Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi

Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi
BAB 6 Murid Baru


__ADS_3

✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


10 menitan, Zelisia dan Mustika sudah berada di depan gerbang rumah Mustika. rumah Mustika dua kali lebih kecil dari rumah Zelisia, tapi kesan mewah dari rumah itu tidak hilang.


"Udah, sana lo cepat ambil buku lo. Gw tunggu di sini." Ucap Zelisia yang langsung mendorong tubuh Mustika masuk kedalam gerbang.


"Kamu juga ma..." Mustika belum menyelesaikan ucapannya, tapi tubuhnya sudah terdorong masuk kedalam gebang. "Hahh~" Mustika hanya menghela nafas mendapat perlakuan seperti itu dari Zelisia yang menjadi teman sebangkunya itu. Mustika langsung berlari, memasuki rumahnya, dan berusaha secepat mungkin bisa sampai kekamarnya dan mengambil bukunya. Jangan sampai Zelisia menunggunya terlalu lama, apalagi matahari sudah mulai panas, karena waktu sudah menunjukkan pukul 07:07 am.


Setelah sekitar lima menit menunggu, Mustika akhirnya keluar dari gerbang, dan berjalan tergesah gesah ke arah Zelisia yang masih senantiasa menunggu diatas motornya, sambil memainkan ponselnya.


"Maaf Zel, lama. Soalnya aku masih harus cari bukunya." Ucap Mustika meminta maaf.


"Cuma lima menitan. Udah, ayo naik. Gak usah banyak bacot, atau nanti kita ketinggalan pelajaran." Ucap Zelisia yang langsung menyalakan mesin motornya, dan Mustika pun langsung naik ke jok motor itu.


Setelah memastikan posisi Mustika sudah aman, Zelisia langsung melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, yang membuat Mustika terkejut. 'Ini sih, namanya cari mati.' Batin Mustika yang memeluk erat pinggang Zelisia karena takut iya akan terbang dari motor itu.


Sedangkan pengedara lain yang di salip oleh motor Zelisia, memaki Zelisia karena hampir membuat mereka celaka. Sedangkan Zelisia sama sekali tidak peduli, yang dia tau, dia harus segera sampai ke sekolah, agar tidak ketinggalan pelajaran.


Sampai di sekolah, Zelisia langsung memarkirkan motornya dengan asal di parkiran. Jika kalian tanya apakah gerbangnya tidak di tutup? Jelas udah di tutup lima menit yang lalu. Tapi Zelisia menggunakan gerbang belakang yang biasa di gunakan anak anak untuk bolos, jadi dia bisa masuk dengan aman.


"Zel, kita harus sembunyi sembunyi masuknya. Kalau gak, kita bakal ketangkep sama OSIS, dan kita bakal di hukum nantinya." Ucap Mustika dengan suara pelan, dan matanya berputar-putar menatap sekitar dengsn waspada, takut-takut ada OSIS yang sedang berkeliling.


"Udah, tenang aja. Hari ini ada rapat OSIS, jadi gak usah takut." Ucap Zelisia yang berjalan santai di koridor sekolah.


"Oh yah? Kamu tau dari mana kalau hari ini ada rapat OSIS?" Tanya Mustika, dia saja tidak tau, bagaimana teman sebangkunya yang menurutnya Kudet itu, bisa tau?


Jelas Zelisia tau, orang dia udah baca keseluruhan isi novel ini kok. Tapi gak mungkin dia jawab 'Gw 'kan udah baca nih novel sampai ending, masa gw gak tau?!' Dia harus memutar otak, agar bisa memberikan alasan yang tepat pada Mustika.


"Tadi aja kita lewat gerbang belakang, gak ada siapa-siapa tuh. Biasanya kan, OSIS lebih sering jaga disana, jaga-jaga ada anak yang coba-coba bolos." Ucap Zelisia menjelaskan. Emang benar, tadi itu gak ada OSIS yang jaga disana, makanya mereka bisa masuk dengan aman.


"Iya juga yah. Aku gak merhatiin tadi, soalnya udah takut bakal kena hukum, hehe." Ucap Mustika yang tertawa garing.


