
Gadis itu langsung menghampiri kelima orang itu "Hay." Sapa gadis itu dengan senyum canggung.
"Hai El, mereka teman temanku." Ucap Zelisia dengan senyum manisnya.
"Gw kenal dia Ze... Maksud gw Ka." Ucap Alaskar yang langsung mengubah panggilannya.
"Oyah? Beneran El?" Tanya Zelisia sambil menatap Elisa.
"Iya Ka, mereka teman sekelas ku." Ucap gadis itu sambil mengangguk ringan.
"Oh... Pesan kayak biasa 'kan El?" Tanya Zelisia yang bangun dari posisi duduknya, dan langsung mendapat respon anggukan dari Elisa.
"Ehh, gw layani ini dulu, ntar gw balik lagi." Ucap Zelisia menatap teman temannya.
Zelisia langsung mempersilahkan Elisa untuk duduk di tempat biasa Elisa duduk, sedangkan Zelisia mulai membuatkan pesanan Elisa.
Setelah pesanan Elisa jadi, Zelisia kembali ke meja tadi, dan berkumpul dengan teman temannya itu.
Mereka nongkrong di caffe itu sampai jam kerja Zelisia habis. Sekarang mereka sedang berada di ruang tamu rumah Zelisia, entah bagimana mereka bisa berada di sana.
"ANJ*RRR ZEL, TOLONGIN GW OII, DARAH GW UDAH MAU ABIS." Teriak Alaskar tepat di telinga Zelisia, dengan panik.
"DIEM LO KASAR. LO GAK TAU APA, INI MUSUH UDAH KEPUNG GW NJ*RR." Teriak Zelisia dengan kesal sambil mengutak atik ponselnya.
"HAHA, MATI LO, MATI?!"
"ASEM, OII, JANGAN CURANG LO RAY?!"
"ASEM LO. GAK USAH RIBUT NJ*RRR, GW GAK FOKUS."
Kegaduhan mereka membuat orang tua Zelisia bingung. Mereka baru saja pulang, dan sedang memarkirkan mobil mereka di garasi. Saat akan masuk, mereka malah mendengar kegaudahan itu. Seketika kedua orang itu menjadi panik, dan dengan terburu buru masuk ke ruang tamu, dan memastikan apakah yang mereka pikirkan itu salah atau tidak.
"Ehh, mereka siapa?" Tanya Herson saat melihat keempat pria itu sedang duduk sambil bermain game di sana.
"Apa mungkin teman teman Zelisia?" Ucap Chelsea menebak.
__ADS_1
"Mereka lebih seperti berandalan." Timpal Herson yang mendapat anggukan dari Chelsea.
"Sia." Panggil kedua orang itu sambil berjalan mendekati mereka.
Sontak mereka langsung mengalihkan perhatian mereka kepada kedua orang tua Zelisia.
"Mereka teman teman kamu?" Tanya Chelsea.
"Hm, iya." Jawab Zelisia dengan anggukan singkat.
"Halo om, halo tante." Ucap mereka dengan sopan.
"Yahh. Kalian pulanglah, ini sudah malam." Ucap Herson, dan ucapan Herson membuat mereka saling memadang satu sama lain. Ayolah, sekarang bahkan belum menunjukan waktu jam makan malam, sopankah begitu....
"Yaudah om. Kalau gitu, kita pamit dulu. Zel, kita balik ye." Ucap mereka yang menyadari ketidaksukaan orangtua Zelisia dengan keberadaan mereka. Tohh, untuk apa juga berada lama di tempat yang jelas tidak menginginkan keberadaan kita. (Mereka gak sama kayak kakak angkatnya Zelisia wehhh πππ)
"Iya, tiati lo?!" Ucap Zelisia sambil tersenyum manis kepada mereka.
Setelah kepergian mereka, raut wajah Zelisia langsung berubah, seolah yang tadi tersenyum itu orang lain, bukan Zelisia. Zelisia memutar bola matanya malas, kemudian langsung berjalan ke lift. Jujur saja, dia sama sekali tidak nyaman jika harus berada di dekat kedua pasutri yang berstatus sebagai orangtuanya itu, terlebih, mereka hanya memiliki hubungan darah, tapi tidak hubungan batin antara orangtua dan anak.
"Sia?! Mama belum ngomong sama kamu?!" Panggil Chelsea mencoba menghentikan langkah Zelisia.
'Cihhh, lo pikir gw orang bodoh yang mau buang buang waktu sama tenaga gw buat ladenin lo gitu?! Sorry sorry ye, badan aing udah pegel pegel, otak aing lelah, mulut aing udah kaku, jadi butuh istirahat. Gada waktu buat ladenin orang g*la?!' Batin Zelisia yang terus berjalan sambil menulikan telinganya, dia tidak peduli pada apapun, kecuali dirinya sendiri (itu prioritas utama, pastinya).
"Anak itu..." Ucap Herson berusaha menahan amarahnya. Apakah anaknya itu sudah tidak memiliki etika lagi? Dia sudah 1 begitu besar kepala, bahkan dia sudah tidak mendengarkan orangtuanya lagi.
"Ini salah mama, mama udah gagal didik Sia, makanya dia jadi kayak gini, hiks hiks." Tangis Chelsea sambil mendudukkan dirinya di sofa.
