Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 56.


__ADS_3

Bak disambar petir di siang bolong, jantung Azzam terasa ingin copot dari tempatnya. Suara teriakan Alana yang sangat jelas di telinga membuatnya berlari menaiki tangga kayu dan mendorong pintu dengan kasar.


Braaak...


Azzam terkesiap saat manik matanya menangkap keberadaan Alana yang sedang meraung kesakitan. Saat itu juga kantong kresek yang ada di tangan Azzam terlepas, dia berhamburan menghampiri Alana dan menjatuhkan tubuhnya di hadapan sang istri.


"Al, apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa sampai di sini? Bukankah tadi..."


"Awwwh..."


Seketika wajah Azzam nampak pucat memutih saking takutnya melihat keadaan Alana, tentu saja dia tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa istrinya lagi.


Tanpa pikir panjang Azzam pun dengan sigap mengangkat tubuh Alana dan membawanya ke kamar, Azzam membaringkan Alana di tempat tidur dan duduk di sampingnya. "Kita ke rumah sakit ya! Kamu harus..."

__ADS_1


"Pergilah, tinggalkan aku sendiri! Aku ini tidak berguna, aku..."


"Sssttt... Cukup!" potong Azzam dengan suara meninggi. Kali ini dia benar-benar sudah tidak kuat menghadapi sikap Alana yang selalu saja mengusirnya dari tempat itu.


"Lihat aku kali ini saja!" pinta Azzam dengan mata melotot tajam. Katakan padaku bahwa kamu tidak memiliki perasaan apa-apa padaku! Buat aku sadar bahwa cintaku hanya bertepuk sebelah tangan!" tanpa terasa air mata Azzam tiba-tiba berderai membasahi pipi. "Tolong, Alana! Katakan bahwa kamu tidak pernah menginginkan aku!" imbuh Azzam dengan nafas tercekat di tenggorokan, sedangkan Alana yang mendengar itu hanya diam seribu bahasa.


"Baiklah, aku mengerti. Malam ini juga aku akan pergi, tidak hanya dari tempat ini tapi juga dari hidupmu. Yakinkan hatimu bahwa kau tidak akan bersedih saat kehilangan aku!"


Ketika Azzam hendak berdiri, Alana tiba-tiba menyambar pergelangan tangannya dan bertanya dengan lirih. "Kamu mau kemana?"


"Jangan Azzam, tolong..." sela Alana menitikkan air mata.


"Kenapa? Bukankah ini yang kamu inginkan?" tanya Azzam dengan darah mengalir deras hingga ubun-ubun.

__ADS_1


"Tidak, tolong..." geleng Alana menangis sesenggukan.


Azzam lantas terdiam dan mengacak rambut frustasi. Sedetik kemudian dia mengusap wajah dengan kasar dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan istrinya itu.


"A-aku..." Alana semakin tak kuasa menahan tangisnya, berat sekali mengatakan bahwa dia sangat mencintai Azzam. Mana mungkin dia sanggup menjalani hidup tanpa suaminya itu.


"Katakan saja! Apapun itu, aku siap menerimanya." ucap Azzam dengan nada merendah, dia menggenggam tangan Alana dengan satu tangan sedangkan yang lainnya menyentuh pipi sang istri yang sudah basah. Alana sendiri hanya diam menatap manik mata Azzam tanpa kedip.


"Ya sudahlah, aku benar-benar lelah berdebat terus denganmu. Biarkan malam ini aku tetap di sini, menjagamu dan menemanimu tuk terakhir kalinya!"


Azzam menjauhkan diri dari Alana kemudian meninggalkan kamar dengan perasaan berkecamuk. Marah, sedih, bingung, semua rasa bercampur jadi satu. Azzam sendiri tidak tau harus berkata apa lagi.


Azzam memilih kembali ke pintu masuk dan memungut kantong kresek yang tadi dia jatuhkan. Beruntung makanan tersebut masih utuh dan layak di konsumsi.

__ADS_1


Segera Azzam membawa kantong tersebut ke dapur dan menyiapkannya dengan perasaan tak menentu. Entahlah, ingin sekali Azzam berteriak dan menghancurkan barang-barang yang ada di rumah itu tapi tidak mungkin mengingat ada Alana di sana. Dia tidak ingin membuat Alana semakin sedih dan merasa tertekan saat bersamanya.


__ADS_2