
Mustika hanya terkekeh melihat tingkah ajaib teman sebangkunya itu. Bagaimana tidak, bel istirahat baru saja berbunyi, dia sudah membuat ketua kelas itu, kesal lagi, lagi, dan lagi. Sepertinya Iya tau, hobby baru Zelisia adalah membuat ketua kelasnya kesal.
Kali ini, Zelisia merebut dompet yang baru saja Gerald keluarkan dari tasnya, dan itu sukses membuat Gerald kesal.
"Wuishhh, banyak uyyy." Ucap Zelisia yang mengeluarkan uang yang ada dalam dompet itu, dan memperlihatkannya pada anak di dalam kelas.
"ZELISIA!!!" Teriak Gerald kesal. "Balikin gak, anj-" Ucap Gerald yang langsung bangkit dari duduknya, dan ingin merebut uang yang ada di tangan Zelisia, tapi sayang, Zelisia sudah berlari keluar dari kelas, sebelum Gerald mengambil dompetnya.
"EH, ZEL. TUNGGU?!" Ucap Gerald dan Mustika bersamaan, yang langsung mengejar Zelisia yang sudah berlari kearah kantin.
"OI ZEL. DUIT GW JANGAN LO PAKE BUAT JAJAN ANJ-" Ucap Gerald sambil mengejar Zelisia, begitu juga dengan Mustika.
Dan terjadilah, aksi kejar mengejar di koridor menuju kantin, dan siswa-siswi yang ada di sana langsung melimpir, dan cengoh melihat mereka yang saling mengejar.
Dan di sinilah mereka berakhir sekarang, duduk di kantin dengan nafas yang masih memburu karena aksi barusan. Gerald langsung menatap Zelisia tajam, sedangkan Zelisia malah tertawa melihat wajah kesal Gerald. Mustika, dia mengeluh kehausan, karena terus meneriaki Zelisia yang seolah tuli saat dia panggil.
"Zel, balikin uang sama dompet gw?!" Ucap Gerald mengulurlan tangannya kedepan Zelisia, sedangkan Zelisia malah memasang wajah polos, seperti tidak melakukan apapun. "Dompet apa? Uang?" Ucap Zelisia menatap Gerald polos, sesekali mengerjabkan matanya.
BRAK
"ZELI?!" Gerald menggebrak meja kantin dan langsung berdiri dan meneriki Zelisia, dia sudah kehabisan kesabaran menghadapi kelakuan Zelisia yang sangat menguras emosinya. Sontek teriakan Gerald membuat seluruh penghuni kantin menatap mereka, sedangkan Gerald yang sedang marah hanya tau Zelisia harus mengembalikan uangnya. (Udah kayak Zelisia abis ngutang aja sama si Geraldπ).
"Syuutttt." Zelisia meletakan jari telunjuknya di atas bibirnya, mengisyaratkan Gerald untuk diam. "Tuh liat, lo gak malu apa?!" Ucap Zelisia sedikit berbisik, sambil melihat sekeliling kantin, dan semua sedang menatap mereka.
"Ya, ini salah lo. Kalau lo gak ambil uang gw, gw juga gak bakal marah." Ucap Gerald sedikit pelan.
"Halah, lo aja yang sensian kayak cewek PMS." Ucap Zelisia.
"Ehh, lo katain gw?!" Ucap Gerald sedikit menaikan nadanya.
"Udah, udah. Kalian jangan bertengkar lagi." Ucap Mustika menengahi kedua orang itu.
ββββββββββββββββ
"Kalian kenal mereka?" Tanya seorang gadis pada Erlangga, Andrean, dan Lucas.
"Gak/kenal." Ucap mereka bertiga dengan kompak.
"Lucas sama Andre kenal?" Tanya gadis itu lagi.
"Iyah, dia teman sekelas kita. Yang rambutnya panjang, ada poni itu, namanya Mustika, yang rambut pendek lagi namanya Zelisia. Terus yang cowok itu ketua kelas, namanya Gerald." Ucap Lucas menjelaskan secara perlahan.
