Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 37.


__ADS_3

Seorang dokter masuk ke kamar yang ditempati Alana bersama seorang perawat, keduanya ditugaskan Rizal untuk menangani kaki gadis itu.


Ya, tadi Rizal tidak langsung ke kantor, dia terlebih dahulu menemui seorang dokter yang cukup ahli di bidangnya. Dia juga sudah membayar jasa keduanya sesuai kesepakatan.


Rizal hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Alana, dia tidak tega melihat penderitaan gadis yang dicintainya itu.


Meski Rizal tau cara yang dia lakukan ini salah, tapi menurutnya Alana lebih baik bersamanya. Dia marah pada Azzam yang sudah gagal menjaga istrinya sendiri.


Kecelakaan itu semakin menguatkan tekad Rizal untuk merebut Alana dari tangan Azzam, pria itu tidak pantas menjadi suami Alana.


"Apa kelumpuhan saya ini permanen, Dok? Saya masih bisa sembuh 'kan?" tanya Alana ketika sang dokter memeriksa kakinya, wajahnya tampak sedih menanyakan itu.


"Fifty fifty," jawab dokter itu, dia mengatakannya ragu-ragu.


Ya, dokter itu belum bisa memastikan, dia harus melakukan beberapa pemeriksaan terlebih dahulu.


Sebenarnya agak sulit, seharusnya Alana menjalani perawatan di rumah sakit tapi Rizal tidak mengizinkan. Menurutnya Alana lebih baik dirawat di villa, dengan begitu Azzam tidak akan bisa menemukan istrinya.


Alana tampak murung setelah mendengar ucapan dokter itu, sepertinya dia harus ikhlas menerima kenyataan pahit ini, mungkin sudah takdirnya menjadi wanita cacat.


Usai dokter itu melakukan pemeriksaan, perawat yang datang bersamanya mulai bergerak mengganti perban di kepala Alana, lalu memasangkan infus mengingat kondisi Alana yang cukup lemah.


Ya, Alana tidak menyentuh makanannya sama sekali, sebab itu kondisinya sedikit drop.


Di apartemen, Azzam tersentak dari tidurnya tepat pukul satu siang. Semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan Alana, setelah subuh barulah matanya bisa dipejamkan.


Azzam duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, manik matanya mengerling menyisir setiap sudut kamar. Terasa sepi, hampa dan mencekam, tidak ada senyum seperti pagi-pagi sebelumnya.


Azzam turun dari ranjang dan lekas memasuki kamar mandi. Usai membersihkan diri, dia keluar dan cepat-cepat memakai pakaian lalu menyambar ponsel Alana yang semalam dia letakkan di sofa.


Azzam kemudian meninggalkan kamar dan duduk di kursi meja makan. Hatinya mencelos kala mengingat bayangan istrinya yang tengah memasak untuk dirinya.


Ya, sekarang semua itu tidak akan terlihat lagi. Alana sudah pergi, dia bahkan tidak tau kemana istrinya itu menghilang.


Berbekal sepotong roti sisa kemarin, Azzam pun mengisi perut sembari menyalakan ponsel milik Alana. Betapa terkejutnya dia mendapati banyaknya notifikasi pesan yang masuk di layar gawai itu.


Karena penasaran, Azzam pun membukanya satu persatu. Setiap kata yang dirangkai serapi mungkin dia baca dengan sangat teliti.


Seketika mata Azzam membola, jantungnya berdegup kencang seakan tengah berlari di tengah padang pasir nan tandus.

__ADS_1


Lagi-lagi Erni meminta Alana untuk bertemu, dia ingin bercerita tentang semuanya. Alana harus tau bagaimana masa lalu Azzam yang sebenarnya, hanya Alana yang bisa membujuk Azzam agar membuka mata hatinya.


Azzam mengernyit bingung, dia belum bisa mencerna kata-kata itu dengan sempurna. Dia pun memilih berdiri dan meninggalkan apartemen terburu-buru.


Setelah memasuki mobil, Azzam memacu laju kendaraan itu dengan kecepatan tinggi, dia tidak menemui Erni di tempat yang dijanjikan tapi malah mengarahkan mobilnya ke kantor pusat.


Ya, Azzam ingin menemui sang ayah secara langsung. Dia harus tau apa maksud Erni sebenarnya, banyak sekali kata-kata yang tidak bisa dia pahami.


Sesampainya di depan gedung, Azzam memarkirkan mobilnya sembarangan, dia berhamburan memasuki bangunan itu dan berlari kecil menuju lift.


Setelah pintu lift terbuka, dia buru-buru mendekati ruangan Kurniawan.


"Tuan Azzam."


Seorang wanita yang merupakan sekretaris Kurniawan menyapa Azzam saat hendak memasuki ruangan. Wanita itu langsung mengatakan bahwa Kurniawan tidak ada di tempat, pemilik perusahaan itu sedang rapat di lantai tiga.


Azzam lantas berbalik badan setelah mendengar penjelasan wanita itu. Tanpa mengatakan apapun, dia langsung pergi dan kembali memasuki lift menuju lantai yang disebutkan wanita tadi.


