
Azzam nampak gelisah sembari bolak-balik di depan pintu ruangan IGD, dia semakin khawatir memikirkan keadaan istrinya di dalam sana.
Ya, Azzam masih bingung mengingat kejadian tadi. Ada apa dengan Alana sebenarnya? Apa kecelakaan tempo hari membuat Alana lumpuh? Tapi saat di ruko, Alana terlihat baik-baik saja.
Azzam terperanjat saat pintu ruangan tiba-tiba terbuka. Seorang dokter keluar, Azzam pun dengan cepat menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Azzam dengan raut cemas.
Sebelum menjelaskan kondisi Alana, dokter itu menghela nafas dan membuangnya perlahan.
"Tidak ada yang serius, dia hanya syok, sebab itulah dia pingsan. Tapi kakinya-"
"Kenapa dengan kaki istri saya, Dok?" potong Azzam.
"Sepertinya sebelah kaki istri Anda mengalami kelumpuhan. Apa dia pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?" tanya dokter itu.
"Iya, tapi dia sempat menghilang setelah itu. Saya tidak tau apa yang terjadi dengannya." jawab Azzam apa adanya.
Dokter itu mengerutkan kening, bingung mendengar jawaban Azzam yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin seorang suami tidak mengetahui keadaan istrinya? Suami seperti apa dia?
Azzam menundukkan kepala sejenak, dia mengerti maksud tatapan dokter itu.
"Boleh saya masuk?" tanya Azzam mengalihkan pembicaraan, dia hanya ingin melihat Alana dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Silahkan!" jawab dokter itu sembari bergeser memberi jalan untuk Azzam.
Azzam mengangkat sudut bibir membentuk senyuman tipis lalu melewati dokter itu begitu saja. Saat menginjakkan kaki di lantai ruangan itu, dada Azzam berdegup kencang secepat lari maraton. Dia tidak tau bagaimana cara menghadapi Alana setelah semua yang terjadi diantara mereka.
Seorang perawat yang melihat kedatangan Azzam langsung undur diri, dia meninggalkan sepasang suami istri itu berdua saja.
Setelah menutup pintu, Azzam berjalan menghampiri Alana dengan langkah gontai, kakinya gemetaran, dadanya semakin sesak menatap tubuh istrinya yang terbujur kaku di atas brankar.
Azzam berdiri di samping brankar dan meraih tangan Alana, hatinya mencelos melihat muka polos istrinya yang menyedihkan.
"Sayang, aku di sini. Apa yang terjadi denganmu?" lirih Azzam menitikkan air mata, dadanya kian sesak mematut Alana dari kaki hingga ujung rambut.
Alana yang tadinya memicingkan mata, seketika membukanya perlahan. Dia sontak terduduk, betapa terkejutnya dia mendapati wajah Azzam yang sangat dekat dengan dirinya, tanpa dia sadari air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipi.
"Sssttt... Jangan menangis!" Azzam dengan cepat menyeka pipi Alana dan memeluknya.
Alana tidak kuasa menahan rasa sedih di hatinya, dia meraung sejadi-jadinya kala merasakan hangatnya suhu tubuh Azzam. Pelukan yang sudah sejak lama dia rindukan.
__ADS_1
"Huuu... Hiks..."
"Cukup sayang, tolong jangan menangis! Aku di sini, aku bersamamu." desis Azzam seraya mematut muka Alana lalu mengusap pipinya dengan lembut.
"A-apa yang kamu lakukan di sini? Pergilah, biarkan aku sendiri!" isak Alana yang tak kuasa menghentikan tangisannya.
Ini sangat menyakitkan. Kenapa Azzam kembali muncul di hadapannya? Bukankah Azzam sudah pergi? Azzam tidak menginginkannya lagi, Azzam ingin meninggalkannya dan pergi jauh darinya.
"Al, tolong tenangkan dirimu, jangan seperti ini!" bujuk Azzam, dia pun mencium kening dan pipi Alana bergantian.
Alana meraih kerah kemeja Azzam dan memukul dada suaminya dengan beringas. "Hidupku sudah hancur, aku tidak menginginkan apa-apa lagi. Pergilah, tinggalkan aku! Aku ingin mati saja, aku ingin mati, Azzam. Kenapa membawaku ke sini, aku tidak ingin hidup lagi."
Alana menangis sejadi-jadinya dan mencengkeram dada Azzam dengan kuat. "Biarkan aku menyusul kedua orang tuaku, aku-"
"Sssttt... Cukup!" sela Azzam berderai air mata, sakit rasanya mendengar ucapan Alana yang ingin mati menyusul kedua orang tuanya.
Azzam mendekap Alana dengan erat, tangis istrinya itu semakin pecah di dadanya. Begitu pula dengan Azzam, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
"Lepaskan aku, Azzam! Aku-"
"Tidak, aku tidak akan pernah melepaskan mu." tegas Azzam, dia menempelkan dagunya di pucuk kepala Alana dan mengusap lengan istrinya itu dengan penuh kelembutan.