"Wkwk, lo gak kesal gitu, sama si Zeli, yang pertama kali liat lo, lo langsung di panggil setan. Hahaha." Ucap Andrean yang tertawa keras ketika mengingat kejadian, dimana temannya di kira setan.
__ADS_1
"Ck." Lucas berdecak sebal, karena Andrean mengungkit hal itu, baru pertama kali dia dipanggil setan oleh orang yang baru pertama kali dia temui, apa lagi itu perempuan. Biasanya perempuan akan memuja, tapi ini? Rasanya, pesonanya yang luar biasa tidak ada gunanya di mata gadis itu.
"Hahh? Beneran? Lucas di panggil setan sama cewek?" Ucap gadis itu yang terdengar heboh.
"Iya El. Tuh, sama cewek yang rambut pendek itu. Emang dia itu jujur bet, ahaha." Ucap Andrean sambil menunjuk Zelisia dengan dagunya, yang tidak bisa meredakan tawanya ketika mengingat kejadian itu.
"Wah, ternyata ada yang kebal sama ketampanan Lucas." Ucap Elisa terperangah sambil menatap gadis yang sedang mereka bicarakan itu.
ββββββββββββββββ
Bel tanda waktu istirahat berakhir sudah berbunyi beberapa waktu lalu, dan saat ini Zelisia baru keluar dari toilet. Saat akan keluar dari area toilet, dia tidak sengaja mendengar keributan. Zelisia yang awalnya akan kembali ke kelas, mengurung niatnya, dan mendekati sumber keributan yang dia dengar barusan.
"LO JAL*NG?! NGAPAIN LO TADI DUDUK SAMA MUBAR DARI KELAS GW HAH?!" Bentak seorang gadis. Sedangkan gadis yang di bentak itu hanya menunduk dalam, dia terlalu malas untuk meladeni gadis yang sedang menindasnya itu.
Sedangkan Zelisia yang mengenali mereka yang menjadi korban, juga yang menjadi pelaku, merasa bingung. Sebagai manusia yang baik dan bermoral, seharusnya dia menolong gadis itu, karena dia melihat kejadian itu. Tapi di sisi lain, dia tidak ingin berurusan dengan orang orang itu.
"Ohhh, gw tau." Ucap Zelisia yang langsung beranjak pergi dari toilet. Dia langsung berlari keruang OSIS, menurutnya, masalah seperti ini, sebaiknya jangan dia yang ikut campur.
BRAKKK
Zelisia yang membuka ruangan itu dengan kasar hingga membuat dentuman yang cukup keras, menarik intensi semua orang yang ada disana. "Hahhh... Hahhh..." Nafas Zelisia tersenggal senggal, dengan posisi membungkuk, kedua tangan bertongkat pada kedua lututnya, sambil menetralkan nafasnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya seorang pria, yang di yakini, dialah ketua OSIS saat ini.
Seorang gadis yang merupakan anggota OSIS langsung menyodorkan sebotol air mineral, dan langsung di sambut oleh Zelisia.
Setelah meneguk air itu hingga hanya tersisa setengah botol, dia langsung mengatakan tujuannya. "Kak, di toilet. Disana ada pembullyan kak". Ucap Zelisia yang membuat semua yang ada di sana saling memandang satu sama lain.
"Baiklah. Sekarang kamu kembali kekelas, dan jangan katakan apa yang terjadi pada siapapun. Mengerti?" Ucap ketua OSIS dengsn tegas, dan Zelisia mengangguk sebagai jawaban, kemudian mereka langsung pergi dari sana.
Setelah kepergian mereka, Zelisia memasuki sebuah ruangan yang tidak jauh dari ruang OSIS. Di depan pintu, ada tulisan yang cukup besar 'Ruang BK', yang menandai, bahwa itu ruang BK.
TOK TOK TOK
Sebelum membuka pintu hitam itu, terlebih dahulu dia mengetuk pintu.
"MASUK!" Suara bariton yang khas itu memerintahkan Zelisia untuk segera masuk, dan dengan segera, Zelisia masuk keruangan itu.
