
Tidak terasa sudah tiga hari saja Azzam mengurung diri di rumah. Dia tidak memiliki semangat lagi untuk melakukan aktivitas apapun.
Selama di rumah, Azzam lebih menutup diri dan selalu diam di kamarnya. Bahkan untuk makan saja dia sangat enggan.
Sedang asik merapikan pakaian yang baru saja dia kenakan, Erni tiba-tiba muncul di kamar sang putra. Wanita itu menatap Azzam dengan sendu, dia tidak tau bagaimana cara membujuk Azzam agar tidak pergi meninggalkan rumah.
Erni bahkan sudah berusaha mencari tau dimana keberadaan menantunya, tapi sampai detik ini dia belum mendapatkan kabar apapun dari orang-orang yang dia bayar.
"Azzam, tolong pikirkan sekali lagi. Jangan tinggalkan Ibu, Nak!" ucap Erni dengan pandangan berkabut, dia tidak kuat menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Azzam menaikkan sebelah alis dan mematut Erni dengan mata sayu lalu menghampiri sang ibu dan memeluknya. "Maafkan Azzam, Bu. Azzam harus pergi, Azzam tidak bisa lagi tinggal di sini."
Azzam menitikkan air mata, dia mendekap Erni erat. Dia juga tidak ingin seperti ini, dia baru saja merasakan kasih sayang seorang ibu. Tapi dia juga tidak sanggup hidup di dalam bayang-bayang wanita yang sangat dia cintai, rasanya terlalu menyakitkan.
"Kepergian tidak akan pernah menyelesaikan masalah, kamu akan semakin menderita, Nak. Tolong dengar Ibu, temui Alana dan bicaralah dengannya!" bujuk Erni, berharap Azzam mau mendengarnya.
"Terlambat Bu, Alana sudah memilih kebahagiaannya sendiri, tidak ada rasa yang tersisa untuk Azzam."
Azzam melepaskan pelukannya, dia menyambar kunci motor dan ponsel miliknya yang ada di nakas lalu berjalan meninggalkan Erni yang masih terpaku di tempatnya berdiri.
Azzam meninggalkan rumah dan menaiki moge miliknya. Dia telah berjanji dengan Rudi akan bertemu di apartemen, Rudi sudah menyiapkan koper yang akan dia bawa lengkap dengan paspor.
Sebelum sampai di apartemen, Azzam menyempatkan mampir di depan toko kue Alana. Dia memarkirkan motor di leher jalan dan menoleh ke arah ruko, berharap bisa melihat wajah sang istri untuk terakhir kalinya.
Hampir tiga puluh menit Azzam diam di tempat itu. Pada akhirnya dia pun menangkap siluet istrinya yang tengah duduk di sebuah kursi, Azzam sontak mengulas senyum.
Meski hanya dari kejauhan, dia cukup bahagia bisa menatap muka istrinya. Sayang Azzam tidak dapat melihat keadaan Alana yang sebenarnya, pandangannya terhalang oleh meja.
Alana yang tadinya tengah membantu membungkus kue, seketika mendongak ke arah pintu kaca ruko. Matanya tiba-tiba membulat menangkap penampakan suaminya. Alana tersentak, kue yang ada di tangannya sontak terlepas.
__ADS_1
"A-azzam..." gumam Alana dengan tangan gemetaran. Azzam yang menyadari itu hanya tersenyum dan cepat-cepat melanjutkan perjalanan. Dia sudah cukup bahagia melihat Alana dalam keadaan baik-baik saja.
"Azzam..." pekik Alana, tapi pria itu sudah keburu menghilang.
Alana meremas dadanya yang terasa sangat sesak. Jangankan mengejar Azzam, berdiri saja dia tidak mampu. Dia hanya bisa menangis, betapa sakitnya rasa rindu yang tidak bisa dia ungkapkan.
Kenapa rasa ini terlalu menyiksa? Alana sangat merindukan Azzam, dia ingin sekali memeluk suaminya itu.
"Azzam, kenapa kamu jadi seperti ini? Kenapa tidak menemui ku sekali saja?" Alana menangis terisak-isak, dia pikir Azzam akan masuk ke ruko itu ternyata tidak sama sekali.
