Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi

Mengubah Takdir Karakter Novel Fiksi
BAB 9 Hari Pertama Kerja


__ADS_3

Zelisia langsung menjatuhkan gunting itu dilantai. "Anj*rrrlah. Masa gw bunuh diri?! Gak, gak. Hahhh, udahlah. Bingung gw. Yang penting nikmati aja dulu, apa yang udah ada." Ucap Zelisia melepas kasar tubuhnya ke sofa panjang.


Tring


Ponsel Zelisia berdering membuat sang empu bang dari duduknya dan mengambil ponselnya. "Ohh, cuma alarm." Gumam Zelisia yang langsung bersiap siap. Dia ingat, bahwa ini hari pertama dia berkerja di cafe.



"Nah, perfect. Waktunya berangkat." Ucap Zelisia yang langsung keluar dari kamarnya. Beruntung saat ini tidak ada orang di rumah, kecuali para pekerja.


Dia langsung mengambil sepeda yang dia temukan di gudang kemarin, dan menggunakan sepeda itu ketempat kerjanya. Sampai di tempat tujuan, dia langsung pergi ke ruang ganti, dan menggunakan baju putih yang menjadi seragamnya sekarang.


Setelah berganti, dia langsung mengambil tempatnya, di mana dia sekarang adalah seorang barista. Padahal baru masuk, tapi dia langsung menjadi barista, bukan pelayan.


Dengan wajah Zelisia yang terlihat tampan dan manis, dengan keahlian membuat kopi yang cukup baik, tentu saja akan menarik pelanggan lebih banyak, apalagi jika ia di tempatkan di tempat yang lebih terbuka, dan mudah terlihat.


"Kyaa, sangat tampan. Bolehkan mengambil foto bersama?" Ucap seorang pelanggan wanita saat Zelisia berdiri dengan senyum manis yang selalu mengembang di wajahnya, membuat pesonanya bertambah.


"Ohh, tentu saja boleh nona manis. Jika kamu mau, aku akan membuatkanmu kopi coklat berbentuk hati." Ucap Zelisia memberi wink pada pelanggan pertamanya itu, dengan senyuman yang tidak pernah luntur.


"Aaaaa, baiklah. Aku akan minum apapun yang kamu buat." Ucap gadis itu dengan semangat, dia telah mengambil begitu banyak gambar bersama barista itu.


'Kayaknya, besok gw bakal jadi trending topik.' Batin Zelisia yang dengan telaten membuat kopi dengan bentuk hati untuk pelanggan pertamanya.

__ADS_1


"Kak, boleh tau namamu?" Tanya pelanggan lain yang baru datang.


Dengan senyum yang mengembang, Zelisia menjawab dengan nada yang lebih halus. "Orang berkata, sebelum bertanya sesuatu, katakan sesuatu tentang dirimu lebih dulu, agar seseorang bisa merasakan ketulusanmu. Karena itu, perkenalkan, nama saya Zhaka. Jika boleh tau, siapa nama nona cantik ini?" Ucap Zelisia dengan sopan masih setia dengan senyumannya.


Hanya dalam satu jam, cafe itu langsung di penuhi pelanggan wanita, juga pasangan, karena sambutan ramah yang di berikan oleh Zelisia membuat cafe itu di banjiri pelanggan. Bahkan para pelayan di buat kewalahan karena pelanggan yang terus berdatangan.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


"Gila, hari pertama kerja, rasanya ini badan bakal rontok. Nih tulang tulang gw rasanya bakal rontok." Ucap Zelisia yang baru keluar dari kamar mandi. Tumben sekali dia mandi sore.


"Capek nj*rrr, besok gw ijin sekolah deh. Gw yakin, besok badan panas dingin." Ucap Zelisia pada dirinya sendiri.


Karena cacing cacing diperutnya sudah berdemo, minta di beri asupan, Zelisia langsung keluar dari kamarnya, dan turun menggunakan lift.


"Kak, bagaimana jika kita pergi saja dari sini?" Usul Alesa sambil menatap punggung Zelisia.


Kedua pria itu saling menatap, kemudian menatap Alesa. "Papa sama mama bakal ngerasa bersalah sama orang tua kita, kalau kita pergi dari sini." Ucap Alvaro menanggapi usulan adiknya itu.


