Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi

Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi
BAB 20 Zelisia & Gerald Kayak Kembar


__ADS_3

"lo ada masalah Zel?" Tanya Gerald setelah mendudukkan dirinya di samping Zelisia yang saat itu sedang duduk termenung di bawah pohon ditaman belakang sekolah.


"Masalah apa emang?" Tanya Zelisia balik.


Gerald merotasikan biji matanya ketika tidak mendapat jawab, tetapi malah mendapat pertanyaan balik darinya. Dia jelas bertanya untuk mendapatkan jawaban, bukan pertanyaan lagi.


"Gw tanya, lo ada masalah apa Zel, sampai bikin si Delia bonyok gitu?" Tanya Gerald lagi.


"Ga ada sih, gw cuma gabut." Ucap Zelisia dengan santai, tapi Gerald masih tidak percaya. Jelas jelas tadi Zelisia terlihat begitu marah.


"Gak mungkin, orang lo tadi kelihatan bet lagi marah."


"Ya, gw kesal aja si Delia nyambung mulu kalau gw ngomong. Udah kayak ekor beruang yang udah putus, tapi di sambung mulu." Ucap Zelisia memberikan alasan yang cukup anah.


Hanya karena itu?! Helo, Gerald bukan orang yang baru mengenal Zelisia beberapa jam yang lalu, okay.


Gerald memilih untuk diam, dan tidak banyak bertanya lagi, toh Zelisia sudah pasti tidak akan mengatakan apapun padanya, kecuali alasan alasan yang tidak masuk akal itu.


"Btw, sekarang jam berapa?" Tanya Zelisia, dia tidak membawa poselnya, karena ponselnya ada di dalam tas, dan tasnya ia tinggalkan di dalam kelas.


"Jam 8 lewat." Ucap Gerald dengan santai.


"Hah?!" Ucap Zelisia mencerna.


"APA?! ANJ*RRR, NIH HARI ULANG MTK JAM PERTAMA WOI?!" Teriak Zelisia yang langsung berdiri.


Gerald terlonjak kaget karena teriakan Zelisia yang tiba tiba. "Anj*rrr." Umpat Gerald. "Ehh, lu bilang apa tadi?! Ulang Mtk?" Tanya Gerald memastikan.

__ADS_1


"Iya anj*rrr." Ucap seleksi yang langsung berlari kekelasnya. 'Mati sudah.' Pikir Zelisia.


Gerald berlari mengikuti langkah Zelisia. Dia juga bisa lupa kalau hari ini ada ulangan, beruntung tadi malam dia sempat membaca beberapa bagian catatannya saat mengecek apa ada tugas.


Gerald menyesal karena sudah membuang buang waktunya dengan mencari Zelisia tadi, harusnya dia duduk diam di kelas dan belajar. 'Ahhh, b*go bet.' Umpat Gerald dalam hati.


Hanya butuh 5 menit, mereka sudah sampai di depan kelas mereka. Mereka berdiri disana sebentar untuk menetralkan nafas mereka, kemudian membuka pintu kelas.


Mereka melihat didepan kelas, tidak ada guru, hanya ada kericuhan dari siswa siswi yang ada di kelas. "Huft~" Mereka menghela nafas lega, mereka kira mereka sudah terlambat, ternyata gurunya belum datang.


Keduanya langsung duduk di tempat mereka masing masing, dan mengeluarkan catatan matematika mereka. (Anak teladan😌).


Mustika yang melihat keduanya begitu kompak hanya terkekeh ringan. Ini sungguh pemandangan yang jarang di lihat ok. Gerald dan Zelisia sudah seperti anak kembar, bahkan gerakan mereka hampir sama saat mulai mengobrak abrik tas mereka dan mengeluarkan buku catatan mereka.


Bukan hanya Mustika, seisi kelas itupun ikut cengo. 'Wow, ada apa dengan hari ini?' Pikir mereka menatap keduanya secara bergantian.


Sedangkan kedua orang yang menjadi menjadi objek satu kelas itu, pikiran mereka sudah tenggeam di catatan matematika mereka, bahkan mereka tidak menyadari bahwa mereka sedang di gosipkan.


