Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 55.


__ADS_3

"Mau makan apa? Biar aku carikan untukmu." tanya Azzam dengan wajah yang nampak sangat segar, pakaian santai yang dia kenakan membuatnya terlihat begitu rapi dan tampan.


Bukannya menyahut, Alana justru menggeleng sembari menekuk wajahnya. Binar bening cahaya di pelupuk matanya nampak sangat indah namun mengiris relung hati.


Azzam yang melihat itu lantas termangu dan berjongkok di kaki Alana yang tengah duduk di sisi tempat tidur.


"Hei, tolong jangan seperti ini! Lihat aku!" pinta Azzam seraya menggerakkan tangannya menyentuh dagu Alana.


Alana mengerjap hingga satu tetes cairan bening jatuh di sudut matanya. Dia mematut manik mata Azzam dan memberanikan diri menyentuh tangan pria itu. "Kenapa tidak kamu tinggalkan saja aku di sini? Kamu boleh pergi, perjalanan hidupmu masih panjang. Aku hanya akan..."


"Akan apa? Katakan!" sela Azzam dengan tatapan tajam membunuh. "Aku akan pergi jika itu yang kamu inginkan, bahkan aku tidak akan pernah menemui mu lagi. Itukah yang kamu mau?"

__ADS_1


Azzam memicingkan mata barang sejenak kemudian mengusap wajah dengan kasar. Sulit sekali rasanya meyakinkan Alana bahwa dia benar-benar mencintai istrinya itu. "Besok pagi aku akan pergi dari tempat ini, tapi untuk malam ini tolong biarkan aku menginap di sini! Aku sangat lelah, aku butuh istirahat." sambung Azzam lalu bangkit dari jongkoknya dan berjalan menuju pintu.


Entah sudah berapa sering Azzam mengemis bahkan menyatakan perasaannya terhadap Alana, namun sepertinya kali ini Azzam sudah sangat lelah berjuang sendirian. Dia merasa Alana tidak pernah menginginkan dirinya, lalu untuk apa dia bertahan?


Azzam kemudian keluar dari rumah tersebut dan masuk ke dalam mobil. Dadanya terasa kian sesak hingga tanpa sadar air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipi.


Bukan ini yang dia inginkan tapi jika Alana bahagia tanpa kehadirannya, apa yang bisa dia lakukan?


Cepat-cepat Azzam menyeka pipinya lalu menyalakan mesin mobil dan melaju meninggalkan pekarangan rumah.


Beberapa kilometer dari perkampungan tersebut Azzam menemukan sebuah warung makan sederhana. Dia memarkirkan kendaraan itu di depan warung dan turun untuk membeli makanan.

__ADS_1


Di rumah, Alana menangis tersedu-sedu. Tidak pernah terbersit di pikirannya akan lumpuh seperti saat ini. Kenapa hidup menjadi tidak adil baginya? Dia merasa perjalanan ini terlalu sulit untuk dilalui.


Kenapa perasaan itu tumbuh di hatinya? Kenapa dia harus bertemu dan menikah dengan pria yang belum pernah dia temui sebelumnya? Dia hanya beban, bagaimana bisa dia menjadi seorang istri yang sempurna sedangkan untuk berdiri saja dia tidak sanggup.


Dalam derai tangis yang tak henti mengalun sendu, tiba-tiba terdengar bunyi dentuman yang cukup keras. Ya, tubuh Alana seketika itu juga terperosok ke lantai. Beruntung lantai itu terbuat dari papan sehingga Alana hanya meringis menahan rasa sakit.


Bukannya diam di bawah sana, Alana justru mengerahkan tenaganya untuk bisa keluar dari kamar. Dia menyeret tubuh ringkihnya seperti suster ngesot, entah apa yang ingin dia lakukan?


Setelah berhasil melewati pintu kamar, Alana terdiam sejenak sembari mematut kedua kakinya dengan seksama. Dia tersadar saat lututnya berhasil ditekuk.


Mata gadis itu membulat seperti buah anggur, mulutnya menganga. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan.

__ADS_1


Apakah ini suatu pertanda? Apa ini sebuah mukjizat? Bolehkah Alana berharap kalau kakinya akan berfungsi lagi seperti semula?


Namun saat Alana hendak mencobanya kembali, tiba-tiba kakinya terasa kram. Sangat sakit seperti ditimpa beban berat. Saat itu juga terdengar suara jeritan yang cukup keras sehingga membuat seseorang terperanjat di luar sana.


__ADS_2