
Setelah pria itu akhirnya wafat, Chelsea langsung mengurus surat surat penting milik keluarga kakaknya itu, kemudian memasukan Dirga, Varo dan Alesa kedalam keluarga mereka. Mereka bertigapun tidak menolak, dan mulai membiasakan diri mereka dengan suasana yang baru. Mereka harus bisa tanpa orang tua mereka.
Setelah kurang lebih satu minggu mereka tinggal di mansion besar keluarga kakak Chelsea, mereka akhirnya pindah ke mansion mereka saat ini.
Chelsea lalu menjelaskan pada Zelisia. "Hai sayang, mama pulang. Maaf yah, mama sama papa lama perginya. Oh yah sayang, kenalin, ini namanya Dirga, kakak pertama kamu. Terus ini Alvaro, kakak kedua kamu, dan yang terakhir Alesa, kakak kamu yang ketiga. Mulai sekarang mereka bakal temanin kamu sayang." Ucap Chelsea sambil menunjuk mereka satu persatu, entah Zelisia mengerti atau tidak, yang penting Zelisia tahu, dan bisa menerima mereka sebagai kakaknya.
Zelisia yang sedang dipangkuan pengasuhnya, berusaha untuk memahami ucapan Chelsea, namun tidak berhasil. Dia hanya tau, itu kakak. Mata Zelisia langsung berbinar senang, dengan senyum riang yang tidak pernah pudar dari wajahnya.
"Kakak kakak kakak." Ucap Zelisia senang yang kemudian berdiri dipangkuan pengasuhnya, dan melompat senang, seperti mendapatkan mainan baru dari orangtuanya.
"Jangan lompat lompat nona. Nanti jatuh." Ucap pengasuh sambil menahan tubuh mungil nonanya itu, agar tidak terjatuh.
"Dia adik Sasa ma?" Tanya Alesa yang tangan kecilnya masih senantiasa memegang jari telunjuk Chelsea. Yahh, Chelsea meminta mereka untuk memanggilnya mama.
"Iya sayang. Kalian harus akur yah, gak boleh bertengkar. Okay?!" Ucap Chelsea sambil menyamai tingginya dengan Alesa, dan mengusap surai Alesa sayang.
"Yeeyy, akhilnya Sasa punya teman buat main belbie..." Sorak Alesa kesenangan.
"Lucu banget tante. Badannya juga kecil, belum bisa lari, xixixi." Ucap Varo dengan nada meledek.
"Gak boleh gitu. Nanti nangis bayi nya." Ucap Dirga pada Varo sambil mengusap lembut pipi chuby Zelisia.
__ADS_1
"BABA!! BABA!!" Sorak Zelisia sambil bertepuk tangan dengan tidak tenang, ketika melihat Herson yang baru keluar dari lift. Zelisia merentangkan tangan kearah Herson, dan Herson hanya terkikik kecil melihat kelakuan manja putrinya itu.
"Anak papa ini. Kangen berat yah, sama papa. Huhu, papa juga kangen sama tuan putri papa yang imut ini." Ucap Herson dengan gemas ketika Zelisia sudah berada di gendongannya, dan langsung mendaratkan kecupan di seluruh wajah Zelisia.
"Ma, Sasa udah laper." Ucap Alesa lesu dengan kedua tangannya memegang perut. Atensi mereka langsung jatuh pada Alesa, dan Chelsea hanya memukul dahinya tak berdaya.
"Astaga. Mama lupa saking bahagianya nonton drama kalian." Ucap Chelsea yang diekori gelak tawa dari suaminya.
"Hahaha, yaudah ma. Biar papa bantu masak. Bibi, jagain Sia yah." Ucap Herson sambil menyerahkan Zelisia pada bibi pengasuh, kemudian menggandeng Dirga kedapur, dikuti Chelsea yang menggandeng Alvaro dan Alesa.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Chelsea dan Herson memilih untuk lebih sering berada di rumah, dan menghabiskan waktu bersama anak anaknya. Tidak, mungkin hanya Dirga, Alvaro, dan Alesa, karena Zelisia lebih sering bersama bibi pengasuh.
