
"Lo harus putusin dia setelah lo dapatin semuanya. Kalau gak...?!" Bisik Andrean dengan senyuman mematikan.
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
Zelisia menatap sekeliling dengan bingung. Entah kenapa, rasanya dia sangat merindukan tempat ini. Dia berjalan pelan dengan pikiran yang berkecamuk, entah apa yang menjadi beban pikirannya sekarang ini.
Saat itu, dia melihat punggung seseorang yang sangat tidak asing baginya. Dalam sekejap, ekspresi Zelisia yang awalnya murung, seketika tampak tersenyum sumringah. Ahh, dia tau siapa itu, dan dia sangat merindukan orang itu.
"SHAKA?! GW DI SINI KA?!" Teriak Zelisia, tapi tak mendapat respon apapun dari sosok yang dia panggil. "Dihhh, Shaka bagong, songong lo?!" Umpat Zelisia lantaran tak mendapat tanggapan dari Zelisia.
Setelah beberapa saat, pria yang dipanggil Shaka itu berjalan, entah kemana. Zelisia langsung mengejar pria itu, dan mencoba mengikuti langkahnya.
Zelisia mengoceh panjang lebar, dan berharap Shaka akan menggubrisnya. Tapi sayang sekali, tidak ada respon apapun, bahkan pria itu sama sekali tidak meliriknya, pria itu malah berhenti, dan menatap nanar pintu rumah yang berada di depannya.
"Hah, lo napa natap kontrakan gw kayak gitu Ka? Perasaan gak ada yang aneh, gitu gitu aja." Ujar Zelisia namun tak direspon sama sekali.
"Shak, lo liat gw gak sih?!" Ucap Zelisia kesal, sambil melambaikan tangan didepan wajah Shaka.
Shaka langsung melewati Zelisia begitu saja. Sedangkan Zelisia terdiam dengan apa yang baru saja terjadi. Reflek, dia menatap dirinya sendiri, dan dengan sengaja menabrak sesuatu. Dan yap, dia melewati itu begitu saja.
"Ja... Jangan bilang g...gw..." Gumam Zelisia menatap tangannya yang transparan, dia bisa melihat tanah secara langsung, walau terhalang oleh tangannya.
Beberapa saat Zelisia terdiam, hingga suara mesin mobil mendekat kearahnya dengan pelan. Zelisia bertanya tanya, siapa itu? Apa mungkin itu orang tua Shaka? Hah, tapi sudahlah, itu bukan urusannya. Dia masih sibuk menggali otak jeniusnya itu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Terlihat tiga orang pria dengan outfit formal keluar dari mobil itu, dan berjalan kearah pintu kos-kosannya.
"Mereka siapa? Ngapain ke kosan gw?" Gumam Zelisia bertanya tanya.
Zelisia dengan sigap, berusaha menghalangi ketiga pria itu. Dia berdiri sambil merentangkan tangannya di pintu kosannya. "Ehh, ngapain lo pada ke kosan cewek malam malam? Lo pikir gw jualan apa?!" Ucap Zelisia geram pada ketiga pria itu. Zelisia adalah ciri ciri orang yang sangat tidak menyukai orang yang bertamu ke kosannya, dimalam hari, apalagi itu orang asing. Lain halnya untuk Shaka.
__ADS_1
"Apa Raisa kita... Tinggal di sini?" Tanya pria yang lebih dewasa itu.
"Seperti yang aku katakan tadi Dad. Dan dia tidak menggunakan nama itu juga, aku juga tidak tahu apa alasannya." Ucap pria muda, yang wajahnya terlihat identik dengan pria yang bertanya itu.
Zelisia yang menyimak pembicara mereka merasa perasaan aneh, yang dia juga tidak paham, dan tidak tahu harus bersikap seperti apa. Tapi sepertinya, ketiga pria itu tidak bisa melihatnya, dia baru ingat, bahwa posisinya, dia transparan dan kasat mata.
'Raisa', dia tau persis, siapa pemilik nama itu. Seandainya dia memiliki tubuh, dia yakin, jantungnya sudah seperti akan melompat dari tempatnya. Untuk pertama kalinya, bahkan itupun setelah dia mati. "Bast*rd?!" Geram Zelisia, dia marah, tapi tidak tahu harus bagaimana melampiaskan amarahnya itu.
