
"kamu dari mana aja Sia? Dari tadi abang terlfon kamu, tapi kamu gak angkat?! Kamu tau gak, mama sakit Sia, dari tadi mama cariin kamu?!" Ucap Dirga saat Zelisia baru saja kembali.
"Minggir?!" Ucap Zelisia menatap Dirga tidak suka.
"Kamu dari mana aja Zel?" Bukannya minggir, Dirga malah melontarkan pertanyaan lagi.
"Ck, bisa gak, lo gak kepo?!" Ucap Zelisia kesal.
"Udah bang. Nanti jadi ribut." Ucap Alesa meminta dirga untuk tidak bertanya lagi.
"Sia?! Dari mana aja kamu, hah?! Kamu baru pulang. Jam berapa sekarang?!" Ucap Herson yang baru datang.
"Main. Sekarang jam sembilan, lebih setengah." Ucap Zelisia santai, sambil melihat layar ponselnya.
"Main dimana kamu sampai larut gini?! Kamu tau 'kan mama kamu lagi sakit?!" Ucap Herson menatap Zelisia rumit.
"Hm, masih hidup 'kan?!" Ucap Zelisia tanpa beban.
"ZELISIA?!" Teriak Herson marah. Bagaimana bisa putri semata wayangnya itu berkata seperti itu.
Semua yang mendengar ucapan Zelisia tadi menganga tidak percaya. Ayolah, kata kata Zelisia barusan itu, sangat kejam, okay?! Sekalipun singkat, tapi sikap acuhnya sangat di luar nalar oke. Mamanya sakit, dan berbicara tanpa beban. Memang luar biasa b*adab jadi anak.
Tiba tiba, seseorang menarik Zelisia keluar. Dan orang itu adalah... Dirga? Bukan, bukan?! Tapi... Alvaro.
"Kamu kenapa hah?! Iya, gw paham lo marah, gw paham betul. Tapi gak kayak gini juga 'kan?!" Ucap Alvaro menatap Zelisia sengit.
"Mau gimanapun mereka orang tua lo Zel, lo harus tetap hargai mereka. Setidaknya, lo masih punya orang tua. Orang tua yang ngedidik lo, yang rawat lo. Lo harus hargai mereka, gak malah kayak gini Zel."
"Lo marah sama gw, sama Dirga, sama Alesa, iya, gak masalah. Tapi tolong, jangan sampai orang tua lo juga jadi imbasnya Zel. Mereka sayang sama lo Zel."
"Udah, bacotnya?" Tanya Zelisia menatap Alvaro jengah.
"Zel..."
"Udahh, lo ngomong ma tembok aja. Gw males ladenin orang g*la?!" Ucap Zelisia yang langsung pergi dari hadapan Alvaro.
__ADS_1
'Sisi...' Batin Alvaro menatap punggung Zelisia.
"Kenapa emangnya kalau mama? Di pikir gw bakal peduli apa?! Cuihh, dekat sama mereka aja gak, ngapa gw harus peduli nj*rrr?!" Ucap Zelisia serelah menutup pintu kamarnya.
"Dahlah, gak usah pikirin orang orang gak penting, yang bisanya cari simpatik mulu." Ucap Zelisia sambil mengeluarkan buku bukunya dari dalam tas, dan mulai mengerjakan tugas sekolahnya.
TOK TOK TOK
Pintu kamar Zelisia di ketuk oleh seseorang, yang membuat Zelisia terpaksa menunda pekerjaannya sebentar, dan membuka pintu.
"Kenapa Bi?" Tanya Zelisia saat melihat wanita paruh baya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.
"Itu non, dicari sama tuan dan nyonya." Ucap Bibi.
"Gak bisa Bi. Bilang aja kalau gw udah tidur." Ucap Zelisia.
"Tapi..."
"Udah bi, gw males kalau harus tengkar sekarang." Ucap Zelisia kemudian menutup pintu kamarnya, dan kembali mengerjakan tugasnya.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
"Itu nyonya, non Zeli udah tidur nyonya." Ucap Bibi tidak enak hati.
