada yang melihatnya, jadi bisa sampai dengan selamat dan aman. "Syukur, gw aman." Ucap Zelisia mengelus dadanya lega.
"Wkwk, kayak maling aja lo Ka."Tawa seorang gadis yang melihat Zelisia baru datang melalui pintu belakang.
"Dih, gw bukan maling. Gw nih orang ganteng yang lagi menghidari para fans." Jawab Zelisia dengan percaya dirnya (Emang bener sih).
"Ysj." Gadis itu hanya mengiyakan kenarsisan Zelisia. Dia terlalu malas untuk menanggapi kenarsisan Zelisia yang menurutnya tidak penting baginya (sekalipun benar).
Zelisia langsung mengganti pakaiannya dengan seragam yang sudah disediakan, kemudian pergi ke meja panjang yang sedikit melengkung kedalam, yang berada paling depan dari dapur caffe, yang mudah di jangkau oleh pelanggan. Disana sudah ada para pelanggan wanita yang menjadi penggemar Zelisia (Shaka).
Zelisia langsung mengeluarkan buku hitam yang cukup tebal dari laci meja, kemudian menanyakan pesanan para pelanggannya dan mencatatnya.
2 jam kemudian caffe itu perlahan mulai sepi, tapi ada beberapa pelanggan yang baru datang ke caffe itu. Seperti saat ini, seorang gadis sudah duduk didepan meja Zelisia, dan terlihat sedang berbicang dengan Zelisia.
"Shaka." Panggil gadis itu sambil menatap Zelisia yang tengah asik memindahkan kue kering pesanannya kedalam piring.
"Apakah rumahmu diarea kompleks ini? Aku sering melihatmu menggunakan sepeda?!" Tanya gadis sambil menatap Zelisia lekat.
'Anj*rrr, akhirnya pertanyaan ini datang juga?! G*la sih, kudu buat skenario gw?! Janfan sampai ada yang tau kalau gw Zelisia.' Batin Zelisia yang sedikit panik, tapi berusaha tidak menunjuknya. 'Oh, gw tau?!' Batin Zelisia kemudian menarik napasnya dalam.
"Yah, aku tinggal di daerah sini, tapi itu bukan rumahku." Jawab Zelisia dengan santai.
"Oh, kamu tinggal dengan kerabat mu?" Tanya gadis itu lagi menebak.
"Hm, tidak. Aku tidak memiliki rumah ataupun kerabat disini."
"Oh, lalu?"
"Ibuku seorang ART di salah satu rumah yang tidak jauh dari sini. Jadi aku tinggal bersama ibuku di rumah majikan ibu."
__ADS_1
"O...oh. Lalu ayahmu?"
"Ayahku sudah tidak ada. Aku juga tidak tau apa yang terjadi."
"Oh, sorry. Aku terlalu banyak bertanya." Ucap gadis itu merasa bersalah.
"Haha, itu bukan masalah. Kehidupan ini hanya permainan Tuhan, dan kita adalah sebuah tokoh didalam sebuah cerita fiksi yang di tulis, dengan skenario yang kita juga tidak tau ini akan membawa kita kearah kemana, yang pasti, kita hanya perlu mengikuti alur yang sudah ada, atau bisa juga, kita membuat perubahan kecil hanya dengan beberapa trik, asal kita lebih lebih pintar, dan benar benar mau mengubah takdir buruk yang sedang menunggu kita. Segalanya bisa berubah hanya dengan sebuah tekad." Ucap Zelisia dengan senyuman penuh arti diarahkan kepada gadis itu.
"Wahhh, itu kata kata yang bagus. Tapi aku tidak mengerti, kita mengikuti alur, tapi mengubah takdir. Bukankah jika alurnya sudah ada, dan kedepannya sudah jelas seperti apa, lalu untuk apa lagi mengubah takdir? Bukankah itu sesuatu yang sia sia, jika alur tetap berlanjut? Sekalipun seseorang ingin mengubah takdirnya, bukankah yang berubah hanya nasibnya? Lalu bagaimana dengan takdir yang lainnya?" Tanya gadis itu.
(Hadehhh bosen gw 'gadis itu' mulu. Dahh, itu cewek si pemeran utama novel yang dunianya di masuki sama Zelisia. Perkenalannya udah ada di BAB 7 Gara Gara Bully, namanya Elisa).
"Yah, itu memang benar. Tapi apa pernah kamu membaca sebuah cerita, atau menonton sebuah film yang memiliki plot cerita dengan beberapa tokoh di dalamnya?" Tanya Zelisia dan mendapat anggukan ringan dari Elisa.
"Nahh, sebenarnya ada cara untuk satu orang bisa mengubah takdir banyak orang. Tapi itu tergantung apakah orang itu ingin atau tidak. Seseorang yang sangat penting, aku yakin kamu paham apa maksudku. Baiklah, ini pesananmu sudah jadi." Ucap Zelisia sambil menepuk ringan puncak Elisa kemudian menyerahkan pesanannya.
"Apa maksudmu dengan aku paham?" Tanya Elisa yang cukup bingung dengan beberapa ucapan pria di depannya.
"Hahaha, ini hanya omong kosongku gadis manis. Tidak perlu di anggap penting setiap ucapanku." Ucap Zelisia sambil tertawa garing, sepertinya dia berbicara terlalu banyak.
"Aku tau, ucapanmu lebih terdengar seperti omong kosong, tapi aku cukup tau, setiap ucapanmu selalu memiliki makna, dan aku penasaran sekarang. Aku yakin, kamu tidak akan keberatan jika memberitahuku sesuatu yang hanya omong kosong." Ucap Elisa sambil tersenyum manis pada Zelisia.
"Cihhh, dasar gadis licik." Cibir Zelisia ketika tidak bisa beradu argument dengan Elisa. 'Pantas saja dia menjadi seorang tokoh utama, dia memang sangat licik.' Batin Zelisia.
"Jika kamu penasaran, kamu bisa membaca cerita, atau nonton saja jika memang tidak suka membaca. Sekalipun hanya membaca sebuah cerita, tapi ada banyak pelajaran penting yang bisa di petik dari sana, dan kamu akan paham, bahwa takdir itu tidak benar benar ada. Karena yang bisa menentukan masa depanmu, hanya dirimu sendiri, dan Tuhan yang tau." Ucap Zelisia yang tidak ingin berbicara banyak.
"Hahh, dasar. Kamu sama sekali tidak memberikan jawaban yang kuinginkan." Ucap Elisa yang kesal dengan Zelisia.
"Jangan memaksa sesuatu untuk sebuah keinginan, keinginan itu tidak harus terpenuhi. Tuhan hanya akan memberikan sesuatu yang kau butuhkan, jadi jangan serakah hanya untuk sebuah keinginan yang sebenarnya tidak kamu perlukan." Ucap Zelisia membuat Elisa semakin menekuk wajahnya. Dia langsung mengambil pesanannya dan pergi ke meja bundar yang sudah di tempati teman temannya.
"Huftt, akhirnya pergi juga." Gumam Zelisia mengelus dadanya lega.
__ADS_1