Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 50.


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam mobil yang dikendarai Rudi sudah tiba di pekarangan kediaman Kurniawan. Erni yang duduk di bangku depan turun lebih dulu dan membukakan pintu belakang untuk Azzam. Pria itu menyusul turun dan menggendong Alana memasuki rumah.


Sesampainya di ruang keluarga, Azzam mendudukkan Alana di sofa lalu memanggil Ijah dan memintanya membersihkan kamar yang tadi dia tinggalkan dalam keadaan berantakan.


Sedangkan Erni cepat-cepat memasuki dapur dan membantu Ipah menyiapkan makan malam untuk menantunya.


Tidak berselang lama, Kurniawan keluar dari kamar, dia mengerutkan dahi menangkap keberadaan putranya bersama seorang wanita.


Ya, dari awal Kurniawan belum sekalipun melihat batang hidung Alana. Dia pikir Azzam membawa gadis yang tidak jelas ke rumahnya.


"Tidak jadi pergi?" tanya Kurniawan dengan mata menyipit, dia pun ikut duduk di hadapan Azzam dan mematut Alana dengan tatapan tak biasa. "Siapa gadis ini?" imbuhnya dengan nada sedikit dingin.


Alana yang mendengar itu tiba-tiba menundukkan kepala, dia benar-benar takut, tangannya saling meremas dan basah oleh keringat.


Azzam yang menyadari kegelisahan istrinya, seketika merengkuh lengan Alana dan mengusapnya pelan. "Ini istri Azzam, Yah. Alana..."


Kurniawan menyipitkan mata. "Oh, jadi ini menantu Ayah itu. Maaf, Ayah tidak tau."


Pria paruh baya itu merasa tidak enak hati lalu mengulurkan tangannya. Alana mendongakkan kepala mematut Kurniawan sekilas lalu beralih menatap Azzam.


Bagaimana cara Alana menyambut uluran tangan Kurniawan? Jarak mereka cukup jauh, Alana tidak bisa bergerak dari tempat duduknya.


Karena tidak mendapat balasan dari Alana, Kurniawan pun menarik tangannya kembali. Dia nampak kebingungan seraya menatap Azzam dan Alana bergantian.


"Maaf Ayah, Alana bukannya tidak sopan tapi-"


Dari arah belakang, Erni tidak sengaja melihat kecanggungan di wajah menantunya. Dia pun cepat-cepat menghampiri ketiganya dan berdiri di samping Kurniawan. "Mas, tolong bantu aku sebentar!"


Erni menggenggam tangan Kurniawan dan menariknya ke belakang lalu menceritakan semua yang terjadi pada suaminya itu.

__ADS_1


Meski awalnya Kurniawan terkejut, tapi Erni berhasil meyakinkannya. Dia meminta tolong pada Kurniawan agar bersikap biasa saja saat berada di dekat Alana, mereka tidak boleh menyinggung perasaan menantu rumah itu.


Kurniawan mengusap wajah kasar, dia tidak percaya putranya sangat mencintai Alana hingga tidak peduli pada keadaannya. Dari sini dia semakin yakin bahwa Azzam sebenarnya anak yang baik.


Kurniawan langsung duduk di meja makan sedangkan Erni kembali ke depan memanggil putra dan menantunya untuk makan malam.


"Ayo sayang, makan dulu yuk!" ajak Erni.


Alana kembali menoleh ke arah Azzam, pria itu hanya tersenyum dan menggendong Alana memasuki ruang makan.


Setelah mereka semua duduk di kursi masing-masing, Erni mengambilkan makanan untuk Kurniawan. Alana yang melihat itu hanya bisa diam menelan tangisannya.


Dia merasa sedih, dia benar-benar tidak berguna. Bukankah sudah tugasnya melayani Azzam seperti yang dilakukan Erni pada Kurniawan, tapi Alana justru menjadi patung tanpa bisa melakukan apa-apa.


Azzam menggenggam tangan Alana dengan erat. "Mau makan apa?" tanyanya dengan suara sangat lembut, dia tau bagaimana perasaan istrinya saat ini.


Erni mematut Alana dengan wajah sendu, dia merasa iba pada Alana lalu mengambilkan makanan untuk menantunya itu.


"Ini buat kamu, makan yang banyak ya biar cepat sembuh." ucap Erni sembari meletakkan piring berisi makanan itu di hadapan Alana.


Kemudian dia pun mengambilkan makanan untuk Azzam agar semuanya adil. Dengan begitu Alana tidak perlu bersedih lagi.


"Makanlah, atau mau aku suapi?" tawar Azzam yang masih menggenggam tangan Alana erat.


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri." tolak Alana, dia pun memberanikan diri mengangkat kepala dan memegang sendok yang ada di piring.


"Makanlah, tidak perlu takut." ujar Kurniawan mengulas senyum.


"I-iya, Ayah." angguk Alana terbata-bata lalu menyantap makanan itu dengan perasaan campur aduk. Jantungnya berdegup kencang, dia merasa tidak pantas berada di tengah-tengah mereka.

__ADS_1


Usai mengisi perut, Azzam pamit lebih dulu meninggalkan meja makan. Dia harus membersihkan diri terlebih dahulu, begitu pula dengan Alana yang sudah berkeringat.


Sesampainya di kamar, Azzam mendudukkan Alana di sisi ranjang. Dia membuka pintu kamar mandi dan mengisi bathtub dengan air hangat. Setelah itu Azzam kembali ke luar dan menunduk di hadapan Alana.


"Mandi dulu ya, biar nanti tidurnya nyenyak." ucap Azzam sembari mengusap kepala Alana dengan sayang.


"Bagaimana caraku mandi? Aku-"


"Aku yang akan memandikan mu." potong Azzam mengangkat sudut bibir.


"Kamu?" Alana memelototi Azzam saking terkejutnya.


"Hehehe... Kenapa melihatku seperti itu? Apa aku tidak boleh memandikan istriku sendiri? Ingat, sebelumnya kamu pernah melakukan hal yang sama padaku, kenapa aku tidak boleh?" Azzam mengatakan itu seraya tersenyum penuh misteri.


"Beda lah, aku 'kan... Azzam..."


Alana sontak menjerit saat Azzam tiba-tiba menggendongnya dan berjalan memasuki kamar mandi. "Azzam, aku tidak mau. Aku malu, Azzam."


Alana meronta-ronta dan memukul dada Azzam, tapi pria itu sama sekali tidak peduli dan malah masuk ke dalam bathtub.


Alana membuka mata lebar-lebar dengan mulut menganga saat pakaian di tubuhnya basah terendam air. "Azzam, aku tidak mau. Cepat keluarkan aku!" berang Alana.


"Tapi aku ingin mandi berdua denganmu, aku sangat merindukan momen seperti ini." desis Azzam, dia mencengkeram leher Alana lalu berpindah ke tengkuk istrinya itu.


"Lihat aku! Apa kamu tidak merindukanku?" Azzam bertanya dengan suara serak, deru nafasnya memburu, terasa hangat menerpa wajah Alana.


Gadis itu terdiam seraya menelan ludah dengan susah payah. Ya, dia sangat merindukan Azzam tapi tidak berani menyuarakannya.


Alana melenguh saat Azzam mencium lehernya, Alana merasa tubuhnya bergetar dengan dahsyat. Dia takut, dia tidak berani mengatakan apapun.

__ADS_1


__ADS_2