"Eh, kayaknya kelas kita gak ada guru deh?!" Ucap Zelisia yang melirik ruangan kelasnya lewat jendela, dan tidak menemukan guru disana.


"Mungkin belum masuk aja Zel." Ucap Mustika yang hanya di balas anggukan kecil dari Zelisia. Merekapun langsung mamasuki kelasnya, dan berjalan ketempat mereka.


"Kalian dari mana?" Tanya seorang pria pada kedua orang itu, dan semua mata langsung menatap kedua gadis yang sedang tersenyum kaku ke arah pria yang menjabat sebagai ketua kelas itu.


"Itu, tadi buku catatanku ketinggalan, terus Zel temenin aku ambil buku catatanku dari rumah." Ucap Mustika jujur.


Ketua kelas hanya ber'oh'ria, mendengar jawaban Mustika.


"Gurunya kemana?" Tanya Zelisia sambil menatap ketua kelas.


"Gak tau. Tadi cuma di kasih tugas lewat grup chat. Nanti di kumpul sebelum masuk jam kedua." Ucap ketua kelas sambil memperlihatkan layar ponselnya.


"Sini bentar ponselnya." Ucap Zelisia yang langsung merebut ponsel itu, dan mulai mengotak atiknya.

__ADS_1


"Dasar gak sopan?!" Gerutu ketua kelas ketika ponselnya di otak atik oleh gadis itu.


"Nah, udah. Makasih." Ucap Zelisia yang langsung mengembalikan ponselnya, dan berjalan ketempat duduknya sambil mengeluarkan ponselnya dari saku jacket yang belum dia lepas dari tubuhnya.


Zelisia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas, mencari anak baru yang di bicarakan oleh Mustika pagi tadi. Saat berbalik ke belakang, Zelisia terpingkal kaget saat matanya bertemu dengan mata sipit seorang pria, yang saat ini sedang menatapnya.


"AAAAA." Teriak Zelisia membuat semua mata di kelas itu tertuju padanya.


Oh, Zelisia jelas tau siapa pria di belakangnya ini. Pemilik mata sipit itu adalah Lucas, pria yang akan menghabisi dirinya, karena menjadi antek para jal*ng yang mengganggu ketenangan mereka. Saat melihat wajah pria itu secara langsung, membuat Zelisia semakin takut, dengan wajah pria yang dimata siapapun terlihat imut, tapi di matanya, itu seperti boneka setan yang sangat mengerikan.


"Lo kenapa Zel?" Tanya ketua kelas melihat raut takut dari wajah gadis itu. Mereka semuapun penasaran dengan apa yang bisa membuat gadis itu takut.


"Di... Di... Dibelakang gu... Gw, a... Ada setan cok?! Anj*rrrr." Ucap Zelisia dengan gagap.


"Anj*rrr, si Lucas di kira setan. Ngakak anj*rrr Jhahaha." Tawa seorang pria yang duduk di samping pria itu yang tidak bisa menahan tawanya.




...(Yang Zelisia lihat)...


"Gak cuma otak lo yang bermasalah Zel, mata lo juga katarak. Orang cogan gitu kok, lo katain setan." Ucap Riska menatap Zelisia yang menurutnya aneh.


"Anj*rrr, lo juga bisa liat dia Ris? Bukan setan berti?!" Ucap Zelisia yang masih bergidik ngeri setelah tidak sengaja menatap mata Lucas.


"Anj*rrr, gw jelasin panjang kali lebar kali luas, kayak rumus kubus matematika, cuma di tanggapi 'ohhh'?! S*alan emang?!" Ucap ketua kelas yang kesal dengan Zelisia, sedangkan Zelisia hanya terkekeh mendengar kekesalan ketua kelas itu, sangat sentimen.


Kelas itu kembali sunyi, karena mereka sibuk mengerjakan tugas yang di berikan oleh guru, begitu juga dengan Zelisia. Sesekali Zelisia melirik Delia dengan Riska, kemudian menghela nafas. Entah kenapa, dia merasa iba pada kedua gadis itu yang harus berakhir dengan tragis.


