
Keesokan hari, Alana terbangun dari tidurnya yang cukup panjang. Semalam dia diberi suntik penenang oleh dokter yang diminta seseorang untuk menanganinya.
Alana mengernyit saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya, sedetik kemudian dia mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar yang dia tempati.
Gadis itu benar-benar bingung, dia merasa tengah berada di tempat yang sangat asing di matanya. Bukankah semalam dia berada di apartemen?
Alana memejamkan mata barang sejenak, dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi dengannya tadi malam.
Seketika mata Alana melotot dengan sempurna. Dia ingat bahwa semalam dia baru saja mengalami kecelakaan setelah meninggalkan apartemen Azzam.
Ya, dia juga ingat tubuhnya tertabrak mobil dan terlempar cukup jauh. Tapi kenapa dia masih hidup? Bukankah seharusnya dia sudah mati dan bertemu dengan kedua orang tuanya di surga?
Lalu tempat ini, dimana dia sekarang? Yang jelas kamar ini bukan apartemen milik suaminya. Siapa yang sudah menyelamatkannya semalam? Kenapa dia malah dibawa ke tempat asing ini?
Alana mulai pusing memikirkan semuanya, dia mendengus sembari memijat dahi yang terasa berputar-putar. Dia semakin gelisah saat tangannya menyentuh perban di kepala.
Ya Tuhan, apa yang terjadi dengannya?
Saat hendak mencoba turun dari ranjang, Alana dikejutkan dengan suara orang berbicara dari arah luar, dia seperti mengenal suara itu, tapi bukan Azzam.
Alana berusaha duduk dan mengangkat sebelah kakinya, dia ingin tau siapakah orang yang tengah berbicara di luar sana.
Akan tetapi, Alana tiba-tiba membungkam mulutnya sendiri saat salah satu kakinya tidak bisa digerakkan. Sangat berat seperti kebas, tidak ada rasa sama sekali.
"Apa yang terjadi denganku?" gumam Alana dengan pandangan berkabut. Dia kembali menggerakkan kakinya tapi tetap saja tidak bisa.
Saat mengirai selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, alangkah terkejutnya dia melihat sebelah kakinya dibalut perban.
"Aaaah..." Alana menjerit histeris, suaranya yang sangat lantang menggema memenuhi seisi kamar, bahkan terdengar jelas sampai ke luar.
Belum hilang keterkejutan di diri Alana, kini dia kembali dikagetkan dengan kedatangan seorang pria yang baru saja mendorong pintu.
Alana terkesiap, matanya memelototi pria itu dengan sangat tajam mematikan.
"Ri-rizal?"
Suara Alana terdengar terbata-bata, dia tidak bisa mempercayai ini sepenuhnya, ternyata dia tengah berada di rumah pria itu.
"Al, kamu kenapa?" tanya Rizal sembari berjalan menghampiri Alana.
__ADS_1
"Jangan mendekat!" sergah Alana mengacungkan lima jarinya ke arah pria itu.
Langkah Rizal langsung terhenti seketika itu juga, dia urung mendekat dan memilih mundur ke belakang.
Rizal tau Alana sedang syok, kecelakaan itu sudah menyebabkan sebelah kakinya patah. Ini pasti berat untuk Alana, Rizal sendiri sangat menyayangkan kejadian naas itu. Kenapa bukan mobilnya yang melintasi TKP itu lebih dulu?
Rizal berdiri di ujung ranjang dan menatap Alana dengan sendu. Dia kasihan melihat wanita yang dia cintai itu.
"Al-"
"Antar aku pulang, aku tidak ingin berada di sini!" sela Alana memotong ucapan Rizal.
Pria itu menggeleng lemah. "Tidak bisa, kamu harus tetap di sini!"
"Rizal, aku ini istri orang. Tolong jangan membuatku-"
"Aku tau bahwa kamu istri orang, aku juga tau pernikahan itu bukan kehendak mu. Untuk apa bertahan dengan pria seperti itu? Dia memiliki tempramen yang sangat buruk, kamu tidak akan pernah bahagia hidup bersamanya." potong Rizal.
"Itu bukan urusanmu, aku tau apa yang terbaik untukku." sergah Alana meninggikan suara.
"Tidak Alana, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari tempat ini. Buka matamu, dia tidak layak menjadi suamimu!" tukas Rizal.
"Cukup Al, tolong diam saja di sana!"