"Mereka kenapa?" Tanya Lucas yang bingung, lantara perkiraannya salah besar. Tadinya dia sudah menebak sejak kedua orang itu membuka pintu, dia akan menonton Tom and Jerry versi dua kaki seperti biasanya. Tapi kali ini, ramalannya melenceng jauh, bahkan tidak mendekati sama sekali.


"Hm, gak tau." Ucap Mustika menghendikkan bahunya tidak tau.


"Zel, oi?!" Panggil Lucas, tapi tidak di tanggapi sama sekali. Lucas memanyunkan bibirnya, sambil keduanya tangannya terlipat didepan dada. Okay, ini bukan pertama kalinya dia diacuhkan oleh Zelisia, tapi ini untuk kesekian kalinya.


Sejak awal, Lucas sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Zelisia, karena menurutnya, semua mahkluk yang berjenis kelamin perempuan itu, sama saja. Tidak ada yang menarik sama sekali, di goda sedikit, pasti sudah melayang, bukan kepalang.


Tapi setelah beberapa bulan ini selalu di abaikan oleh Zelisia, dia mulai merasa tertantang. Ayolah, seorang Lucas yang begitu terkenal karena kekayaan dan ketampanannya itu, tidak mungkin tidak bisa menaklukkan seorang gadis seperti Zelisia. Itu akan merusak citra playboynya itu.

__ADS_1


"Kenapa lu Cas?" Tanya Andrean saat melihat Lucas yang menatap punggung Zelisia sengit. Bahkan Zelisia yang ditatappun sampai merinding, tapi tetap saja, fokusnya itu ada dibuku yang menjadi objeknya sejak masuk kelas.


"Gak ada." Jawab Lucas singkat, sambil melepas punggungnya untuk bersandar disandaran kursi, sambil memejamkan matanya sebentar.


"Wahh, jangan bilang lo suka yah, sama si Zeli?" Tebak Andrean sambil menaik turunkan alisnya.


Mendengar itu, Lucas langsung menatap Andrean tajam, biji mata Lucas seperti akan keluar dari tempat. "Mohon maaf, cewek idaman gw tuh Lisa belekping, bukan badut jalanan." Bantah Lucas yang hanya ditanggapi tawa garing dari sahabatnya itu.


"Hah, perasaan Lisa belekping tepos dah. Baru tau gw, kalau selera lo, sapu lidi, bukan gitar spanyol." Ucap Andrean dengan ekspresi yang mengesalkan, menurut Lucas.


"Hah, nih m*nyet di depan gitar spanyol? Mata lo minus? Body gak ada isi gitu, jangan bandingin sama gitar spanyol." Ucap Lucas sambil menunjuk Zelisia menggunakan ekor matanya.


"Lah, kapan gw bilang body Zeli kayak gitar spanyol?" Ucap Andrean dengan nada bertanya.


Lucas hanya diam dan tak menanggapi ocehan Andrean.


"Cas, gw mau ajak lo taruhan. Berani gak?!" Tawar Andrean yang berhasil membuat Lucas tertarik dengan topik yang diangkat Andrean. Hoho, Lucas selalu suka taruhan, apalagi jika hadiahnya sangat menguntungkan.


Andrean tersenyum miring, kemudian mulai membisikkan sesuatu pada Lucas.


Lucas yang mendengar itu sempat kaget, tapi dengan cepat dia menetralkan ekspresinya, dan membalas dengan tersenyum miring juga. "Siapa takut..." Ucap Lucas menjeda sebentar. "Apa yang dijadiin taruhannya?" Tanya Lucas, intinya dia harus untung, bukan rugi.


Lagi lagi Andrean tersenyum miring, ahh, dia sangat suka membuat Lucas mendapat kesenangan sesaat. Andrean adalah ciri ciri orang yang sangat licik, bahkan jika itu sahabatnya, ia sama sekali tidak peduli.


"Mobil lama yang di kasih El pas markas berhasil di bangun, dua unit apartemen hadiah dari opa yang ada di Australia, dengan hotel dan rumah sakit yang ada di London, gimana?" Ucap Andrean dengan santai memasukan tangannya kedalam sakunya.


Mendengar itu, Lucas menganga tidak percaya. "G*la, yakin lo?!" Tanya Lucas tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

__ADS_1


"Yakin, tapi dengan syarat, lo harus..." Ucap Andrean menjeda sebentar.


Aulah, gw ngelag 🗿


__ADS_2