"Gak ma. Mama gak gagal kok, ini salah papa, karena udah terlalu manjain dia dari dulu, makanya dia jadi keras kepala." Ucap Herson sambil membawa Chelsea kedalam pelukannya.
ββββββββββββββββ
Ditembok yang berada diatara tangga dan lift, Alvaro berdiri, dan menyaksikan kejadian itu dari awal sampai akhir. Awalnya dia berniat untuk membuat kopi, karena rasa kantuk sudah menyerangnya, padahal hari masih sore.
Sebelum sampai ketempat tujuan, langkahnya terhenti tatkala melihat keramaian di ruang tamu. Dia memilih untuk mencari tahu apa yang terjadi disana.
__ADS_1
Setelah menyaksikan semua kejadian itu, dia langsung kembali kekamarnya dengan perasaan campur aduk, layaknya gado gado. Kwkwk
Alvaro duduk termenung di teras kamarnya, pikirannya sudah melayang entah kemana. Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya ketika wanita yang berstatus sebagai mama angkatnya itu menangis, lagi.
"Maaf." Lirih Alvaro sambil meloloskan air matanya yang sejak tadi sudah menumpuk di pelupuk matanya. Alvaro kembali mengingat kejadian dimana hubungan mereka dengan Zelisia yang dulunya sangat baik dan harmonis, tiba tiba menjadi seperti musuh yang tinggal di bawah atap yang sama.
ββββββββββββββββ
Saat itu usia Zelisia, baru beranjak 11 tahun. Tampangnya yang selalu terlihat polos dan imut, membuat dia di perlakukan begitu istimewa, terlebih dia adalah PUTRI TUNGGAL Keluarga Winston. Tidak hanya di istimewakan oleh orangtuanya, kakak kakaknya itu selalu mematuhi, dan selalu menghabiskan waktu bersama Zelisia.
Lama kelamaan, Zelisia merasa, dia sangat berbeda dari kakak kakaknya itu. Mulai dari fisik hingga sifat mereka sangat berbeda. Sifat Zelisia yang lebih banyak berbicara, dan periang, berbeda jauh dari sifat anggun ala bangsawan dari kakak kakaknya itu.
Zelisia yang berusaha tidak terlalu memikirkan perbedaan itu, malah semakin terusik, dan itu membuatnya tidak nyaman. Dia mulai mengira ngira, apakah dia bukan anak kandung orangtuanya? Mungkinkah dia hanya anak yang dibuang dan dipungut oleh keluarga ini.
Semakin lama dia memikirkan itu, perasaan takut semakin besar dalam hatinya. Bagaimana jika suatu saat dia melakukan suatu kesalahan, dan orangtuanya akan membuangnya. Tidak?! Dia harus mengetahui apa yang disembunyikan keluarganya itu, dia tidak ingin, suatu saat dia di usir seperti anj*ng dari keluarganya itu.
Suatu hari, diam diam Zelisia mengambil sempel DNA keluarga, kemudian membawanya kerumah sakit untuk di cocokan satu persatu. Rasa takut Zelisia langsung sirnah, setelah hasil DNAnya dengan orangtuanya cocok. Tapi dia sangat terkejut, ketika hasil DNA ketiga kakaknya itu tidak ada kecocokan sama sekali dengan dia dan orangtuanya.
Setelah mengetahui itu, Zelisia langsung membawa hasil tes itu kerumah, dan memperlihatkannya kepada orangtua dan ketiga kakaknya itu.
Alvaro marah besar pada Zelisia, menurutnya Zelisia tidak harus mengetahui hal ini. Karena itu, Alvaro dan Zelisia bertengkar hebat, kedua orangtuanya berusaha memberi penjelasan pada Zelisia, tapi Zelisia yang sudah terlanjur marah, sudah tidak mendengarkan orangtuanya itu.
Dirga dan Alesa berusaha menenangkan Alvaro, tapi kedua orang itu berada di posisi yang meninggikan ego masing masing, keduanya saling mencari kesalahan satu sama lain.
Mulai dari saat itulah, Zelisia dan ketiga kakak angkatnya itu, tidak lagi berinteraksi dengan baik, terlebih Alvaro dan Zelisia yang semakin dingin satu sama lain.
Karena hal itu, kondisi Zelisia semakin drop,hingga orangtuanya membawanya kerumah sakit. Alvaro pun ingin berbaikan dengan Zelisia, dan berharap Zelisia akan baik baik saja. Tapi ekspetasi tak sesuai realita, pada dasarnya, Zelisia sudah membenci mereka, dan tidak bisa menerima keberadaan mereka lagi.
Waktu berjalan begitu cepat, dengan Zelisia yang selalu di bawa ke ahli psikologis untuk cek up, hingga akhirnya Zelisia dinyatakan sudah sehat, dan bisa kembali beraktivitas seperti anak lainnya, setelah 3 tahun di cek up rutin.
Tapi, itu bukan berarti Zelisia sudah bisa menerima kakak angkatnya. Bagaimanapun, Zelisia belum dewasa, dan memiliki pemikiran yang sempit, masalah kecilpun, bisa menjadi boom yang bisa menghancurkan segalanya, bagi Zelisia.
Alvaro mengacak rambutnya, mengingat, dia yang dulunya sangat melindungi Zelisia, malah bertengkar begitu hebat dengannya.
ENDπ
__ADS_1