"Siapa kalian?" Suara Shaka yang berjalan keluar dari dalam kosan itu, dan melewati Zelisia, seperti angin. Wkwk.
Ketiga pria itu menatap sengit Shaka yang hanya memasang wajah datarnya. Terlihat jelas, bahwa dia baru saja menangis, karena masih ada jejak basah di bulu bulu matanya.
"Kami ingin bertemu Ra...penghuni kosan ini. Apa kamu bisa memanggilkannya?" Ucap pria dewasa itu dengan sopan.
Shaka menggigit pipi bagian dalamnya, matanya menatap lantai yang di pijak olehnya, dia berusaha untuk tidak menunjukan ekspresi apapun saat ini.
Zelisia menatap sahabatnya itu dengan rasa bersalah yang menyelimutinya. Ahhh, sahabatnya yang dulu g*la itu, sepertinya mengalami perubahan yang drastis, dan tanpa di beritahu pun, Zelisia sudah tau jelas apa alasannya.
ZELI, ZELISIA!!
Suara itu terus bergema gema dipikiran Zelisia. Zelisia menggeleng keras, berusaha menyingkirkan suara berisik itu dari pikirannya.
UUWWAAAAAA
Teriak Zelisia yang terlonjak kaget. Dia langsung terduduk, dan sudah mendapati dirinya berada di UKS sekolah.
'Tadi itu...' Batin Zelisia yang kembali hanyut di dalam pikirannya. Ahhh, dia benar benar sudah tidak kuat lagi, dia ingin mati saja.
"Zel, kamu kenapa?" Tanya Mustika khawatir.
__ADS_1
Dia sangat terkejut ketika Zelisia tiba tiba jatuh pingsan saat mereka sedang berjalan kekantin, padahal tidak ada angin, tidak ada hujan. Cuacanya sangat normal bagi yang normal.
Zelisia sama sekali tidak merespon. Pikirannya masih berada di dunia real nya. Apa dia benar benar sudah mati? Lalu apa semua ini? Ahh, dia merindukan dunianya dulu. Apa ada jalan untuk kembali? Haha, mustahil bukan? Dia hanya serpihan jiwa yang tidak ada artinya sama sekali, dan dengan mudah dipermainkan oleh takdir.
Tatapan kosong Zelisia membuat Mustika frustasi. Ada apa dengan temannya yang satu ini? Mustika terus berusaha membuat Zelisia berbicara, tapi sang empu seperti orang bisu. Bahkan dia tidak menganggap keberadaan orang orang yang ada di ruangan itu.
"Mending, kita bawa ke RSJ aja." Usul Alaskar yang mendapat pelototan tidak setuju dari Mustika.
"Kenapa gak lo aja yang nginep disana Kar?" Ucap Ray sambil melipat kedua tangannya didepan dada.
"Lahh, yang sakit 'kan dia, yang butuh juga dia. Kenapa harus gw?" Bantah Alaskar.
"Kalau bisa wakili, kenapa harus turun tangan? Lo 'kan biasa gitu Kar."
"Skatmat?!" Sambung Lio sast Alaskar tidak berkutik lagi.
"Kenapa jadi ribut sih?" Ucap Gerald menatap mereka datar.
Mereka langsung diam, saat melihat Zelisia kembali membaringkan tubuhnya, dan kembali menutup mata, seolah dia boneka hidup yang terus di tuntun untuk melakukan ini dan itu.
"Tidur?" Suara Alaskar langsung memecahkan keheningan diruangan itu, setalah beberapa menit yang lalu Zelisia bergerak layaknya robot, dan mereka diam dan tidak bersuara setelah itu.
"Kayaknya..." Ucap Mustika sambil mengulurkan tangan, ingin mengecek suhu tubuh Zelisia. "Astaga?!" Lantah Mustika yang dengan cepat menarik punggung tangannya dari kening Zelisia.
"Dia demam tinggi." Ucap Mustika yang kembali meletakan handuk yang sudah di basahi dengan air hangat di kening Zelisia.
"Duhhh, gak turun turun juga." Ucap Mustika, yang terlihat jelas guratan khawatir di wajahnya.
"Ayo, langsung bawa kerumah sakit aja. Biayanya, nanti kita bisa patungan. Sekarang kita bawa dulu nih bocah ke rumah sakit." Usul Alaskar, dan mereka langsung membawa Zelisia kerumah sakit terdekat.
__ADS_1