Rizal hendak mendekat, namun tiba-tiba Alana menjerit. Dia merasa seperti orang lumpuh, dia benar-benar tidak sanggup menggerakkan kakinya.
"Apa yang terjadi denganku?" tanya Alana menitikkan air mata.
Rizal mengusap wajah dengan kasar, helaan nafasnya terdengar berat. Dia pun duduk di dekat kaki Alana dan terpaksa menceritakan semuanya.
Rizal tau bahwa ini sangat menyakitkan untuk Alana, tapi bagaimana pun juga gadis itu berhak tau tentang apa yang terjadi dengannya.
Usai mendengar penjelasan Rizal, Alana meraung sejadi-jadinya. Hancur lebur hatinya mengingat penderitaan baru yang harus dia lalui.
Kenapa harus dia?
Kenapa Tuhan memberinya cobaan seberat ini? Belum cukupkah semua penderitaan yang dia tanggung selama ini? Apa dosa yang sudah dia lakukan sehingga Tuhan memberinya cobaan tanpa henti?
Melihat Alana yang sangat terpukul, dada Rizal sontak berdenyut, dia tidak tega membiarkan Alana seperti ini.
__ADS_1
"Al, kamu yang sabar ya. Aku akan mencari dokter terbaik untukmu, ini hanya untuk sementara." bujuk Rizal mencoba menenangkan wanita yang sangat dicintainya itu.
Alana mendongak. "Apa suamiku tau tentang ini?" dia terisak menanyakan itu.
Rizal menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Alana meremas dadanya dengan kuat. "Tolong tinggalkan aku sendiri!" pintanya sembari membuang muka.
Rizal mengangguk lemah, dia tidak mungkin memaksa Alana untuk tetap melihatnya. Dia langsung berdiri dan berjalan meninggalkan gadis itu seorang diri.
Selepas kepergian Rizal, Alana menjerit histeris dan memukul kakinya berulang kali. Dia merasa hidupnya benar-benar sudah berakhir.
Apa lagi yang tersisa darinya? Tidak ada sama sekali. Bahkan kematian akan lebih baik dari pada menanggung derita ini sendirian.
Di luar sana, Rizal menemui pelayan dan memintanya untuk mengawasi Alana. Dia tidak bisa memantau gadis itu selama dua puluh empat jam, dia juga harus bekerja dan mengelola bisnisnya yang baru.
Setelah menitipkan Alana pada pelayan itu, Rizal meninggalkan bangunan dan memasuki mobil yang terparkir di halaman.
Ya, Rizal tidak membawa Alana ke rumahnya, tapi dia menempatkan gadis itu di sebuah villa yang tidak terlalu jauh dari kota. Setidaknya tempat itu cukup nyaman untuk memulihkan mental Alana.
Tidak lama setelah Rizal meninggalkan villa, seorang pelayan masuk ke kamar membawakan makan siang serta obat yang harus diminum oleh Alana.
Sayang kehadiran pelayan itu tidak disambut baik oleh Alana. Dia mengamuk dan melempar wanita itu dengan bantal, dia tidak ingin makan apapun, apalagi meminum obat. Dia lebih baik mati menyusul kedua orang tuanya.
"Huuu... Hiks..."
Alana meratapi nasibnya yang sangat buruk. Sekarang dia cacat, Azzam tidak mungkin sudi menerima istri lumpuh sepertinya.
Ya, dalam keadaan hancur seperti ini, Alana tiba-tiba teringat pada sosok Azzam. Dia merindukan suara dan pelukan hangat suaminya itu.
Tapi semua itu tidak akan mungkin terjadi, sekarang hubungan mereka sudah berakhir. Azzam tidak menginginkannya lagi, Azzam tidak mencintainya lagi. Azzam sudah melepaskannya, itu artinya tidak ada hubungan apa-apa lagi diantara keduanya.
Sakit, Alana tidak bisa berhenti menangis. Semua ini bagaikan cambuk yang melukai sekerat raganya.
Apa yang harus Alana lakukan setelah ini? Dia tidak memiliki muka untuk bertemu Azzam lagi, dia juga tidak mungkin tinggal di tempat itu.
Bagi Alana, Rizal hanya masa lalu, dia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi terhadap pria itu.
Yang Alana tau hatinya sudah terpaut pada Azzam, dia mencintai suaminya itu. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat, Alana tidak mungkin menemui Azzam dalam keadaan seperti saat ini.
__ADS_1