
Rizal berhamburan dari mobil sesaat setelah mematut jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam telah menunjukkan pukul sebelas kurang lima menit, itu artinya lima menit lagi pesawat yang ditumpangi Azzam akan mengudara.
Dia pun berlarian memasuki bandara, langkahnya tergopoh-gopoh sehingga tak sengaja membentur orang-orang yang ada di dalam sana.
Rizal menghampiri petugas. Saat hendak menanyakan tentang keberangkatan pesawat menuju Brazil, disaat bersamaan terdengar gemuruh pesawat yang mulai mengudara, Rizal terkesiap dan mengusap wajah dengan kasar.
"Terlambat," desis Rizal dengan nafas terengah, bokongnya terhenyak di sebuah kursi.
Ya, Rizal merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan. Dia menyesal sempat menyembunyikan Alana dari Azzam. Andai saat itu dia berpikir dengan kepala dingin, mungkin kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Sekarang apa yang akan dia katakan pada Alana? Azzam sudah pergi, dia tidak memiliki muka untuk menatap mata gadis itu.
Dengan wajah kusut dan netra berkaca-kaca, Rizal pun bangkit dari duduknya. Dia meninggalkan bandara setelah memastikan keberangkatan pesawat tersebut.
Rizal menaiki mobil dengan lesu, dia benar-benar menyesal, karena dirinya semua menjadi semakin kacau seperti ini.
Dia pikir Alana akan kembali padanya, ternyata Alana tidak menginginkan dirinya sama sekali. Gadis itu sudah terlanjur mencintai Azzam suaminya.
Sekitar pukul sebelas lewat tiga puluh menit, Rizal tiba di ruko. Dia turun dari mobil dan memasuki bangunan itu dengan wajah cemas. Dia harus siap menerima konsekuensi atas perbuatannya.
Rizal menghampiri Alana yang tengah duduk di sebuah sofa, ramainya pengunjung sama sekali tidak berpengaruh bagi gadis itu. Dia masih saja menangis seorang diri, meratapi hubungan yang kini tidak jelas ujung pangkalnya.
"Al..."
Rizal tiba-tiba berlutut di kaki Alana. Dia menundukkan kepala, menunjukkan betapa menyesalnya dia karena kembali memasuki kehidupan Alana. Andai dia menerima pernikahan itu dari awal, mungkin Alana tidak akan pernah kehilangan cintanya.
"Apa yang kamu lakukan?" sergah Alana, dia terkejut melihat Rizal yang tiba-tiba berlutut di kakinya.
"Al, tolong maafkan aku! Aku tidak bermaksud menyakitimu." lirih Rizal, air matanya seketika menetes saat mematut wajah gadis itu.
Alana menyeka pipi dengan kasar, kedua alisnya bertautan menatap keanehan Rizal. Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu? Kenapa dia meminta maaf dan bertekuk lutut di kakinya.
"Azzam pergi, dia meninggalkan kota ini. Maafkan aku, aku sudah berusaha mencegahnya tapi aku terlambat." ungkap Rizal berlinangan air mata, dia sungguh menyesal telah membuat kekacauan.
Deg...
Alana memelototi Rizal dengan tajam, jantungnya berdegup kencang secepat lari maraton. "Apa maksudmu?" bentak Alana dengan suara meninggi.
"Al, maaf. Aku-"
__ADS_1
Alana menjerit histeris, dia memukul bahu Rizal dan mendorongnya dengan kasar kemudian meraih kursi roda dan berusaha keras mendudukinya.
"Al, kamu mau kemana? Tolong tenang dulu, aku-"
"Cukup Rizal, aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari mulutmu. Sekarang kau senang 'kan? Bukankah ini yang kau inginkan? Aku membencimu, aku tidak ingin melihat wajahmu lagi!"
Alana meraung sejadi-jadinya, dia menjerit histeris dan memukul kepalanya, bahkan menjambak rambutnya frutasi.
Rizal tidak tega melihat Alana yang benar-benar terpukul mendengar kepergian Azzam. Dia ikut menangis, dadanya terasa ngilu menyaksikan kehancuran gadis yang dicintainya itu. Dia semakin merasa bersalah atas kebodohan yang dia lakukan.
Beberapa menit berselang, Alana memanggil seorang karyawan dan meminta tolong untuk memindahkannya ke kursi roda. Setelah itu, dia pun meninggalkan ruko tanpa berucap sepatah katapun.
"Al, tolong jangan pergi! Ini milikmu, aku sudah-"
"Aku tidak membutuhkan semua ini. Ambil, aku lebih baik mati dari pada menerima bantuanmu. Gara-gara kau, aku kehilangan suamiku. Kau jahat, aku tidak ingin melihatmu lagi."
