Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 58.


__ADS_3

Pagi hari Alana terbangun saat sinar sang surya menyelinap masuk melalui sela-sela jendela. Saat membuka mata betapa terkejutnya dia melihat Azzam yang sudah rapi dengan pakaian baru dan rambut yang nampak masih basah.


Ya, pagi-pagi sekali Azzam sudah bangun dan menyiapkan sarapan untuk mereka. Azzam terbangun saat mendengar suara keributan di luar sana yang ternyata merupakan suara emak-emak yang tengah asik berbelanja sayuran.


Azzam pun tak lantas diam dan ikut bergabung dengan gerombolan emak-emak tersebut. Tidak hanya membeli bahan makanan, Azzam bahkan menjadi sorotan karena ketampanannya yang di atas rata-rata.


Bagaimana tidak, pagi ini Azzam menjelma menjadi magnet yang membuat emak-emak di kampung itu terlihat bak cacing kepanasan. Jarang-jarang mereka semua disuguhkan dengan pemandangan indah seperti itu.


Sayang kebahagiaan mereka harus buyar saat Azzam menceritakan siapa dirinya. Tidak ada yang menyangka bahwa cucu dari nenek Sukma sudah kembali dan membawa barang bermerek ke kampung mereka.


"Sudah bangun?" tanya Azzam mengukir senyum lebar.


"Hmm... Kamu sendiri?" tanya Alana balik.


"Sudah dari tadi, bahkan sudah hampir habis dikeroyok orang kampung." jawab Azzam enteng.

__ADS_1


"Dikeroyok?" Alana membulatkan mata lebar-lebar. "Apa yang terjadi?" imbuh Alana merasa cemas.


"Hehe, tidak apa-apa. Maksudnya dikeroyok emak-emak, hihihi..." Azzam tak kuasa menahan rasa geli mengingat kejadian tadi, dia pun tertawa terbahak-bahak.


"Emak-emak? Kenapa bisa?" tanya Alana kebingungan, dia benar-benar tidak mengerti maksud ucapan Azzam.


"Ya bisa lah. Kamu tidak lihat betapa tampannya suamimu ini? Wanita mana yang tidak akan klepek-klepek, apalagi emak-emak seperti mereka." terang Azzam dengan penuh percaya diri.


"Preeet, tampan apanya?" ejek Alana dengan wajah masam dan bibir mencebik.


"Apaan sih? Kok jadi bahas dia?" kesal Alana.


"Tidak apa-apa, faktanya memang begitu." Azzam menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. "Ya sudah, sekarang bangun! Aku sudah menyiapkan air hangat dan sarapan pagi untukmu, nanti keburu dingin." Azzam bangkit dari duduknya dan menggendong Alana meninggalkan kamar menuju kamar mandi.


Tidak masalah jika Alana tidak mau mengakui ketampanannya, setidaknya saat ini hubungan mereka sudah mulai membaik. Bagi Azzam itu semua sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


Seperti biasa, Azzam hanya bisa menelan ludah saat membantu melepaskan pakaian Alana. Dia tidak boleh berpikir macam-macam sesuai janjinya yang tidak akan menyentuh Alana sebelum sang istri yang menginginkannya. Berat memang, tapi mau bagaimana lagi.


Usai memandikan Alana, Azzam melingkarkan handuk di tubuhnya kemudian menggendongnya ke kamar. Lagi-lagi Azzam hanya bisa menelan ludah dengan kasar saat menyaksikan lekuk tubuh istrinya yang begitu menggoda. Azzam hanya mampu melihat tanpa bisa merasakan, mungkin memang beginilah takdir yang harus dia terima.


Setelah memakaikan pakaian Alana, Azzam membantunya menyisir rambut kemudian membawa Alana ke luar untuk sarapan. Tak lupa pula Azzam menyiapkan obat yang harus Alana konsumsi.


"Kamu tidak makan?" tanya Alana dengan mulut dipenuhi makanan.


"Aku belum lapar, kamu duluan saja!" jawab Azzam yang sedari tadi hanya diam mematut Alana tanpa kedip. Banyak pertanyaan yang membelit di benaknya tapi tidak berani menyuarakannya. Azzam takut salah bertanya sehingga menimbulkan masalah baru diantara mereka.


Ya, Azzam teringat dengan reaksi ibu-ibu tadi dan ucapan yang sempat dia lontarkan saat di kamar. Mungkinkah Alana dan Rizal?


Ah, tidak mungkin, Azzam tidak boleh memikirkan sesuatu yang belum tentu pernah terjadi. Salah-salah dia sendiri yang akan kena batunya.


Untuk saat ini Azzam hanya ingin menikmati hari-harinya sebagai seorang suami. Tidak masalah jika harus menahan rasa yang seharusnya dia curahkan kepada sang istri, kesehatan Alana jauh lebih penting dari apapun jua.

__ADS_1


__ADS_2