
Kurniawan memarkirkan mobil tepat di depan teras bangunan yang dia tempati bersama Erni. Setelah turun, dia membuka pintu samping dan menyeret Azzam memasuki rumah besar itu.
Rasanya kemarahan Kurniawan sudah tidak dapat dibendung lagi. Dia bahkan ingin sekali menghajar Azzam agar berpikir sebelum mengatakan sesuatu.
"Mas, apa-apaan ini? Kenapa kamu menarik Azzam? Lepaskan dia Mas, jangan kasar!"
Erni berhamburan menghampiri kedua pria itu, dia benar-benar terkejut melihat kedatangan mereka, apalagi menyaksikan Azzam yang tengah diseret melewati ruang keluarga.
"Tidak usah sok peduli padaku, dasar wanita licik!" umpat Azzam sembari tersenyum getir, dia merasa wanita itu lebih cocok menjadi seorang artis karena kelihaiannya dalam berakting.
Plaak...
Seketika muka Azzam berapi-api setelah mendapatkan tamparan keras dari Kurniawan. Azzam pun langsung terdiam dibuatnya.
Ya, pria itu tidak bisa mentolerir semua kata-kata yang keluar dari mulut sang putra. Azzam sudah sangat keterlaluan.
Erni yang melihat itu seketika terpekik, dia tidak menyangka bahwa suaminya akan seberani itu menyakiti Azzam dengan tangannya sendiri.
"Cukup Mas, apa yang kamu lakukan?"
Erni memposisikan diri di tengah-tengah Azzam dan Kurniawan, air matanya menetes melihat pipi Azzam yang memerah akibat tamparan yang baru saja dilayangkan suaminya.
"Apa yang kau tangisi, hah? Bukankah ini yang kau inginkan?"
Azzam memang marah usai mendapat perlakuan kasar dari Kurniawan barusan, tapi wajah Erni lebih menyakitkan dibanding tamparan yang tidak seberapa itu.
Kurniawan menggeram dan kembali meraih tangan Azzam, dia pun menariknya ke kamar yang dia tempati bersama sang istri.
"Mas, cukup, lepaskan Azzam!" sorak Erni, dia pun berhamburan menyusul keduanya.
Ya, Erni tidak sanggup melihat Azzam tersakiti, selama ini dia selalu mengalah agar Kurniawan tidak mengasari putranya itu.
Tapi sekarang, Kurniawan bahkan tega menampar putranya sendiri, entah apa yang sudah terjadi sehingga suaminya tega melakukan itu pada Azzam?
Sesampainya di kamar, Kurniawan mendorong Azzam hingga terjatuh di kaki ranjang. Dia pun membuka pintu lemari dan mengeluarkan sebuah map yang cukup tebal.
Erni menggelengkan kepala saat tiba di kamar itu. "Mas, jangan!" lirihnya dengan mata berkaca-kaca, Erni tau persis apa saja yang ada di dalam map itu.
__ADS_1
"Diam di sana, biarkan aku menyelesaikan ini sekarang juga! Aku sudah muak melihat kelakuan anakmu ini." berang Kurniawan yang sudah di ambang batas kesabaran.
Erni benar-benar terkejut, dia terdiam, dia tidak berani berkata apa-apa melihat kemarahan suaminya itu. Selama berumah tangga dengan Kurniawan, baru kali ini dia dibentak, rasanya sangat menyakitkan.
Sedangkan Azzam yang mendengar itu tiba-tiba mengerutkan dahi. Ada makna tersendiri dibalik ucapan Kurniawan barusan.
Lalu Kurniawan melempar map itu ke wajah Azzam yang masih terduduk di lantai. "Buka dan baca semuanya dengan teliti! Kau akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan yang kau ajukan padaku."
Setelah mengatakan itu, Kurniawan berlalu pergi meninggalkan kamar. Dia tidak sanggup lagi melawan amarah yang sudah membumbung tinggi. Lama-lama dia bisa jantungan melihat muka anaknya itu.
Setelah Kurniawan menghilang, Erni menghampiri Azzam dan duduk di sampingnya. Dia mencoba mengambil map itu, tapi Azzam dengan cepat mendekapnya lalu bangkit dan meninggalkan wanita itu sendirian.
Azzam berjalan ke kamarnya, kamar yang sudah bertahun-tahun lamanya dia tinggalkan. Dia duduk di sofa dan membuka map itu dengan tangan gemetaran.
Sebenarnya apa yang ada di dalam map ini? Kenapa Erni terlihat sangat takut saat Kurniawan melempar map itu kepadanya? Apa yang mereka sembunyikan dari Azzam selama ini?
Seketika mata Azzam mengerjap setelah mengeluarkan isi dari map itu, dia melihat ada dua pasang buku nikah dan beberapa lembar dokumen.
Penasaran, Azzam pun membaca satu persatu dokumen yang ada di tangannya itu dengan seksama.
Namun yang paling mengejutkan, bukan nama Wina yang tertera di sana, melainkan nama Erni sebagai wanita yang telah melahirkan Azzam ke dunia ini.