"Selamat siang pak. Maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya Zelisia Winston, siswi kelas XI MIPA 2. Saya ingin melapor, bahwa di toilet wanita di lorong A, terjadi pembullyan." Ucap Zelisia dengan sopan.
"Penbullyan? Kamu sudah melapor pada pengurus OSIS?" Tanya guru BK seraya menatap gadis yang berdiri didepannya itu.
"Sudah pak, sekarang mereka sudah berada di sana. Tapi saya rasa, mereka akan membutuhkan keberadaan bapak di sana."
__ADS_1
"Baiklah. Kamu kembalilah ke kelas, dan jangan menyebarkan sesuatu yang tidak harus di sebar. Masalah ini, biar kami yang urus."
Setelah itu, Zelisia langsung kembali kekelasnya, dan tersenyum penuh arti. Setidaknya, dia tidak menentang moralnya sebagai manusia, juga dia tidak harus berurusan dengan orang yang tidak perlu dia usik kehidupannya.
Zelisia langsung memasuki kelasnya, dan langsung menghadap guru, dia sudah siap menerima hukuman dari guru, asalkan dia bisa mengikuti pelajaran hari ini.
"Dari mana kamu?" Tanya guru itu sambil menatap Zelisia yang baru masuk ke kelas.
"Emm, itu pak. Tadi itu saya kelamaan di toilet, terus pas saya keluar mau balik ke kelas, nah saya ketemu cogan tuh. Eh, tau taunya, cogan itu pak ketos, jadilah saya di kira mau bolos, dan berakhir di suruh bersihin ruang OSIS. Barulah, saya ada di sini setelah adu bacot sama kain pel di ruang OSIS." Jelas Zelisia yang langsung mengundang tawa dari seisi kelas.
"Baiklah. Ini hukuman kamu, karena baru masuk. Usahakan ini sudah selesai sebelum jam saya sudah berakhir?!" Ucap guru itu sambil menyodorkan satu lembar kertas HVS, dengan jejeran soal matematika. Mereka yang melihat lembaran itu bergidik ngeri, bisa di pastikan, soal soal yang ada di sana, belum pernah di jelaskan sebelumnya.
"Terimakasih pak." Ucap Zelisia membungkuk singkat setelah menerima tugasnya itu, kemudian langsung pergi ke tempat duduknya.
"Zel, kamu yakin bisa kerjain semua soal ini?" Tanya Mustika menatap temannya itu iba.
"Gak sih Ka. Tapi kalau gak gw kerjain, yang ada, gw gak di bolehin ikut pelajaran matematika lagi." Ucap Zelisia sambil menggaruk kepalanya nampak bingung.
"Nanti aku bantuin. Kalau ada soal yang susah, kamu bilang aja." Ucap Mustika sambil tersenyum manis.
"Gw juga mau bantu." Ucap Andrean santai setelah melihat isi soal itu sekilas.
"Wahhh, Emang bestie gw paling best." Ucap Zelisia sambil memeluk leher Mustika. "Gak usah!" Sambungnya lagi dengan nada tidak enak, sambil menatap Andrean sinis. Dia ingat persis, saat dimana pria ini dengan kejamnya, memenggal kepala Delia. Maka dari itu, dia tidak ingin memiliki interaksi apapun dengan orang orang ini.
"Kenapa?" Tanya Andrean saat mendapat tatapan dan nada tak suka dari gadis itu. Dia tidak ingat bahwa dia pernah menyinggung gadis ini. Tapi kenapa gadis ini melayangkan tatap tak suka seperti ini padanya?
Zelisia tak menanggapi Andrean, dan mulai mengerjakan tugasnya, sambil mendengarkan penjelasan guru didepan. Kebanyakan soalnya bisa dia kerjakan dengan baik, tapi ada beberapa soal yang tidak bisa dia isi, dan dia akan bertanya pada Mustika.
οΏΌ
Nama : Elisa Lovany
Umur : 16 Tahun
οΏΌ
Nama : Adelia Stefani Herfan
Umut : 16 Tahun
οΏΌ
Nama : Riska Siofani Zhefan
__ADS_1
Umur : 16 Tahun