Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 44.


__ADS_3

Azzam tiba di perusahaan hanya dalam waktu beberapa menit saja. Rasa sakit membuatnya lupa mengutamakan keselamatan saat berkendara.


Ya, hati Azzam terasa sangat perih melihat istrinya bersama pria lain. Luka yang tadinya hampir sembuh, kini kembali basah dan menganga. Azzam merasa kehilangan separuh jiwanya, pertama kali jatuh cinta akhirnya harus menelan rasa pahit karena ulahnya sendiri.


Azzam memang sudah menemukan jati dirinya sebagai seorang anak. Akan tetapi, disaat bersamaan dia harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai, wanita pertama yang mampu meluluhkan hatinya yang sempat mengeras seperti batu.


Sekarang Azzam hanya bisa pasrah menangisi kebodohan yang pernah dia lakukan. Ternyata Alana lebih memilih pria itu ketimbang dirinya.


Sesampainya di ruangan, Azzam merogoh kantong celana dan lekas menghubungi Rudi, ada yang ingin dia bicarakan dengan pria itu.


Lalu Azzam memilih duduk di kursi kebesarannya, dia mengusap wajah kasar dan melempar gawai miliknya ke meja.


Ya, Azzam tidak bisa hidup seperti ini. Jika Alana memang memilih pria itu, lalu untuk apa dia tetap di sini? Azzam tidak akan sanggup melihat Alana bersama pria itu.


Selang sepuluh menit, Rudi tiba di ruangan Azzam. Dia langsung masuk setelah mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Siang Tuan," sapa Rudi lalu duduk di kursi yang ada di seberang meja Azzam.


"Tolong urus pasport ku, aku akan pergi ke luar negeri!" perintah Azzam, mungkin dengan menjauh akan lebih baik untuk semua orang. Azzam tidak bisa lagi menghirup udara yang sama dengan Alana, rasanya terlalu menyakitkan.


"Loh, Tuan mau kemana?" tanya Rudi penasaran, keningnya mengkerut menanyakan itu.


"Kemana saja, asal tidak di kota ini lagi." jawab Azzam dengan suara parau, dia rasanya ingin menangis tapi tidak bisa.


"Lalu bagaimana dengan Nona? Apa Nona juga ikut bersama Tuan?" tanya Rudi ingin tau.


"Semua sudah berakhir, aku kalah."


Azzam menghela nafas berat setelah mengatakan itu. Dia lekas bangkit dan berjalan meninggalkan Rudi yang masih bengong memikirkan ucapannya.


Ada apa dengan Tuannya itu? Bukankah dia dan Alana baru beberapa minggu menikah? Apa mereka bertengkar?

__ADS_1


Rudi tidak pernah melihat Azzam se-terpuruk ini. Meski sebelumnya Azzam pernah bermasalah dengan kedua orang tuanya, tapi dia masih nampak ceria di hadapan semua orang.


Rudi pun meninggalkan tempat itu setelah Azzam memasuki ruangan pribadinya.


Azzam mengunci pintu dari dalam dan memilih mengurung diri. Dia kehilangan semangat untuk bekerja, dia hanya ingin tidur sepanjang hari, sukur-sukur dia tidak perlu bangun lagi.


Di ruko, Alana masih menangis di ruangannya. Dia ingin sekali menemui Azzam tapi keadaan memaksanya untuk tidak melakukan itu.


Alana tau Azzam tidak baik-baik saja, dia sangat mengenal karakter suaminya. Alana tiba-tiba merasa takut, bagaimana kalau Azzam melakukan tindakan gila seperti sebelumnya?


Azzam pernah mengalami kecelakaan beberapa kali, dia juga pernah melukai dirinya sendiri. Semakin Alana mengingatnya, semakin hancur pula hatinya.


Akan tetapi, Alana tidak memiliki kekuatan untuk mendatangi Azzam. Dia sangsi Azzam tidak akan bisa menerima kondisinya.


...****************...


Azzam tiba di kediaman Kurniawan sekitar pukul dua belas malam. Langkahnya terhuyung, pakaian yang melekat di tubuhnya berantakan dan wajahnya nampak kusut. Ada bekas luka yang terlihat jelas di sudut bibirnya.


"Mas, suara apa itu?" tanya Erni dari dalam kamar, dia terperanjat mendengar bunyi dentuman di tengah malam seperti ini. Apa rumahnya kemasukan maling?