'Apakah aku harus menolong mereka? Atau biarkan saja mereka menerima ajal mereka? Tapi.... Hah, udahlah. Gak usah pikirin orang lain. Biarin aja mereka lakuin apa yang mau mereka lakuin.' Batin Zelisia yang berusaha tidak peduli.


"Ayolah Zel. Sejak kapan lo peduli sama urusan orang lain?!" Gumam Zelisia sambil menggeleng pelan.


"Kamu ngomong sama siapa Zel?" Tanya Mustika yang mendengar gumaman Zelisia.


"Gak kok. Bukan apa-apa." Ucap Zelisia sambil menggeleng pelan. Mustika hanya ber'oh'ria setelah mendengar jawaban Zelisia.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


"Nama lo siapa?" Tanya Lucas yang memukul pelan kepala Zelisia menggunakan mistar plastik yang ada di tangannya.


Mustika menoleh kebelakang dan melihat apa yang sedang dilakukan Lucas, iya hanya tersenyum manis ke arah Lucas. Ah, dia malu untuk mengatakan pada Lucas, bahwa teman sebangkunya itu sudah tertidur pulas, dan dia tidak akan bangun dengan cara seperti itu.


"Eh, hai. Namaku Mustika, panggil Tika juga boleh, kalau dia namanya Zelisia, panggilannya Zeli". Ucap Mustika yang setia dengan senyum manis yang mengembang di bibirnya.


"Oh, gw Andrean, panggil Rean." Ucap Andrean memperkenalkan diri.

__ADS_1


"Gw Lucas. Panggil sayang juga gapapa." Ucap Lucas dengan senyum lima jari yang dia pamerkan, jangan lupa lesung pipi yang terlihat saat dia tersenyum membuat keimutannya bertambah.


"Hmm." Mustika hanya menatap Lucas datar, ah dia tau sekarang, Lucas ini seorang playboy, dan sebaiknya jangan terlalu dekat dengan playboy sepertinya. Sedangkan Andrean cukup ramah, setidaknya dia bukan playboy seperti Lucas. Tapi Mustika penasaran dengan pria yang sedang tertidur itu, dan memutuskan untuk bertanya. "Yang itu lagi?" Cicit Mustika sambil menunjuk Erlangga menggunakan dagunya.


"Oh, namanya Erlangga. Sebaiknya jangan ganggu dia, soalnya dia lebih seram daripada setan." Ucap Andrean yang sedikit berbisik pada Mustika.


"Hah? Beneran?" Tanya Mustika tidak percaya dengan ucapan Andrean dan bertanya pada Lucas.


"Iya, beneran. Jadi lebih baik jauh-jauh aja dari dia." Ucap Lucas membenarkan ucapan Andrean.


"Tapi, kenapa kalian bisa temenan sama dia, kalau dia nyeremin kayak yang kalian bilang?" Tanya Mustika dengan polosnya.


"Eee, kalau itu... Kita emang udah temenan dari kecil." Ucap Andrean dengan wajah datar.


"Oh, aku paham". Ucap Mustika mengangguk pelan dan tersenyum, manis seperti biasanya.


"Ka... Tugasnya belum di kumpul?" Gumam Zelisia yang kesadarannya belum kembali sepenuhnya, posisinya masih sama seperti sebelumnya.


"Belum Zel. Emang kamu udah selesai kerjain tugasnya?" Ucap Mustika yang diakhiri pertanyaan.


"Hoooaaaammm." Zelisia menegakkan tubuhnya, seraya menguap, dengan tangan kiri yang terangkat keatas, dan tangan kanan yang menutup mulutnya yang terbuka lebar. "Udah." Jawab Zelisia sambil mengusap lembut matanya.


"Yakin udah Zel?" Tanya Mustika lagi.


"Udah Mustika cantik." Ucap Zelisia yang gemas, sambil memperlihatkan pekerjaannya.



Nama : Erlangga Mahendra


Umur : 17 Tahun



Nama : Andrean Mitchell


Umur : 17 Tahun



Nama : Lucas Arkansa


Umur : 17 Tahun



Nama : Gerald Nicholls

__ADS_1


Umur : 17 Tahun


__ADS_2