"Dan bisa saja, karena kepergian kita dari sini, papa sama mama bakal salahin Zelisia untuk semua itu. Karena yang mereka tau, Zelisia gak suka sama keberadaan kita." Sambung Dirga, membuat gadis itu membuang jauh jauh niatnya untuk pergi dari sana. Apa yang dikatakan Alvaro dan Dirga, masuk akal. Bisa saja hubungan kedua orang tua dan anak itu semakin memburuk. Dia tidak ingin membuat Zelisia semakin membencinya, dan kedua kakaknya itu.


"Lalu, kita harus gimana kak?" Cicit Alesa. Kedua pria itu hanya mengangkat bahu, mereka juga tidak tau harus bersikap seperti apa. Bukannya mereka tidak berusaha, tapi memang Zelisia sendiri yang membuat jarak yang begitu jauh antar mereka, sehingga mereka juga akan berpikir panjang, dan menyiapkan mental jika ingin bertemu atau berbicara dengan Zelisia. Apalagi, akhir akhir ini, kata kata yang dilontarkan gadis itu, selalu memukul keras mental mereka.


"Seandainya Zelisia gak tau kalau kita cuma saudara angkatnya, pasti Zelisia gak bakal bikin jarak sejauh ini sama kita. Zelisia bakal jadi anak cengeng, yang selalu kak Dirga sama kak Varo manjain, terus aku bakal jadi orang yang paling sering bertengkar samanya Sia." Ucap Alesa menatap sendu kedua kakaknya.

__ADS_1


"Sudahlah. Tidak ada masalah yang bisa selesai dengan menangis dan mengeluh." Ucap Varo menepuk pelan kepala gadis itu. Dia tau persis perasaan adiknya, tidak hanya tau, dia juga merasakan hal yang sama, tapi dia harus terlihat tegar dan tidak lemah.


"Kita harus bersabar menghadapi sifat Zelisia. Mau bagaimanapun, dia tetap adik kita." Timpal Dirga yang langsung dibalas anggukan dari kedua orang itu.


✄┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈┈


Keesokan harinya, seperti yang dikatakan Zelisia kemarin, dia akan ijin hari ini. Dan sekarang, gadis itu masih enggan melepaskan tubuhnya dari lilitan selimut yang sudah menutup seluruh tubuhnya.


"Hufftttt.... Haahhh..." Deru nafas Zelisia tidak beraturan, karena memang tubuhnya yang terlalu lemah untuk melakukan pekerjaan berat.


"Pa... panas bet, hahhhh.... Perasaan ta... tadi udaranya ma... masih dingin..." Ucap Zelisia dengan nada pelan. Dia langsung menyingkirkan selimut yang masih menutup tubuhnya, dan mencoba turun dari tempat tidur dan membasuh wajahnya, tapi karena sama sekali tidak memiliki tenaga, Zelisia malah terduduk saat baru saja dia akan berdiri.


'Ahh, b*tch. Lemes bet nj*rrr. Rasanya tubuh gw mati rasa semua.' Batin Zelisia menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. "Kalau udah gini ceritanya sih, gw juga harus ijin kerja. Tapi, masa iya baru hari kedua udah bolos or ijin?!" Gumam Zelisia menggeleng pelan.


"Dari pada itu, gw harus kembaliin energi gw dulu. Gw butuh makan." Gumam Zelisia sambil melihat sekeliling. Mata Zelisia langsung tertuju pada vas bunga yang ada di meja samping kasurnya. Tangannya terulur meraih vas bunga itu, kemudian dia mengumpulkan tenaganya sebanyak yang iya bisa, lalu melempar vas itu hingga membentur dinding, dan menghasilkan suara benturan yang cukup keras.


BRAKKK


PRANGG


Para pekerja yang mendengar suara bising itu datang dari kamar nona muda mereka, mereka langsung berlari dengan panik ke kamar Zelisia dan memastikan kondisi gadis itu baik baik saja.


Bertanya dimana orang tuanya? Tentu saja sibuk dengsn pekerjaan mereka. Para kakak angkatnya? Mereka bersekolah, tentu saja. Bibi? Sedang kepasar, jadi hanya ada para pekerja dan Zelisia dirumah besar itu.

__ADS_1


__ADS_2