Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi

Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi
BAB 24 Kakek Dari London


__ADS_3

"Hahh~" Gerald menghela nafas pelan, kemudian membalas pesan itu. Gerald kembali meletakan poselnya, dan melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.


5 menit telah berlalu, Gerald menyerngit heran karena tidak ada notif baru. Gerald mengecek ponselnya, dan melihat pesan yang dia kirim sudah centang dua, hanya belum berwarna biru, artinya belum di baca.


Gerald kembali fokus dengan buku itu, untuk beberapa menit, kemudian melihat ponselnya lagi. Dia melakukan yang sama berulang kali, hingga rasa kantuk menyerangnya. Gerald memilih untuk tidur, dan besok, bisa bangun lebih pagi.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Disisi lain, Zelisia dilanda kegabutan yang hakiki. Sangat sangat gabut, sampai dia tidak tau harus melakukan apa untuk menghibur dirinya sendiri yang sedang gabut itu. Zeli mengambil ponselnya dan mencoba mencari film yang mungkin bisa dia tonton. "Ealahhh, gak ada film baru gitu? Ini mah udah gw nonton semua elah." Ucap Zelisia menutup matanya dengan telapak tangannya.


Zelisia membuka aplikasi WhatsApp, dan melihat tidak ada satu pesanpun, bahkan grup chat begitu hening. Dengan kegabutan yang hakiki, Zelisia mulai mengirim chat 'WOII' ke semua kontak yang ada di ponselnya. Dalam sekejap, banyak notif yang masuk, dan membalas chatnya. Tapi Zelisia hanya membaca dan tidak berminat untuk membalas satu chatpun.


"Dahlah, mending gw turu." Ucap Zelisia yang menyimpan ponselnya, dan mengambil posisi nyaman untuk tidur.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


"Lalu... Bagaimana dengan putrimu? Apa kau mempercayakannya pada Dirga?" Tanya seorang pria tua pada Herson yang sedang duduk dihadapannya.


"Iya ayah. Aku hanya bisa mempercayakan Sia pada Dirga, karena selain Dirga kakaknya, Dirga cukup dewasa untuk menangani Sia." Ucap Herson pada pria tua, yang ternyata adalah ayahnya.


"Ku sarankan, jangan tinggalkan Sia sendiri untuk waktu yang lama. Sewaktu waktu, jika dia mengingat kejadian yang tidak seharusnya dia ingat, itu akan menjadi mimpi buruk kita semua." Ucapnya menjeda sebentar. "Sekalipun dokter sudah memvonis Sia sudah sembuh, itu bukan berarti, tidak akan kumat. Jika sampai hal 'itu' terjadi, kemungkinan besar, Sia hanya bisa dirawat di rumah sakit jiwa, tidak dipulangkan, sebelum dia benar benar pulih." Pria itu menatap wajah Herson, ingin tahu bagaimana reaksi pria itu.


"Ayah, aku lebih tahu kondisi putriku seperti apa." Ucap Herson mengepalkan tangannya.


"Yayaya, kau memang ayah yang 'sangat baik'. Aku bisa apa, aku hanya menasehatimu sebagai ayahmu, dan sebagai kakek cucuku. Untuk bagaimana kamu mau menerima ucapanku, yah itu keputusanmu. Aku tidak banyak ikut campur. Hanya saja... fealingku tidak pernah salah loh." Ucap pria itu yang diakhiri dengan senyuman miring, mengejek Herson.

__ADS_1


Herson semakin muram setelah mendengar penuturan ayahnya itu, memang apa yang dia katakan tidak salah. Tapi, bagaimana bisa dia berpisah dari putrinya itu, untuk waktu yang lama, tidak mungkin.


