
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Jam makan malam baru saja terlewat, dan batang hidung Zelisia akhirnya terlihat. Dengan langkah sedikit gontai, Zelisia melangkah memasuki mansion besar itu. Disana dapat dia lihat keluarga bahagia 'lagi'.
"Tsk." Decak Zelisia kesal, dia mulai bosan dengan drama keluarga cemara ini. Ayolah, baru saja dia merasa senang karena dua manusia yang menjadi 'orang tuanya' itu, telah pergi jauh, dan sekarang malah datang orang, yang entah siapa lagi, dan melakukan drama keluarga cemara lagi.
"Sia, dari mana kamu? Pulang semalam ini?" Tanya Tn. Louis menatap Zelisia yang baru saja masuk kedalam rumah.
"Hm, dari luar. SSG?!" Ucap Zelisia sambil merotasikan bola matanya, dan terus berjalan menuju lift.
"Sia, kamu?!" Ucap Tn. Louis geram. "Ada yang ingin kakek bicarakan, kamu bisa datang ke ruang kerja kakek." Lanjut Tn. Louis dengan tenang.
"Mereka 'kan ada? Jangan bawa bawa gw di drama keluarga cemara lo pada. Gw gak mau ikutan drama gak jelas ini." Ucap Zelisia yang berhenti sebentar untuk menanggapi, kemudian lanjut berjalan menuju kamarnya.
(Sad yahh, padahal keluarga beneran loh, bukan drama kyk yang dia bilang. Tapi yaudahlah, paham banget sama posisi Zeli yang pada dasarnya udah gak percaya lagi sama yang namanya keluarga. Tapi gak papa, disini gw bakal bikin Zeli sadar, seberapa menyenangkannya punya keluarga.)
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Hari sudah begitu larut, dan pria tua itu masih setia duduk di kursi kebesarannya menunggu seseorang yang dia pinta tadi untuk datang ke ruang kerjanya.
Sudah sekitar 2 jam Tn. Louis duduk dan menunggu disana, tapi pintu besar itu tak kunjung terbuka, hingga pria itu lelah sendiri. "Sepertinya gadis itu memang tidak akan datang." Gumamnya yang memilih untuk keluar dari ruang kerjanya, dan pindah kekamarnya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Pagi hari, seperti biasa, Zelisia sudah rapi dengan seragamnya. Dia turun dari kamarnya, dan seperti biasa juga akan di sambut dengan 'drama keluarga cemara.'
"Sia, ayo sarapan pagi dulu." Ucap Tn. Louis saat melihat Zelisia yang sedang berdiri didepan lift, dan akan berjalan ke pintu depan.
__ADS_1
"Gak, makasih." Ucap Zelisia yang berlalu begitu saja dari sana.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Zelisia memasuki gerbang sekolah, yang langsung disambut oleh teman temannya. "Good pagi kanjeng ratu." Ucap mereka sambil turun dari kendaran mereka masing masing. Kebetulan mereka juga baru sampai.
"Ohhh, good pagi juga para dayang sekalian." Ucap Zelisia dengan tampang yang sangat menyebalkan bagi mereka yang di panggil 'dayang.'
"Helo, mana ada sejarah cowok itu dayang?! Baca komik apa sih lo Zel? Yang bener, cewek itu dayang, cowoknya kesatria. Paham?!" Ucap Ray meluruskan ucapan Zeli yang menurutnya melenceng dari pengetahuan yang ada.
"Nah, ini nih. Makanya Ray, jangan kudet. Liat nih?!" Ucap Zelisia sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Ray. "Tuhhh, baca desknya. Ada yang cowok lahirin anak, terus harem, nih ada lagi bla bla bla bla bla." Ucap Zeli menjelaskan.
"Wahhh, gak bener nih?! Masa cewek lebih dominan?! Gak gak. Ini udah pelanggaran nih. Ini komik udah layak di laporkan, karena sudah merusak moral pria?! Tsk!!" Ucap Ray tidak terima. "Apa lagi nih?! Karakter cowoknya lemah bet anj*rrr?!" Timpalnya lagi.
"Nyatanya juga cowok lemah kali Ray. Braninya ma yang lemah doang, giliran ketemu yang seimbang, malah ciut." Ucap Zelisia.
Mereka yang tahu perdebatan itu tidak akan berakhir, hanya bisa menghela nafas pasrah. Kedua orang ini pasti akan terus saling membandingkan, tanpa lelah. Sepertinya siapapun yang memiliki hobi yang sama dengan Zelisia akan selalu berdebat dengannya. Buktinya Ray, yang jelas keduanya memiliki hobi yang sama, tapi malah saling membandingkan.
Alaskar langsung menarik Zelisia ke kelas, begitu juga dengan Lio yang menarik kerah baju Ray dan mengikuti langkah Alaskar. Sedangkan kedua orang yang ditarik itu masih dengan topik yang sama, bahkan sekarang topik mereka sudah menlenceng entah kemana.
"Dimana mana tuh yah, cewek di bawah, cowok di atas?!" Kekuh Ray.
"Gak bisa gitulah, cowok di bawah, cewek diatas, no nego pokoknya?!" Bantah Zelisia.
"Gak gak?! Mana bisa kayak gitu?! Cewek tuh lemah, gak cocok ada diatas." Ucap Ray tidak menyetujui ucapan Zelisia.
"Wahhh, lo ngatain gw lemah Ray?!"
__ADS_1
"Iya, napa? Gak terima lo?!"
"Jelas gw gak terima?! Kalau lo kuat, ayo adu skill ma gw, brani kagak lo?!" Tantang Zelisia.
"Beranilah, siapa takut?!" Jawab Ray percaya diri.
"Udah woi, lu berdua gak bosen apa?! Ributin itu mulu." Ucap Farel jengah dengan pedebatan kedua orang itu.
Setelah sampai dikelas Alaskar, merekapun berpisah, dan langsung pergi kekelas masing masing.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
"Sia, kamu sudah pulang? Ayo duduk dan temani kakek bercerita." Ucap Tn. Louis saat melihat Zelisia yang baru saja memarkirkan motornya.
Zelisia pun hanya menurut, toh cuma sebentar, harusnya tidak ada masalah bukan. Dia hanya ingin menghargai dan menghormati pria tua itu, mungkin sebentar lagi sudah akan bertemu ajalnya.
Baru saja Zelisia akan menjatuhkan pantatnya di kursi yang ada di sebrang meja dimana Tn. Louis duduk, Zelisia sontak terkejut mendengar pertanyaan pria tua itu.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau bisa sampai disini, dan menempati raga Sia?" Tanga pria itu dengan tatapan menyelidik.
Zelisia tersenyum, senyuman yang diperkirakan tidak akan pernah dia perlihatkan ketika berada di lingkungan mansion mewah ini, tapi kini senyuman itu dengan sengaja dia terbitkan. Senyuman itu kini berubah menjadi seringai kecil yang sangat jelas terlihat dari sorotan matanya.
"Bukankah ini menjadi semakin menarik?!" Ucap Zelisia sambil duduk berpangku kaki.
"Jika di novel novel fiksi yang biasa ku baca, aku pasti akan menjawab dengan sebuah cerita panjang, yang tidak tau kapan itu berakhir. Tapi, aku sendiri akan menjawab, aku mencuri raga ini, lalu apa masalahmu?!" Jawab Zelisia dengan senyuman manis yang terlihat sangat ramah.
Dikit yah🙏🏻
__ADS_1