
✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈
"HOLLAAA EPRYBADIIHHHH?!" Teriak Zelisia saat melangkah kekelasnya, layaknya memasuki hutan yang di penuhi monyet.
Semua penghuni kelas itu mengeluarkan kata kata mutiara mereka dengan gaya yang berbeda beda. Sungguhh, mereka sama sekali tidak memiliki persiapan untuk menutup telinga mereka, hingga telinga mereka rasanya berdenyat denyut setelah pekikan Zelisia yang teramat cempreng menghantam gendang telinga mereka.
"ZELI ANJ- BISA GAK, GAK USAH TERIAK TERIAK KAYAK TARZAN?!" Teriak Delia yang merasa kesal, lantaran dia yang saat ini merasa sangat pusing karena semalam kesulitan untuk tidur, malah mendengar teriakan Zelisia, yang parahnya sangat tidak enak didengar.
"LO JUGA TERIAK DEL?!" Balas Zelisia dengan volume yang tidak di kurangi sedikit pun.
Seluruh penghuni kelas itu merasa frustasi oleh kedua orang itu, tapi mereka tidak memiki daya untuk terlibat dengan mereka. Yang ada, kedua orang ini malah mencerca mereka habis habisan jika berani mengganggu perdebatan tak bermanfaat keduanya.
"INI GARA GARA LO YANG DATANG DATANG MAEN TERIAK TERIAK KAYAK M*NYET YANG GAK PERNAH DI KASIH PISANG?!"
"WAHHH, S*ALAN LO DEL. NGAJAK RIBUT LO?!"
"EMANG LO PIKIR GW TAKUT SAMA LO, DASAR CEWEK JADI JADIAN?!"
"WAHH, BRANI LO NGATAIN GW DEL?! EMANG MINTA DI HAJAR LO YE?!" Zelisia berjalan menuju meja Delia.
Delia langsung merasa bahaya, ayolah, cap 'cewek jadi-jadian' yang dia berikan pada Zelisia itu bukan sebuah omong kosong. Bukan sekali dua kali dia mendapat bogem mentah dari gadis ini, tapi terlalu sering, hingga dia terkadang langsung ciut hanya melihat senyum Zelisia yang sangat, errr mengerikan.
BUUGH
__ADS_1
BUUGH
BUUGH
BUUGH
Tinjuan bertubi-tubi Zelisia layangkan pada Delia, dengan mulut mereka yang masih berdebat. Hm, sangat aneh, dalam kodosi seperti itu, mereka masih saja berdebat.
"LO TUH YANG M*NYET?! LO M*NYET, SELURUH KELUARGA LO M*NYET?!" Teriak Zelisia dengan tangannya yang senantiasa jatuh dengan keras di tubuh Delia.
"ANJ*RRRR LO ZEL?! DASAR CEWEK G*LA?! BERENTI GAK ANJ-?!" Balas Delia berusaha membebaskan diri dari Zelisia.
Posisinya yang asthetic, dengan Delia yang berbaring dilantai yang berusaha menghindari pukulan Zelisia, dan posisi Zelisia yang berdiri membungkuk 90º hingga wajah berada lurus di atas wajah Delia.
"KENAPA EMANG KALAU GW G*LA?! LO KEBERATAN KAH?! EMANG LO SIAPA HAH?!" Teriak Zelisia dengan emosi yang meluap luap.
'G*la, nih cewek punya masalah hidup pasti. Woiyah, mati gw kalau gak ada yang bikin nih cewek g*la tenang.' Batin Delia yang merasa Zelisia lebih kejam dari biasanya. Bahkan dia bisa melihat kilatan amarah dimatanya. Dia sudah biasa di pukul oleh Zelisia, dan selalu melihat ekspresi gadis itu, dia belum pernah merasa Zelisia begitu marah seperti ini. Dia tau Zelisia tidak pernah sekesal ini, padahal dirinya tidak merasa mengatakan sesuatu yang mungkin akan sangat menyinggung Zelisia.
