Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 43.


__ADS_3

Sekitar pukul sembilan pagi, Rizal tiba di rumah yang dia belikan untuk Alana. Kebetulan gadis itu tengah menikmati sarapan pagi bersama Tati dan Anto sang sopir.


Langkah kanan, Rizal pun ikut bergabung bersama mereka. Dia belum sempat mengisi perut karena buru-buru meninggalkan rumah. Dia tidak ingin telat karena hari ini toko kue Alana akan diresmikan. Rizal sudah mengatur semuanya demi kenyamanan gadis itu.


Usai sarapan, Rizal membantu Alana pindah ke kursi roda. Kali ini dia tidak lagi menatap Alana sebagai wanita yang dia cintai, tapi lebih kepada seorang sahabat. Rizal sudah mengikhlaskan semuanya, dia tidak ingin membuat Alana risih saat berada di dekatnya.


Setelah keduanya memasuki mobil, Rizal melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan dia hanya diam dan fokus pada stir, begitu juga dengan Alana yang merasa tidak ada yang perlu dibicarakan.


Tiba-tiba Rizal menginjak pedal rem saat terjebak di lampu merah. Dari samping mobil, sebuah moge berhenti di barisan yang sama. Pria yang menggunakan helm itu hanya diam menatap arah depan.


Alana yang tadinya menunduk, tiba-tiba menoleh ke sisi kiri jendela. Dia terkesiap kala menangkap sebuah moge yang sangat dia kenali, dia bahkan pernah duduk di jok belakang moge itu.


"A-azzam..." batin Alana dengan jantung bergemuruh kencang, postus tubuh pria yang duduk di moge itu sama persis dengan Azzam suaminya.


Alana merasa darahnya mengalir deras menusuk ulu hati, dia menurunkan kaca mobil tapi tiba-tiba moge itu melaju kencang mendahului mobil yang dia tumpangi.


"Azzam..." sorak Alana tapi moge itu sudah keburu menjauh darinya.


Rizal yang tadi hanya diam, mendadak memutar leher ke arah Alana. Dia terkejut mendengar gadis itu menyerukan nama Azzam.


"Kamu melihat Azzam?" tanya Rizal dengan kening mengkerut.


Alana tersadar dan memutar pandangannya ke arah pria itu. "Ti-tidak, ayo jalan!" jawab Alana seolah-olah hanya tengah berhalusinasi.


Rizal menyipitkan mata dan segera menginjak pedal gas. Dia terdiam untuk sejenak, dia merasa Alana tengah berbohong.


Rizal semakin sadar bahwa Alana sangat mencintai Azzam. Dia bisa melihat betapa Alana merindukan suaminya itu.


Haruskah dia menemui Azzam dan mengatakan semua tentang Alana padanya? Ya, sepertinya Rizal harus berbuat sesuatu.


Tidak mengapa jika Alana tidak menginginkan dirinya, setidaknya Alana masih bisa bahagia bersama pria yang dicintainya.

__ADS_1


Beberapa menit berselang, Rizal memutar stir ke arah parkiran ruko yang sudah dia siapkan untuk Alana. Setelah membantu Alana turun dan duduk di kursi roda, Rizal mendorongnya memasuki ruko itu. Kedatangan keduanya disambut hangat oleh beberapa karyawan yang akan membantu Alana di toko kue itu.


"Selamat datang Tuan, Nona, senang bertemu dengan kalian berdua." ucap karyawan toko itu bersamaan.


"Terima kasih. Ini Alana, wanita yang akan menjadi bos kalian." Rizal mengenalkan Alana pada mereka semua.


Setelah berbasa-basi cukup lama, Rizal meminta para karyawan tersebut untuk menyiapkan semua yang diperlukan. Alana harus menggunting pita untuk meresmikan toko kue miliknya.


Sebenarnya Alana merasa sungkan, dia tidak enak hati telah menyusahkan Rizal sampai seperti ini. Setelah menolak pria itu, dia harusnya malu menerima kebaikannya, tapi Alana juga tidak berdaya menolaknya. Rizal benar-benar ikhlas menyiapkan semuanya.


Lalu mereka semua berpindah ke depan ruko.


"Dengan ini toko kue Alana Cake & Bakery telah resmi dibuka, semoga toko ini membawa berkah untuk kita semua!"


Alana menggunting pita sesaat setelah salah satu karyawan membuka acara tersebut. Semua karyawan bertepuk tangan dengan antusias, termasuk Rizal yang terlihat sangat senang telah berhasil mewujudkan mimpi Alana.


