
Azzam terus saja mencumbui tengkuk Alana tanpa jeda, tangannya bergerak nakal memasuki pakaian istrinya yang sudah basah, kemudian meremas pelan perut datar Alana dan beringsut naik menyentuh buah dada sang istri.
Alana menggeliat merasakan sentuhan mesum suaminya. "Cukup Azzam, lepaskan aku, tolong keluarkan aku dari sini!" pinta Alana dengan nafas tercekat di tenggorokan, sekujur tubuhnya meremang menikmati sensasi yang entah.
Bukan tidak ingin, tapi Alana tidak mungkin melayani Azzam dalam kondisi seperti ini. Dia malu, dia takut mengecewakan suaminya itu.
Azzam lantas terdiam mendengar permintaan istrinya, sepertinya Alana benar-benar tidak ingin disentuh olehnya. Azzam segera menjauhkan tangannya dan memilih keluar dari bathtub.
"Azzam, kamu mau kemana?" tanya Alana menahan betis sang suami.
"Menunggu di luar. Mandi lah, nanti kalau sudah selesai panggil saja!" ucap Azzam dengan nada dingin.
Alana menundukkan kepala dan menjauhkan tangannya dari kaki Azzam, dia meringis menangisi keadaannya. Bagaimana bisa dia mandi sendiri, dia tidak bisa membuka celananya.
Setelah Azzam meninggalkan kamar mandi, Alana menitikkan air mata. Dia merasa hanya menjadi beban buat Azzam. Entah setan apa yang merasuki kepalanya, dia pun membenamkan tubuhnya hingga tenggelam di dalam bathtub.
"Maafkan aku, Azzam. Lebih baik begini saja, aku tidak ingin menyusahkan mu terlalu lama." batin Alana sembari menutup mata.
Setengah jam berlalu, Azzam mulai resah karena Alana tak kunjung memanggil dirinya. Dia mulai panik dan memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Deg...
Betapa terkejutnya Azzam kala mendapati tubuh Alana yang sudah mengapung di dalam bathtub. Jantungnya bergemuruh kencang secepat kilat menyambar.
Azzam berlari kencang dan dengan cepat mengangkat tubuh Alana dari bathtub. "Al, apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
Azzam buru-buru membopong Alana ke kamar, dia membaringkannya di kasur dan berhamburan mengambil handuk.
Setelah mendapatkan benda tersebut, Azzam mengelap wajah, rambut dan tubuh Alana. Dia buka pakaian basah istrinya itu agar tidak kedinginan.
"Sayang, buka matamu!" air mata Azzam tiba-tiba menetes melihat keadaan istrinya.
Dia tidak pernah berpikir bahwa Alana nekat melakukan hal gila seperti ini. Apa yang tengah dipikirkan istrinya itu?
Kemudian Azzam membuka pakaiannya yang sempat basah dan memilih berbaring di samping Alana. Azzam menutupi tubuh mereka dengan selimut lalu mendekap Alana erat, berharap suhu tubuhnya bisa menghangatkan badan Alana yang sudah pucat pasi.
"Al, buka matamu! Jika kamu marah, pukul saja aku! Kenapa harus melakukan hal gila ini, hah? Kalau kamu tidak suka atas apa yang aku lakukan tadi, aku janji tidak akan melakukannya lagi. Aku tidak akan pernah menyentuhmu." lirih Azzam sembari mematut wajah pucat istrinya dan mengusap kepalanya.
Selang beberapa menit, Alana membuka mata perlahan. Air matanya langsung jatuh saat menyadari tubuhnya yang tengah terkunci di dalam pelukan Azzam.
Saat menyadari Alana yang sudah terbangun, Azzam cepat-cepat menyeka wajahnya lalu menjaga jarak. "Maaf, aku tidak bermaksud menyentuhmu."
Azzam memilih turun dari kasur dan berjalan memasuki kamar mandi. Alana hanya diam mematutnya dengan mata berair.
Di dalam sana, Azzam mengusap wajahnya kasar lalu menyalakan shower dan berdiri di bawahnya. Gemercik air yang berjatuhan terasa begitu dingin, hati Azzam membeku dibuatnya.
Entahlah, Azzam rasanya ingin marah dan menghancurkan semua perkakas yang ada di kamar mandi itu, tapi tidak mungkin mengingat Alana yang bisa saja ketakutan nantinya.
Azzam menumpukan kedua tangannya di dinding dan menengadah menatap langit-langit, membiarkan setiap tetesan air membasuh kesedihan di wajahnya.
Di kasur sana, Alana tertegun saat mengangkat selimut yang menutupi tubuhnya. Dia baru sadar bahwa tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun.
__ADS_1
Alana mengerjap dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Apa yang sudah terjadi dengannya? Apa Azzam melakukannya? Tapi dia tidak merasakan apa-apa.
Tidak lama, Azzam keluar dari kamar mandi dengan pinggang terlilit handuk. Dia langsung saja membuka pintu lemari dan mengenakan pakaian terburu-buru. Setelah itu mengambilkan kaos dan celana pendek untuk sang istri dan berjalan menghampirinya.
Azzam memang tidak memiliki pakaian untuk Alana, biarkan malam ini Alana mengenakan pakaian miliknya.
Saat Azzam mendekatinya, Alana nampak ketakutan sembari meremas sisi selimut yang menutupi area dadanya. Azzam menautkan kedua alis dan mengulas senyum getir.
"Tidak usah takut, aku tau batasanku."
Azzam duduk di sisi ranjang dan membantu Alana memakaikan kaos sembari menutup mata. Setelah itu pindah ke kaki Alana dan membuka selimut sebatas lutut. Azzam memakaikan celana Alana dan menariknya ke atas sembari menoleh ke arah lain.
"Sudah, sekarang tidurlah!"
Azzam menutup kembali kaki Alana dan menyelimuti dada sang istri agar tidak kedinginan lalu berdiri dan berjalan menuju sofa.
"Azzam..." panggil Alana dengan suara bergetar.
Azzam berbalik badan dan menatap Alana dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu mau kemana?" lirih Alana dengan tatapan sayu.
"Tidak kemana-mana, aku akan tidur di sofa. Kamu tidur saja, tidak usah berpikir macam-macam!"
Azzam kembali melanjutkan langkahnya dan memilih berbaring di atas sofa. Ini lebih baik agar Alana tidak salah paham lagi terhadap dirinya.
__ADS_1
Alana tiba-tiba merasa sesak di dadanya, dia tidak mengerti kenapa semua ini harus terjadi kepada dirinya. Dia ingin sekali tidur di pelukan Azzam tapi tidak berani menyuarakannya.