Dada Azzam sontak berdenyut, matanya membulat dengan sempurna. Kenapa nama wanita itu yang ditulis di kertas itu?
Azzam meremas dadanya dengan kuat, kemudian membaca dokumen lain. Semua dokumen menuliskan nama yang sama, Azzam tidak bisa mempercayai ini sepenuhnya.
Lalu Azzam membuka sepasang buku nikah yang tadi dia taruh di atas pahanya. Di sana jelas tertulis tanggal pernikahan Erni dan Kurniawan, tepat satu tahun sebelum Azzam dilahirkan ke dunia.
Sedangkan sepasang buku nikah lainnya menuliskan tanggal yang jauh berbeda. Dua tahun setelah Erni dan Kurniawan melangsungkan pernikahan.
Azzam nampak kebingungan. Jika Wina adalah ibunya, kenapa tanggal lahirnya lebih dulu satu tahun dari pernikahan sang ibu dan Kurniawan? Lalu kenapa usia pernikahan Erni juga lebih dulu dari ibunya?
Azzam menggeleng-gelengkan kepala, dia semakin pusing menebak teka teki ini sendirian. Tangannya semakin gemetaran hingga semua dokumen itu terlepas dan berserakan di lantai.
Tidak mungkin, Azzam tidak percaya, mana mungkin Erni merupakan ibu kandungnya? Jelas bahwa dia dibesarkan oleh Wina, wanita itu yang memberinya kasih sayang hingga menutup usia.
Azzam mengacak rambutnya frustasi, kemudian memungut dokumen yang berserakan satu persatu.
__ADS_1
Setelah berhasil mengumpulkan semuanya, dia bangkit dari sofa dan membawa map itu ke luar. Azzam harus tau maksud dari semua ini.
Sesampainya di ruang keluarga, Azzam mendapati Kurniawan yang tengah duduk dengan tatapan masam, sementara Erni nampak menangis di hadapan suaminya itu.
Agaknya Azzam akan semakin membencinya setelah membuka map itu, Erni tidak tau bagaimana cara menghadapi kemarahan Azzam setelah ini.
Ya, benar yang dipikirkan wanita itu. Azzam menghampiri keduanya dan melempar map itu ke meja. Seketika Erni terperanjat, dia mendongak dan mematut Azzam berlinangan air mata.
"Apa maksud semua ini?" sergah Azzam dengan suara meninggi, dia menatap Kurniawan dan Erni secara bergantian.
Kurniawan tiba-tiba mengepalkan tinju, ingin sekali dia menghajar putranya itu untuk kedua kalinya. Dengan begitu, barangkali otak Azzam bisa bergeser dari kebodohannya.
"Bukankah kau bisa membaca? Kenapa masih bertanya?" tukas Kurniawan menatap Azzam nyalang, dia benar-benar geram melihat putranya itu.
Erni memutar leher ke arah Kurniawan, lagi-lagi dia menggelengkan kepala.
Ya, wanita itu bermaksud meminta Kurniawan untuk mengalah. Dia tidak ingin ayah dan anak itu bertengkar lagi.
Kemudian Erni menyambar map itu dari meja, lalu berlari meninggalkan keduanya.
Erni tidak sanggup menghadapi semua ini. Jika takdirnya hanya dianggap sebagai wanita murahan, dia akan tetap menerimanya. Dia hanya ingin melihat putranya bahagia.
Selepas kepergian Erni, Azzam duduk di sofa dan mematut Kurniawan dengan intens. "Tolong katakan padaku! Siapa aku sebenarnya? Kenapa ada nama wanita itu di akta kelahiranku?" tanya Azzam, kali ini suaranya terdengar pelan, dia mencoba mengalah demi mengungkap kebenaran.
Kurniawan mengusap wajahnya kasar, dia menatap Azzam lirih dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Untuk apa menanyakan itu? Bukankah kau sangat membencinya? Dia wanita rendahan, perebut suami orang, pembunuh ibumu, lalu apa lagi? Hidupmu hancur karena dia, begitu 'kan?"
Azzam lantas terdiam mendengar sindiran yang keluar dari mulut Kurniawan lalu menundukkan kepala.
"Kau selalu menatapnya dengan penuh kebencian, tapi sedikit pun dia tidak pernah membencimu. Kau pikir kau lah yang paling menderita, tapi kau tidak tau bahwa dia lebih menderita darimu.
Kau tidak akan pernah tau bagaimana sakitnya dia melahirkanmu, melepasmu ke tangan madunya dan hidup seperti orang gila.
Bukan dia yang merebut ku dari ibumu, tapi ibumu lah yang mengambilku darinya, mengambilmu dan semua kebahagiaan yang dia miliki. Sampai detik ini dia diam bukan karena takut, tapi karena dia sangat menyayangimu. Ibu mana yang membenci anaknya, tidak ada. Dia menjadi lemah karena keadaan."
Seketika air mata Kurniawan jatuh membasahi pipi, dia tidak kuat menceritakan penderitaan yang ditanggung Erni selama ini.
Jika waktu bisa diputar, dia tidak akan pernah menuruti kehendak kedua orang tuanya.
__ADS_1