Pria tua itu, kita panggil saja dia dengan Tn. Louis, yang memiliki nama lengkap Vuitton Louise Winston. Dia pergi dari hadapan Herson dengan aura suram yang entah sedang menahan kekesalan, amarah, sedih. (Okay cameramen, ikuti Tn. Louis 🤣🤣)


Tn. Louis memasuki kamarnya yang bernuansa serba gold. Dia langsung berjalan menuju rak besar yang ada di kamarnya itu. Menarik sebuah buku, dan dengan ajaib, rak itu berputar seperti di sihir, Tn. Louis menghilang dalam kegelapan, dan rak itu kembali seperti semula. (Magic 🤩👏🏻)


Sekarang Louis berada di ruang rahasianya, begitu juga dengan cameramen bayaran author yang sedang nyungsep dibawah meja, takut ketahuan sama si doi yang lagi di intip privasinya.


Tn. Louis menatap batu jade yang berada dimeja, ditengah ruangan itu. "Sebenarnya, apa yang telah terjadi. Mengapa jade ini tidak kembali kewarna semula. Aku benar benar tidak bisa mengerti." Gumam Tn. Louis sambil menatap batu jade yang saat ini berwarna merah menyala. Harusnya jade itu memiliki warna hijau zamrud.


"Dan beberapa waktu lalu, apa yang telah terjadi? Mengapa batu ini mati dan kehilangan energinya untuk beberapa waktu?" Gumamnya lagi.


"Jika aku tidak salah, Jade akan mati, jika pemiliknya juga tiada. Apa waktu itu, Sia pernah mengalami sesuatu yang buruk? Dan warna ini? Apa ini masih hal yang wajar?"


"Tidak bisa seperti ini, aku harus mencari tahunya sendiri." Gumam Tn. Louis sambil menggenggam liontin yang ada dilehernya.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


"Lohhh, Opa Win. Kok gak bilang kalau mau kesini Opa?" Ucap Alesa sambil memeluk pria tua, yang gerakannya di ikuti oleh Dirga dan Alvaro.


"Suprise dong." Ucap Tn. Louis dengan nada sombong, sambil membuka kacamata yang sejak tadi bertengger di pangkal hidungnya.


"Terserah Opa deh. Ayo duduk dulu, Opa pasti capek." Ucap Alesa sambil menuntun Tn. Louis untuk duduk. "Opa mau minum apa? Biar Sasa buatin." Ucap Alesa ramah.


"Kopi deh. Mau usir set*n ngantuk." Ucap Tn. Louis, dan Alesa hanya mengangguk dan membuatkan kopi untuk Opanya itu.

__ADS_1


"Dimana Sia?" Tanya Tn. Louis pada kedua pemuda yang lagi duduk di depannya itu.


"Kalau jam segini, dia jarang ada dirumah Opa. Biasanya malam baru ada." Jawab Dirga dengan hati hati.


"Lohh, kemana dia? Masa sekolah seharian?" Tanya Tn. Louis.


"Mungkin ada kegiatan sekolah Opa." Jawab Alvaro dengan tenang.


"Ohhh, baiklah. Lalu kalian gak ada kegiatan?" Ucap Tn. Louis mengangguk paham, lalu bertanya.


"Varo sih gak ada Opa. Paling main sama temen." Jawab Alvaro.


"Untuk hari ini gak ada kegiatan apa apa dikantor Opa, paling cuma tanda tangan beberapa berkas, tspi bisa di tunda untuk besok." Jelas Dirga.


"Terus gimana kuliah kamu? Gak kamu lanjutin?" Tanya Tn. Louis pada Dirga.


"Em, untuk beberapa hari kedepan, aku udah ambil cuti, mau fokup ngurus perusahaan Papa sama perusahaan aku juga." Ucap Dirga menjelaskan.


"Yaudah, kalau gitu, perusahaan Papa kamu, biar Opa yang hendel, kamu bisa lanjutin kuliah kamu." Ucap Tn. Louis.


"Gak usah Opa, aku bisa kok." Tolak Dirga halus.


"Udahhh, Opa juga bisa main bisnis. Kamu gak usah takut kalau perusahan papa kamu itu bangkrut." Kekeuh Tn. Louis.


__ADS_1


Nama : Vuitton Louise Winston


Umur : 70 Tahun


__ADS_2