"WOII, TOLONGIN GW OIII. NIH CEWEK LAGI KES*TANAN OII?! BISA MATI GW?!" Teriak Delia saat merasa tubuhnya akan hancur di tumbuk oleh bogem mentah dari gadis itu, kepalanya semakin pusing berkat Zelisia yang mengg*la. Tenaganya seperti pria berbadan kekar, yang sudah biasa berkelahi.
Riska berusaha menghentikan Zelisia, namun na'as, dia malah ikutan mendapat bogem mentah. Gadis itu benar benar dibuat kesal oleh Zelisia. Ayolah, dia hanya ingin menyelamatkan temannya, bukan minta di pukul, okay.
Gerald yang baru datang, dikejutkan dengan pemandangan yang sangat, sulit dikatakan. Tanpa banyak berpikir lagi, pria itu langsung mendekati Delia dan Zelisia yang masih dalam kondisi yang sama, hanya saja Delia kelihatan sudah sangat kacau. Bahkan hidungnya sudah mengeluarkan darah segar, dan beberapa memar diwajahnya.
__ADS_1
Zelisia memang sangat kejam dengan memukul bagian wajah, yang adalah aset terpenting bagi seorang Delia. Jika saja dia memukul di area yang tertutup, Delia tidak akan mempermasalahkan hal itu. Ahh, sepertinya dia harus bersembunyi hingga wajahnya kembali pulih.
Gerald langsung memeluk pinggang Zelisia dari belakang, kemudian menariknya dengan paksa, hingga akhirnya dia terpisah dari Delia.
"Huft~" Delia menghela nafas lega, dia sangat berterimakasih pada Gerald yang sudah menyelamatkannya dari Zelisia yang sedang mengg*la.
"ANJ*RRR, LEPASIN WOIII?! CARI MATI LO?!" Teriak Zelisia kesal, karena seseorang mengangkat tubuhnya menjauh dari Delia, dan membawanya keluar dari kelas.
Gerald langsung melepas Zelisia di depan pintu kelas, kemudian menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Lebih aman jika Zelisia berada diluar kelas saja, jika tidak, kelas ini akan lebih hancur dibuatnya.
"WOIII, BUKAIN OII?!" Teriak Zelisia sambil menggedor pintu kelas, tapi tidak ada yg membuka pintu itu.
"Lo gpp 'kan Del?" Tanya Gerald sambil membantu Delia bangun. Hah, kali ini Zelisia sudah keterlaluan, jika terus dibiarkan, dia akan terus bertindak semaunya. Sesekali memberikan Zelisia pelajaran, itu bukan hal yang salah. Pikir Gerald saat melihat kondisi Delia yang cukup parah.
"Buta mata lo?! Urusin tuh cewek lo yang sensian itu. Anj*rrr, muka gw sshhh." Ucap Delia dengan kesal sambil mendudukkan dirinya di tempatnya. Bukannya apa apa loh, kali ini dia sangat tidak bisa menerima cara Zelisia yang sudah diluar batas.
Jika hanya ditampar, ditendang, atau apalah itu, dia tidak akan terlalu mempermasalahkannya jika itu Zelisia, karena dia tau, Zelisia sudah beberapa kali menyelamatkan nyawanya. Tapi yang membuat dia begitu kesal kali ini adalah wajahnya, dia bisa menjamin, akan butuh waktu lama untuk wajahnya bisa kembali seperti semula lagi.
"Udah Del, lo jangan marah sama si Gerald. Dia udah nolongin lo tadi." Ucap Riska menenangkan Delia, sambil mengobati wajah Zelisia.
"Del, gw bener bener minta maaf atas kelakuan Zeli kali ini." Ucap Gerald meminta maaf.
"Dah, dari pada lo di sini, mending lo urusin tuh cewek lo tuh. Udah kayak orang kes*tanan. Punya masalah idup kali tuh cewek g*la?!" Ucap Delia dengan emosi yang masih menggebu gebu.
__ADS_1
Gerald langsung keluar dari kelas, namun sudah tidak mendapati sosok zelisia lagi disana. Gerald mulai mencari Zelisia dibeberapa titik yang kemungkinan besar Zelisia sedang bersantai di sana.