"Ya udah bi. Makasih bi." Ucap Chelsea.
"Udah ma. Gak usah sedih. Besok kalau sempat, kita ngomong sama Sia yah." Ucap Herson menghibur Chelsea.
"Iya pa." Ucap Chelsea sambil tersenyum, walau matanya memancarkan kesedihan yang teramat.
Herson mengusap lembut surai hitam Chelsea, dia sangat paham apa yang di rasakan istrinya itu. "Yaudah ma, papa beres beres dulu yah." Ucap Herson yang beranjak dari posisinya.
'Sia, kenapa kamu bisa sampai kayak gini? Apa sebesar itu rasa kecewa kamu sama mama? Harusnya dari awal mama udah bilang sama kamu yah?' Batin Chelsea sambil menatap langit-langit rumahnya.
"Emangnya susah yah, kalau kamu terima mereka sebagai kakak angkat kamu?" Gumam Chelsea.
__ADS_1
Chelsea kembali mengingat saat dimana kakaknya menitipkan anak anaknya.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
"Elsa..." Ucap pria berwajah tegas yang sudah terbaring lemah di brankas rumah sakit, dengan berbagai alat alat rumah sakit menempel tubuhnya. Tubuhnya yang sudah tidak lengkap lagi tidak menghilangkan aura tegas darinya, dia tetap terlihat berwibawa.
"Ya kak." Jawab Chelsea menatap teduh kakaknya itu. Chelsea yang duduk di samping brankar itu berbicara sambil menoleh kearah pria yang berstatus sebagai kakaknya itu.
Herson juga ada disana, sedang duduk di sofa yang ada ruangan itu, sambil menjaga Alvaro dan Alesa yang masih berusia 4 tahun, yang saat itu mereka sedang aktif aktif ya, jadi harus di awasi selalu. Apalagi posisinya mereka berada di rumah sakit. Sedangkan Dirga, dia selalu tenang di sisi ayahnya, dia takut jika sesaat saja dia jauh dari ayahnya, apalagi dengan kondisi ayahnya sekarang ini.
"Aku mungkin tidak akan lama lagi. Kau tau kondisiku sekarang Elsa." Ucap pria itu sambil tersenyum kecut.
"Kak." Ucap Chelsea dengan tatapan sendu.
"A...ayah gak boleh ngomong gitu. Na...nanti Diga, Varo sama Sasa gimana? Hiks hiks..." Ucap Dirga sambil mengusap pipinya yang sudah basah oleh air mata.
"Ayah yakin, kamu pasti kuat sayang." Ucap pria itu sambil menatap Dirga penuh kasih sayang.
"Elsa, anak anak, aku titip sama kamu yah." Ucap pria itu sambil menatap Chelsea.
"Kak... Kakak gak boleh ngomong gitu kak. Hiks hiks, kakak pasti kuat. Iya 'kan Diga?" Ucap Chelsea yang tidak kuasa menahan air matanya untuk tidak tumpah.
"Iya hiks, ayah kuat. Ayah gak bakal tinggalin kita kayak bunda. Hiks, ayah udah janji gak bakal ninggalin kita." Ucap Dirga.
"Maaf sayang." Ucap pria itu merasa bersalah.
UHUKK UHUKK UHUUKKK
"Kak. Kakak kenapa kak?" Ucap Chelsea panik. "Mas, mas panggil dokter mas." Ucap Chelsea panik, dan bingung harus melakukan apa. Herson langsung keluar, dan kebetulan ada dokter yang lewat.
"A....ayah kenapa hiks... Ayah gak boleh ninggalin Diga, hiks." Tangis Dirga sambil mengguncang lengan ayahnya.
Herson langsung menggendong Dirga menjauh dari pria itu, dan membiarkan dokter menanganinya.
"GAK?! GAK?! AYAHHH. HIKS, OM LEPASIN DIGA. DIGA MAU KE AYAH OM?!" Ucap Dirga memberontak.
__ADS_1
"Diga, biar dokter periksa ayah dulu. Kamu tenang yah nak, ayah pasti baik baik aja." Ucap Herson berusaha menenangkan Dirga.