Gadis itu tersenyum haru, matanya berkaca-kaca mematut Rizal yang berdiri di sampingnya. Ingin sekali Alana menjerit dan menangis sejadi-jadinya, tapi tidak mungkin mengingat banyaknya orang di sana.


Tanpa Alana sadari ternyata ada sepasang mata yang tengah mematut-nya dari leher jalan. Seorang pria yang tengah duduk di atas moge yang tadi Alana lihat di lampu merah.


Ya, pria itu adalah Azzam. Alana tidak salah mengenali suaminya.


Sebenarnya Azzam sempat melirik ke arah mobil, dia tidak sengaja menangkap wajah istrinya yang tengah menunduk. Namun saat Alana mendongak, Azzam cepat-cepat membuang muka kala menyadari ada Rizal di samping istrinya.


Awalnya Azzam tidak percaya, dia pun memilih menepi di pinggir jalan. Saat mobil itu melintas di hadapannya, dia pun mengikutinya dari belakang.


Azzam tidak menyangka bahwa gadis itu benar-benar istrinya, wanita yang sangat dia rindukan selama beberapa hari terakhir ini.


Azzam seketika menitikkan air mata saat menangkap tangan Alana yang tengah menggenggam tangan Rizal, sepertinya Alana sudah kembali pada mantan kekasihnya itu.


Sakit, perih, ngilu, kecewa, semua rasa membaur jadi satu. Azzam merasa dunianya telah hancur berkeping-keping melihat penampakan itu. Baru satu minggu, tapi Alana sudah berhasil melupakannya.

__ADS_1


Lalu apa lagi yang tersisa untuknya? Tidak ada, Azzam harus menelan rasa pahit ini sendirian. Hal ini tidak akan mungkin terjadi jika bukan karena kesalahan yang sudah dia perbuat.


Setelah melepaskan tangan Rizal, Alana memutar manik matanya ke arah depan.


Deg...


Gadis itu terperanjat kaget saat sorot matanya tertuju pada moge yang masih terparkir di leher jalan. Alana melototkan mata, jantungnya berdegup kencang mematut netra Azzam yang sudah basah. Azzam tiba-tiba mengukir senyum meski rasanya sangat sulit, lalu memutar gas dan berlalu begitu saja.


"Azzam..." pekik Alana sangat lantang, dia melambaikan tangan tapi Azzam sudah keburu menghilang entah kemana. Alana mencoba turun dari kursi roda tapi dia justru tersungkur di lantai, semua orang yang tengah mengelilinginya terkejut bukan main.


"Al..." Rizal dengan cepat berjongkok dan menggendong Alana ke dalam.


"Turunkan aku, Rizal! Aku harus pergi, aku harus mengejar Azzam. Aku melihatnya, tadi dia ada di sini." racau Alana seraya menangis histeris, memohon agar Rizal menurunkannya. Dia ingin menyusul Azzam, dia tau Azzam terluka melihat kedekatannya dengan pria itu.


"Tenang dulu Alana, kamu tidak boleh begini. Apa yang bisa kamu lakukan dalam keadaan seperti ini? Bagaimana cara kamu mengejarnya?"


Rizal berusaha menenangkan Alana sesaat setelah mendudukkannya di sofa. Dia mengusap lengan gadis itu, dia tidak tega melihat Alana yang nampak sangat terpuruk, dadanya ikut ngilu.


"Tapi, Azzam-"


"Sssttt... Tenangkan dulu dirimu, biar ini menjadi urusanku!" tegas Rizal dengan penuh penekanan.


"Diam lah di sini, aku yang akan menemui Azzam!" imbuh pria itu.


Saat Rizal berbalik badan, Alana tiba-tiba memanggilnya. Dia tersadar setelah memikirkan kondisinya. "Tidak Rizal, jangan!"


Rizal memutar leher ke belakang, keningnya mengkerut membentuk garis-garis halus. "Kenapa?"


"Jangan, aku tidak mau Azzam melihatku dalam keadaan seperti ini. Lebih baik kami tidak usah bertemu lagi." lirih Alana menelan tangisannya, gadis cacat sepertinya tidak pantas lagi mendampingi Azzam. Masih banyak wanita lain yang lebih baik darinya.


Ya, mungkin akan lebih baik seperti ini saja. Alana tidak mau menambah beban hidup Azzam yang sudah terlalu banyak. Biarkan takdir menentukan jalan mereka masing-masing, biarkan rasa itu hilang dengan sendirinya, tidak ada lagi yang perlu dipertahankan.

__ADS_1


__ADS_2