Ya, Azzam tidak ingin membuang-buang waktu. Setelah ini dia harus mencari Alana kemana pun, bahkan ke seluruh penjuru negeri, dia tidak bisa seperti ini.


Tanpa mengetuk, Azzam langsung saja mendorong pintu dengan kasar. Semua orang yang ada di ruangan itu sontak terkejut dan menoleh ke arahnya, termasuk Kurniawan yang saat itu tengah berbicara di depan staf dan beberapa klien bisnisnya.


"Kamu tidak lihat Ayah sedang rapat? Keluarlah, tunggu beberapa menit lagi!" sergah Kurniawan, dia menatap Azzam tajam, kesal melihat tingkah putranya yang tidak tau sopan santun.


"Kalian semua, tolong tinggalkan ruangan ini! Aku ada urusan yang lebih mendesak." Azzam menyerukan itu kepada semua orang, satu persatu dari mereka mulai berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan.


"Azzam, apa kamu-"


"Aku ingin bicara denganmu, sekali saja tolong dahulukan aku ketimbang bisnismu ini!"


Azzam menatap Kurniawan dengan mata memerah, bahkan hingga detik ini pria itu masih saja memprioritaskan perusahaan dari pada putranya sendiri. Ayah macam apa dia itu, Azzam benar-benar tidak habis pikir.


Kurniawan langsung terdiam setelah mendengar ocehan Azzam, dia lantas duduk dan menyuruh Azzam mengatakan maksud kedatangannya.


Azzam menghela nafas berat dan membuangnya kasar lalu menarik kursi dan duduk di seberang Kurniawan. Dia merogoh kantong celana, mengeluarkan ponsel Alana dan membuka pesan yang dikirim Erni tadi.


Azzam kemudian meletakkan ponsel itu di atas meja dan mendorongnya, benda pipih itu menggelinding ke arah Kurniawan seperti bola billiard.


Kurniawan menahan ponsel itu dan mengambilnya, lalu menyalakannya. Seketika dia mengernyit, untuk apa Azzam memberikan ponsel tulalit itu padanya?

__ADS_1


Tidak ingin banyak bertanya, Kurniawan langsung saja membaca pesan itu satu persatu. Kurang lebih ada lima pesan yang masuk dari nomor yang sama.


"Apa maksud semua itu? Kenapa istrimu mendesak istriku untuk bertemu?" tanya Azzam datar.


Bukankah sudah jelas bahwa Azzam tidak menyukai wanita itu, untuk apa Erni meminta Alana menemuinya?


Kurniawan terdiam, dia tidak tau harus menjawab apa. Dia juga tidak tau bahwa Erni berkomunikasi dengan Alana di belakangnya.


"Kenapa diam saja? Apa maksud semua itu? Apa yang ingin dikatakan istrimu pada istriku?" cerca Azzam yang membuat Kurniawan diam seribu bahasa.


Apa sudah saatnya Azzam tau tentang kenyataan sebenarnya? Tapi Kurniawan tidak mungkin melangkahi istrinya, apa yang harus dia katakan?


Azzam tersenyum getir melihat Kurniawan yang tidak menjawab pertanyaannya.


"Bilang pada istrimu itu, jangan lagi mencampuri urusanku. Wanita murahan sepertinya tidak pantas menjadi ibuku, munafik, wanita tidak tau-"


"Cukup Azzam, jangan menguji kesabaran Ayah!" sela Kurniawan tersulut emosi, hinaan yang keluar dari mulut Azzam membuat darahnya mendidih.


Azzam lagi-lagi tersenyum miring. "Racun apa yang sudah diberikan wanita itu padamu, hah? Bahkan dia lebih berharga bagimu dibanding aku yang jelas anak kandungmu sendiri."


Kurniawan mengepalkan tinju, dia tidak bisa menahan diri usai mendengar semua hinaan yang dituduhkan Azzam pada istrinya.


Dia lantas bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Azzam.


"Kamu ingin tau? Kalau begitu ikut Ayah!"


Kurniawan meraih pergelangan tangan Azzam dan menariknya dengan kasar. Dia membawa Azzam keluar dari ruangan itu dan masuk ke dalam lift.


Sesampainya di lobby, Kurniawan melanjutkan langkahnya menuju parkiran tanpa melepaskan tangan Azzam.


Sudah cukup dia bersabar menghadapi sifat kurang ajar putra semata wayangnya itu. Kini tidak lagi, Kurniawan tidak bisa membiarkan istrinya selalu direndahkan oleh putranya sendiri.


"Berhenti! Mau kau bawa kemana aku?"


Azzam menahan kakinya saat Kurniawan membuka pintu mobil.


"Bukankah kamu ingin tau kenapa istriku mengajak istrimu bertemu? Aku akan mengatakannya, tapi bukan di sini."


Kurniawan menarik kenop pintu dan mendorong Azzam ke dalam. "Diam di sini!" tukas Kurniawan dengan tatapan nyalang.

__ADS_1


Setelah menutup pintu itu, Kurniawan mengitari mobil dan masuk melalui pintu di sebelahnya. Dia pun melajukan kendaraan itu menuju arah pulang.


__ADS_2