Tidak lama setelah kepergian Azzam, mobil Rizal berhenti tepat di depan ruko.
Ya, barusan Rizal sempat menangkap keberadaan Azzam. Saat dia hendak memarkirkan mobil, Azzam sudah keburu pergi meninggalkan tempat itu.
Rizal pikir Azzam akan turun dan menemui Alana di dalam sana, tapi ternyata tidak. Rizal bingung, apa yang harus dia lakukan?
Sebagai seorang pria yang pernah mencintai seseorang, Rizal tau persis bahwa Azzam masih sangat mencintai Alana, tapi kenapa pria itu tidak mau menemui istrinya?
Hati Rizal mencelos, dia tau Alana sedang menangisi Azzam. Dia tidak bisa melihat Alana seperti ini terus, dia sudah mundur demi kebahagiaan gadis itu tapi Alana justru semakin terluka karena tidak bisa bersama dengan Azzam.
Rizal mengepalkan tinju, dia tidak bisa diam saja. Dia urung memasuki ruko dan memilih kembali ke mobil. Apapun alasannya, dia harus bertemu dengan Azzam, pria itu harus tau bagaimana keadaan Alana sebenarnya.
Setelah menyalakan mesin mobil, Rizal memacu laju kendaraan itu dengan kecepatan tinggi. Rahangnya menggeram, ingin rasanya dia memaki Azzam dan mematahkan kakinya seperti yang dialami Alana saat ini, dia benar-benar marah.
Sesampainya di depan gedung Global Grup, Rizal memarkirkan mobil sembarangan. Dia turun dan bergegas memasuki lobby.
"Permisi, saya ingin bertemu Azzam. Apa dia ada?" tanya Rizal pada seorang resepsionis.
"Maaf, Tuan Azzam sudah tidak bekerja di sini lagi." jawab wanita itu.
__ADS_1
Rizal tersentak kaget, keningnya mengkerut menatap wanita itu.
Apa maksudnya coba? Bukankah Azzam anak dari pemilik perusahaan tersebut? Mana mungkin Azzam tidak ada di sana? Dia bukan pekerja tapi pewaris perusahaan itu.
"Saya tidak mengerti maksud Anda, bukankah Azzam pemilik perusahaan ini?" tanya Rizal heran.
"Iya, tapi Tuan Azzam sudah tidak mau lagi menangani perusahaan. Beliau akan pergi ke luar negeri." terang wanita itu.
Seketika darah Rizal berdesir, jantungnya berdegup kencang secepat lari maraton, bahkan matanya membulat dengan sempurna.
Pergi? Apa Azzam ingin meninggalkan Alana dalam keadaan seperti ini?
Rizal mengepalkan tinju, sorot matanya menajam seperti mata elang.
"Kapan dia pergi?" tanya Rizal mencari tau.
"Hari ini, mungkin sekarang sudah berangkat menuju bandara. Pesawatnya akan berangkat pukul sebelas siang ini."
Deg...
Rizal terkesiap dengan mata memerah dibakar api kemarahan. Tanpa berkata apa-apa, dia pun langsung berlari meninggalkan tempat itu. Dia memasuki mobil dan mematut jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Setengah jam lagi, sial..." umpat Rizal kemudian memacu laju kendaraan itu menuju bandara.
Di tempat lain, Azzam tengah termenung mematut jalanan yang dia lalui. Meski berat, dia harus yakin bahwa kepergiannya merupakan jalan terbaik untuknya dan Alana.
Saat di apartemen tadi, dia memerintahkan Rudi untuk mengurus surat perceraian. Dia tidak mungkin menggantung status Alana, mereka harus bercerai agar Alana bisa menikah dengan pria yang dicintainya.
Rasanya Azzam ingin berhenti bernafas untuk sesaat, dia ingin melupakan Alana sebentar saja.
__ADS_1
Akan tetapi, semua terlalu sulit. Ternyata cinta pertama memang tidak mudah untuk dilupakan, apalagi banyak kenangan yang pernah mereka lalui.
Azzam menutup mata barang sejenak, dia menghirup udara sebanyak-banyaknya dan menghembuskannya dengan kasar.