Alana melepaskan semua rasa sakit yang tertanam di hatinya, dia benar-benar marah pada Rizal. Harusnya pria itu tidak perlu membantunya, kenapa dia tidak dibiarkan mati saja saat kecelakaan itu terjadi? Apa gunanya dia hidup kalau Azzam sudah tidak ada lagi di kota ini?
Tanpa mendengarkan kata-kata Rizal, Alana pun berlalu pergi meninggalkan ruko itu. Dia menekan kontak kursi roda dan menyisir jalanan tanpa tau arah tujuan. Sedangkan Rizal tidak berani menyusul Alana, itu hanya akan semakin membuat Alana marah padanya.
...****************...
"Ya sudah, kembali saja ke apartemen, atur tiket baru untuk besok!"
Rudi memutar stir ke arah apartemen. Saat menuju bandara tadi, tiba-tiba mobil yang dikendarainya mogok di tengah jalan, mereka telat beberapa menit karena harus menunggu montir memperbaiki kendaraan tersebut.
Azzam yang duduk di bangku belakang hanya diam sembari memejamkan mata, dia terpaksa bersabar menunggu satu hari lagi.
Rudi yang tengah mengendarai mobil mematut Azzam sekilas melalui kaca spion, nampaknya Azzam sedikit gundah karena gagal meninggalkan kota itu.
Karena kurang fokus memikirkan keadaan Azzam, Rudi tiba-tiba menginjak pedal rem mendadak.
Ciiiit...
Braak...
Rudi terperangah kala kepala mobilnya membentur seseorang yang tiba-tiba melintasi jalan, suara benturan yang cukup keras membuat Azzam tersentak, tubuhnya terlempar ke jok depan.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Azzam dengan jantung bergemuruh kencang, dia benar-benar kaget dengan wajah memucat.
__ADS_1
"Ma-maaf Tuan, ada yang menyebrang tiba-tiba."
Rudi membuka pintu dan berhamburan melihat keadaan orang yang baru saja dia tabrak. Mata Rudi membulat sempurna mendapati seorang wanita yang sudah tergeletak di aspal dengan posisi tengkurap, wajahnya tidak terlihat sedangkan kursi roda yang digunakan wanita itu nampak patah dan remuk.
Rudi nampak panik dan lekas berjongkok. Dia mencoba membangunkan wanita itu tapi tidak berhasil. Wanita itu sepertinya kehilangan kesadaran.
Saat orang-orang mulai berdatangan, Rudi nampak panik. Dia tidak ingin dihajar massa.
"Tuan, tolong bantu aku! Wanita ini pingsan, aku harus membawanya ke rumah sakit." sorak Rudi dengan suara gemetaran, wajahnya nampak pucat ketakutan.
"Makanya kalau jalan tu hati-hati!" kesal Azzam, lalu segera turun dari mobil.
"Apa yang terjadi?" tanya orang-orang yang sudah mengelilingi tempat itu.
"Tidak apa-apa, kami akan bertanggung jawab." sahut Azzam santai lalu berjongkok di hadapan Rudi.
"Kami akan membawa wanita ini ke rumah sakit. Percayalah, ini tidak disengaja. Wanita ini tiba-tiba melintas tanpa memperhatikan sekelilingnya." Rudi mencoba membela diri.
Azzam menatap Rudi dengan tajam, memberi isyarat agar pria itu bersikap tenang. Rudi pun menundukkan pandangan lalu membalikkan tubuh wanita itu.
Deg...
Azzam terkesiap saat manik matanya menangkap wajah wanita itu. Dunia rasanya berhenti berputar tiba-tiba, jantung Azzam ikut bergemuruh seperti petir.
"Al, Alana..." desis Azzam dengan mata melotot tajam, sekujur tubuhnya bergetar hebat, dia hampir tumbang menyaksikan wajah istrinya yang sudah tidak sadarkan diri.
"Apa Anda mengenalnya?" tanya salah satu warga.
"Ya, dia istriku."
Tanpa banyak bicara, Azzam dengan cepat membopong tubuh Alana dan membawanya masuk ke dalam mobil lalu menyoraki Rudi dengan suara parau. Tenggorokan Azzam rasanya penuh menahan sesak yang menusuk ulu hati.
Azzam mendekap Alana di pangkuannya, tidak terasa air matanya menetes hingga jatuh di pipi Alana.
"Sayang, apa yang terjadi denganmu? Kursi roda itu-"
Azzam mulai bercakak dengan pemikirannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alana? Kenapa ada kursi roda itu di samping tubuh istrinya?
Sesaat setelah duduk di bangku kemudi, Rudi bergegas menginjak pedal gas dan melesat pergi menuju rumah sakit terdekat.
__ADS_1