Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi

Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi
BAB 11. Lebih Enak Hidup Sendiri


__ADS_3

✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Zelisia langsung masuk kearea mansionnya, dan memarkirkan sepedanya di bawah pohon. Zelisia langsung memasuki mansion besar itu, sedikit memijat pangkal hidungnya, menghilangkan rasa lelah yang menyerangnya. "Capek bet, pen langsung tidur, tapi gw laper." Gumam Zelisia mengusap wajahnya.


"Sia baru pulang sekolah?" Suara seorang wanita membuat Zelisia langsung menatap asal suara itu.


"Gak. Abis main sama temen." Jawab Zelisia menatap mamanya yang sedang duduk di depan TV.


"Teman yang mana?"


"Temen sekolah mah."


"Dari keluarga mana? Cewek apa cowok?"


"Ma." Zelisia menatap mamanya dengan pandangan yang lesu, jujur aja, dia capek bet, tapi malah diintrogasi. Emangnya salah kalau dia keluar rumah? Kalau salah, ini rumah gede, bedanya sama penjara apa? Paling bedanya lebih mewah dari penjara.


"Ma, mending mama diem. Aku gak ada mood buat ladenin mam." Ucap Zelisia langsung berjalan kearah lift, dan langsung menuju kekamarnya.


BRUKHHH


Zelisia langsung melepas tubuhnya keatas kasur king size itu "Tau gini, gw gak balik tadi. Hahh, bikin pusing aja." Gumam Zelisia "Ternyata gini yah rasanya punya keluarga. B*go bet dulu gw nunggu nunggu keluarga gw cari gw, ternyata lebih enak gw hidup sendiri." Gumam Zelisia menatap langit langit kamarnya.


KRRRUUUKKKKKK


"Laper bet gw." Gumam Zelisia sambil kedua tangannya memegang perutnya yang sudah berbunyi "Ini kenapa gw jadi gampang laper yah? Aulah, intinya gw makan dulu." Ucap Zelisia yang langsung bangkit dari posisi tidurnya, dan berjalan keluar dari kamarnya.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Saat ini Zelisia sedang berkutat dengan alat alat dapur, dia sedang memasak sesuatu, entah apa itu, dia juga tidak peduli, yang penting bisa di makan "Aromanya g*la sih. Nih cacing cacing perut gw makin ngamuk?!" Gumam Zelisia yang senantiasa mengaduk aduk masakannya agar tidak gosong.

__ADS_1


5 menit kemudian, masakan Zelisia sudah siap di santap. Dia langsung menyimpan piring yang sudah ada nasi serta lauk disana keatas nampan, serta segelas air putih "Hmmm, wangi bet?!" Gumam Zelisia menghirup dalam aroma makanannya.


Dia langsung membawa makanannya kedalam kamarnya, dan menyantapnya di sana. Saat sudah berada didepan kamar salah satu saudaranya, seseorang tiba tiba membuka pintu kamar itu, dan itu cukup membuat Zelisia syok. Beruntung dia tetap seimbang dan tidak melepas makanannya, hanya saja, air dari dalam gelas itu masuk kedalam makanannya.


"Ck, s*alan emang. Makanan gw." Gumam Zelisia menatap makanannya dengan sedih, pasti rasanya udah aneh.


"Ehhh, sorry Si... Zel. Gw gak maksud." Ucap Alvaro merasa bersalah. Niatnya dia mau ngambil cemilan dari dapur, eh pas baru buka pintu kamar, malah bikin Zelisia kaget.


Zelisia hanya melirik pria itu, kemudian langsung memasuki kamarnya dengan nampan itu. Terpaksa dia memakan makanan itu, sekalipun rasanya mungkin sedikit aneh, dan basah, tapi yang penting perutnya terisi lebih dulu.


Alvaro menatap punggung gadis yang sudah dia anggap adiknya itu. Dia sudah berusaha untuk tidak peduli dan tidak menghiraukan gadis itu, tetapi selalu gagal, karena mereka tinggal di tempat yang sama. Sulit untuk tidak memiliki interaksi. Alvaro cukup sadar dengan posisinya yang sama sekali tidak di inginkan keberadaannya oleh adik angkatnya.


"Siapa tuh? Cecan oi?!" Ucap salah satu teman Alvaro yang keluar dari kamarnya.