"Hiiii..." Alana menjerit histeris seraya memukuli punggung Azzam, tidak terbilang betapa terpukulnya dia menjalani hidup yang tidak adil ini.
Andai waktu bisa diulang kembali, dia tidak akan pernah membiarkan Alana meninggalkan apartemen pada malam itu. Ini salahnya, Alana menderita seperti ini karena kecerobohannya.
Sesaat setelah tangisan Alana mereda, Azzam memilih duduk di atas brankar dan mendekap istrinya itu dengan erat.
Mata Alana nampak sembab dan memerah, dia terisak sedu sedan di dada Azzam.
"Maafkan aku, aku sudah berusaha mencarimu tapi-"
Azzam menghela nafas berat dan membuangnya kasar. "Aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu, aku lihat kamu sudah kembali bersama pria itu."
Alana kembali menitikkan air mata. "Kalau begitu pergilah, tinggalkan saja aku sendiri!" Alana mendorong dada Azzam dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Iya, aku memang akan pergi." angguk Azzam membenarkan.
Alana yang mendengar itu merasa semakin terluka, dia mencabut jarum infus dengan kasar dan berusaha turun dari brankar.
"Aaaah..." Alana menjerit saat tubuhnya terhempas di dasar lantai.
__ADS_1
Azzam terperanjat kaget melihat itu dan berhamburan turun untuk membantu Alana.
"Lepaskan aku!" sergah Alana saat Azzam menyentuhnya. "Kau benar, lebih baik pergi dan jangan pernah menemui ku lagi. Wanita cacat sepertiku mana pantas menjadi istrimu."
Alana tidak berdaya untuk beranjak dari tempat itu, dia hanya menangis tanpa bisa melakukan apa-apa.
Azzam mematut Alana dengan mata memerah, ternyata istrinya benar-benar lumpuh seperti yang dikatakan dokter tadi. Dia tidak percaya ini, apa yang sudah dia lakukan?
"Alana, kamu-"
"Aku lumpuh, aku tidak bisa berjalan sepertimu. Sekarang pergilah, tinggalkan aku sendiri. Aku tidak layak untukmu, biarkan aku menanggung penderitaan ini seorang diri!"
Alana membuang muka, dia tidak berani menatap mata Azzam. Dia yakin Azzam tidak akan mau menerima wanita cacat sepertinya.
Azzam mengerjap dan menghirup udara sebanyak-banyaknya. "Jadi ini alasanmu menjauh dariku?"
Alana tidak menjawab, dia menundukkan kepala sembari menggigit ujung-ujung kukunya.
Hati Azzam benar-benar ngilu melihat ketidakberdayaan istrinya. Dia mendekati Alana dan memeluknya dengan sangat erat. Gadis itu sampai kesulitan bernafas olehnya.
"Kenapa, Alana? Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya padaku? Apa aku tidak layak berbagi rasa sakit ini denganmu? Kamu anggap apa aku ini?"
Azzam menangis pilu seraya mengusap kepala Alana dengan hati terluka. Mana mungkin dia tega meninggalkan Alana dalam keadaan seperti ini. Dia mencintai istrinya dari hati, bukan hanya sekedar tertarik pada kecantikan istrinya.
Alana kembali menangis di pelukan Azzam. Dia melingkarkan tangan di punggung suaminya itu dan mencengkeramnya kuat. "Aku cacat, Azzam. Aku tidak mau menyusahkanmu. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Aku bukan Alana yang dulu lagi, semua sudah berubah." lirih Alana sesenggukan.
"Tapi aku mencintaimu, aku tidak peduli dengan semua ini. Kenapa kamu setega ini padaku?" isak Azzam berderai air mata.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Kamu tidak mau menemuiku walaupun hanya sekali. Aku pikir kamu sudah tau tentang ini dan sengaja menjauhiku." jawab Alana seraya meremas rambut Azzam.
"Aku tidak sejahat itu, aku mencintaimu bukan karena fisikmu. Aku tidak mungkin meninggalkanmu, aku pikir kamu sudah kembali pada pria itu. Aku tidak sanggup menghadapi kenyataan ini." desis Azzam mencengkeram tengkuk Alana.
Alana mendorong dada Azzam dan mematutnya dengan pandangan menggelap. "Aku mencintaimu, aku juga sangat merindukanmu. Aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa, dia hanya membantuku."
"Maafkan aku, maaf." Azzam menangkup tangan di pipi Alana kemudian mencium kening, mata, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir Alana.
"Huuu..." Alana kembali meraung dan memeluk Azzam dengan erat. "Aku cacat, Azzam. Aku tidak layak untukmu."
"Aku tidak peduli, apapun akan aku lakukan agar kamu bisa berjalan kembali. Kita hadapi ini sama-sama." tegas Azzam.
"Tapi, Azzam-"
__ADS_1
"Cukup sayang, tidak usah bicara lagi!" Azzam menjauhkan diri dan mengesap bibir Alana dengan lembut. Alana terdiam sejenak dan balas melu*mat bibir suaminya itu.