Kurniawan yang juga mendengar suara itu nampak terkejut, dia pun memilih turun dari ranjang dan berjalan meninggalkan kamar.


Manik mata Kurniawan menggelinding menyisir area bangunan dari sudut ke sudut tapi tak melihat siapapun di sana. Dia mengernyit dan berbalik badan hendak kembali ke kamar.


"Al, Alana, aku mencintaimu sayang. Kenapa kamu meninggalkanku dan memilih pria itu? Kalau kamu marah, kenapa tidak kamu pukul saja aku? Kamu boleh memarahiku, menghinaku, bahkan membunuhku. Tapi kenapa kamu lebih memilih pria itu? Apa aku tidak pantas mendapatkan cintamu?"


Langkah Kurniawan seketika terhenti, sayup-sayup telinganya mendengar suara Azzam yang tengah meracau.


"Siapa Mas?" tanya Erni sedikit takut.


Kurniawan tidak menjawab, dia kembali berbalik dan melangkah menghampiri sofa, tempat dimana suara itu berasal.

__ADS_1


Deg...


Kurniawan terperanjat kaget saat manik matanya menangkap tubuh Azzam yang tengah tergeletak di lantai. Dia pun menghampirinya dan berjongkok.


"Azzam, kamu kenapa Nak?" Kurniawan menepuk-nepuk pipi putranya pelan.


Ya, Azzam sepertinya mengigau. Matanya terpejam sedangkan mulutnya tak henti mengoceh.


Kurniawan mengangkat ketiak Azzam dan berusaha memindahkannya ke sofa. Setelah itu menyoraki Erni, dia butuh bantuan istrinya untuk menyadarkan sang putra.


Erni berhamburan dari kasur dan berlari meninggalkan kamar. Betapa terkejutnya dia saat mendapati Azzam yang nampak sangat berantakan dan tak sadarkan diri.


"Azzam, apa yang terjadi Nak? Kamu kenapa?" lirih Erni dengan mata berkaca-kaca, dia mengusap pucuk kepala Azzam dan menyentuh sudut bibir putranya yang terluka.


Ya, sebelum pulang, Azzam sempat mendatangi sebuah klub malam. Dia memesan minuman untuk menghilangkan rasa gundah di hatinya. Saking terbawa perasaan, dia tidak sadar dan membuat kekacauan di tempat itu, dia dipukuli oleh beberapa pengunjung hingga babak belur.


Pelan-pelan, Azzam berusaha membuka mata, dia menangis kala menangkap wajah Erni yang sangat dekat dengan dirinya.


"Bu..." lirih Azzam berderai air mata, dia merasa jantungnya tak kuat lagi untuk berdetak. Kenapa dia tidak mati saja agar semua kesakitan ini lenyap darinya?


Erni memeluk Azzam dan mendekapnya erat. "Jangan seperti ini sayang, kamu harus kuat!" ucap wanita paruh baya itu menitikkan air mata, dia tidak sanggup melihat penderitaan putranya.


"Maafkan Azzam, Bu. Azzam tidak bisa menjadi seperti yang Ibu inginkan. Hidup Azzam benar-benar sudah hancur, Azzam tidak sanggup melihat Alana bersama pria lain, Azzam menyerah." Azzam memeluk Erni dengan erat.


"Tidak sayang, kamu tidak boleh lemah, kamu harus berjuang demi cinta kamu!" sela Erni. Dia tau ini tidak mudah, dia pernah berada di fase ini hingga akhirnya bersatu kembali dengan pria yang dia cintai.


Azzam menggelengkan kepala. "Tidak Bu, Alana sudah bahagia bersama pria itu. Dia tidak menginginkan Azzam, biarlah Azzam menahan luka ini sendiri, Azzam akan pergi sejauh mungkin. Alana berhak bahagia, kehadiran Azzam hanya akan membuatnya semakin terluka."


Azzam bangkit dari sofa dan melangkah tertatih-tatih. Percuma mengharapkan sesuatu yang sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Dia lebih baik pergi membawa luka di hatinya, berharap Alana akan bahagia bersama pria pilihannya.


Azzam memasuki kamar dan membanting tubuhnya di atas kasur. Tidak butuh waktu lama baginya untuk tertidur.

__ADS_1


__ADS_2