"Pacar lo udah banyak. Adek gw gak cocok sama buaya cap kadal kayak lo?!" Ucap Alvaro sambil mendorong wajah temannya itu masuk dalam kamar.


"Anj*rrr. Parah lu Al?!" Ucap pria itu yang sebenarnya penasaran dengan wajah Zelisia, tapi teman l*kn*tnya ini malah mendorong wajahnya masuk kekamar, hingga tidak bisa melihat wajah Zelisia.


Alvaro hanya menatap datar temannya itu, kemudian pergi dari sana, dan mengambil camilan.


"Dih, apaan sih. Songong amat tuh anak?!" Ucap pria itu menatap Alvaro yang berjalan menjauh.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


"Ahhh, kenyang akhirnya." Gumam Zelisia mengelus perutnya yang sudah terasa penuh.


Zelisia langsung membereskan bekas makannya, dan langsung berjalan kedapur. Langsung saja dia membersihkan tempat makannya, sekalian dengan tumpukan tempat kotor yang sudah di tumpuk di sana. Sepertinya keberadaan para pelayannya di mansion ini sangat tidak berguna.


"Lohh, Sia? Bibinya kemana? Kok jadi kamu yang nyuci?" Ucap seorang pria yang baru datang.

__ADS_1


"Gak tau pa. Mungkin lagi keluar." Ucap Zelisia sambil melirik papanya yang baru pulang kerja.


"Ohhh, mama kamu dimana?"


"Mungkin dikamar."


"Yaudah. Papa kekamar dulu. Nanti malam kamu ikut makan malam yah."


"Aku udah kenyang. Baru abis makan." Ucap Zelisia tanpa menoleh kearah papanya.


"Yaudah deh."


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Seperti biasa, pagi pagi Zelisia sudah tidak berada di rumahnya, ralat, mansion keluarganya. Dia sudah berada di jalanan dengan motor yang selalu dia gunakan untuk kesekolah.


Jalanan yang begitu tenang, dan hanya beberapa pengendara yang bertemu dengannya, karena hari yang masih sangat pagi untuk orang memulai aktivitas di luar ruangan, membuat perasaan tenang menjalar di tubuhnya.


Hari ini dia membawa motornya dengan lambat, dia ingin merasakan semilir angin yang menerpanya, sekalipun paginya begitu dingin, tapi otaknya bisa lebih tenang. Dia mengingat bahwa hari ini ada ulangan harian, jadi dia harus tenang dan bisa fokus dengan ulangannya hari ini.


20 menit berlalu, dan kini Zelisia sudah berada di parkiran sekolah. Zelisia melangkah dengan elegan di koridor sekolah yang masih sangat sepi. Tujuan Zelisia sekarang adalah taman belakang sekolah. Sampai di tempat tujuan, Zelisia membaringkan tubuhnya di kursi panjang yang ada di bawah pohon.


"Hahhh, gw kangen kehidupan real gw. Kira kira, si Shaka udah tau belum, kalau gw udah is death? Tuh anak pasti udah str*sss, wkwk." Gumam Zelisia.


"Demi apa, dunia real gw tetap lebih nyaman, sekalipun gw hidup serba kekurangan, gak kayak di sini, gw punya segalanya, bahkan gw punya keluarga, tapi di sini gak ada yang nyata. Gw mau balik, gw gak mau ada di sini." Gumam Zelisia yang mengingat segala hal tentang kehidupan real yang berbanding terbalik dengan sekarang ini.


"Gw gak ngerti. Semua cerita cerita fiksi yang gw baca, orang yang mengalami transmigrasi itu kayak lupa segala hal tentang kehidupan mereka dulu, mereka kayak gak punya niat buat balik, kayak emang udah terlanjur nyaman. Lah gw, gw kira gw bakal kayak tokoh tokoh di novel novel gitu, bisa lupa dan fokus ngejalani kehidupan baru gw, tapi nyatanya, malah gw gak bisa betah di sini."


"Apa karena gw gak kenal siapa siapa di dunia baru gw? Tapi kan mereka juga gak kenal 'kan yah? Hah, gw gak paham. Mungkin emang imajinasi authornya udah kayak gitu keknya."

__ADS_1



__ADS_2