Mereka bahkan sering lupa bahwa mereka masih punya satu anak lagi, saking fokus pada mereka bertiga, tapi bisa di maklumi, karena mungkin memang harus seperti itu.
Sampai di usia Zelisia menginjak 10 tahun, mereka terus dengan perlakuan yang sama. Mereka mengingat keberadaan Zelisia ketika akan merayakan ulang tahun Zelisia. Terkadang Zelisia juga merasa heran, apakah dia transparan, hingga orang tuanya seperti tidak bisa melihat dia sama sekali? Hm, tapi yasudah lah. Sekalipun perhatian mereka kurang, tapi mereka masih memanjakan Zelisia dengan material yang sudah menjadi hak mutlak Zelisia.
Sampai pada akhirnya, Zelisia mulai ragu dengan statusnya sendiri. Bagaimana tidak, setiap perayaan ulang tahun, orangtuanya membebaskan dia untuk meminta apapun, dan pasti akan di kabulkan. Bukan hanya untuk hari jadinya, apapun yang diinginkan Zelisia setiap harinya, pasti akan dikabulkan, sekalipun itu hanya dalam material, bukan dalam hubungan atau interaksi yang lama. (Oh yah, di BAB 14 *Awal Mula Konflik*. Disana juga udah ada sedikit penjelasan, tapi itu dari sudut pandang Varo pribadi, dan sudut pandang gw sebagai penulis)
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
__ADS_1
Saat ini, mereka sudah berkumpul di meja makan, begitu juga dengan Zelisia. Entah mimpi apa, dia bisa berada di meja makan itu, bersama keluarga Winston.
'Ck, kalau bukan karena gw bangun kesiangan tadi, gw gak mungkin kejebak di sini sekarang?!' Batin Zelisia.
Bayangkan saja, saat dia baru keluar dari lift, dengan mood yang entah kenapa sudah buruk saja di pagi buta seperti ini, dia malah diseret ke meja makan oleh papanya itu. Katanya 'Ada hal penting yang harus di bicarakan.'
Zelisiapun hanya pasrah, karena tidak memiliki tenaga untuk berteriak dipagi hari yang buruk bagi nya.
Suara dentingan sendok dan piring saling bersahutan di meja makan itu. Tidak seorang pun dari mereka yang membuka suara, karena begitu fokus dengan makanan mereka.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
"Sia, papa mau bawa mama kamu berobat di London hari ini." Ucap Herson memulai pembicaraan setelah meneguk segelas air.
"Hm." Zelisia hanya berdehem untuk menanggapi, dia sama sekali tidak berminat. Dia malah lebih tertarik untuk melihat jam dinding yang terus berputar. 'Hm, udah mau terlambat.' Batin Zelisia.
"Uang jajan kamu bakal papa kurangin, dan kamu bakal terus di awasi sama kakak kamu. Kamu gak boleh pulang malam ataupun keluar malam. Jangan bawa orang yang gak berkepentingan ke rumah, jangan bergaul lagi sama berandalan kemarin, jangan bertengar sama kakak kamu. Kamu harus nurut sama mereka, karena mereka yang jaga kamu selama papa sama mama diluar Negri." Ucap Herson, yang di balas anggukan dari Zelisia. Zelisia tidak peduli dengan semua itu, toh, dia memiliki uang sendiri, untuk apa jajan dari mereka?! Dia memiliki ribuan cara untuk tidak bisa di lihat oleh 'kakak'nya itu.
Zelisia bangkit dari duduknya, dan berjalan kearah Chelsea. Chelsea tersenyum manis keareh putri, saat melihatnya berjalan kearahnya.
Zelisia menepuk pundak wanita paruh bayah itu, dan dengan senyum mautnya dia berucap. "Semoga. Cepat. Sembuh." Ucap Zelisia yang diakhiri dengan seringai. 'Dan, cepat pergilah kealam mu yang seharusnya.' Lanjut Zelisia dalam hati, kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
Chelsea tertegun mendengar dan melihat ekspresi Zelisia. Dia sama sekali tidak melihat simpatik sedikitpun dari mata anaknya itu. Malah dia melihat tatapan penghinaan yang dilayangkan gadis itu padanya.