Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 41.


__ADS_3

Malam hari, Azzam tiba di rumah Kurniawan setelah satu minggu menghilang. Penampilannya nampak kusut dan berantakan, wajahnya juga terlihat sangat lesu.


Ya, setelah satu minggu mencari dan mencari, dia tidak kunjung menemukan Alana. Dia patah arah, tidak tau harus mencari istrinya kemana lagi.


Azzam sadar, mungkin ini adalah hukuman atas dosa yang sudah dia lakukan. Dia sudah menyakiti hati seorang ibu dan ini merupakan karma untuknya. Sekarang dia kehilangan wanita yang sangat dicintainya hanya karena trauma yang dia alami.


Azzam benar-benar frustasi, dia kehilangan arah dan tujuan dalam hidup, bahkan tidak bersemangat lagi dalam bekerja.


Sesampainya di ruang keluarga, Azzam mendapati Erni yang tengah duduk di sofa, ada Kurniawan juga yang sedang menonton televisi di sampingnya.


Dengan langkah gontai, Azzam berjalan menghampiri keduanya. Tanpa mengatakan apa-apa, dia langsung bersujud di kaki sang ibu.


Erni terkesiap dengan mata membulat sempurna, begitu juga dengan Kurniawan yang tidak kalah terkejutnya. Pria itu tidak menyangka Azzam bisa melakukan ini setelah semua yang terjadi.


"Azzam, apa yang kamu lakukan Nak?" Erni mengangkat lengan Azzam, namun putranya itu tidak mau bangun dari sujudnya.


Azzam malah meraung dan memeluk betis Erni sesaat setelah mencium kaki sang ibu.


"Maafkan Azzam Bu, tolong ampuni Azzam yang sudah durhaka pada Ibu, Azzam menyesal."


Azzam terisak di kaki Erni, dia menyesal karena sudah salah menilai ibu kandungnya sendiri. Dia benar-benar tidak tau apa yang terjadi sebenarnya, dia hanya bertindak mengikuti emosi.


"Tolong ampuni Azzam Bu, Azzam tidak berniat menyakiti hati Ibu." imbuh Azzam berderai air mata.


Erni tidak tahan lagi melihat putranya yang nampak sangat terpuruk, dia turun dari kursi dan membawa Azzam ke pelukannya.


"Tidak Nak, kamu tidak salah, Ibu tidak marah. Bagaimanapun kamu, kamu tetaplah anak Ibu, Ibu sangat menyayangimu."


Erni tak kuasa menahan air mata, semua tumpah tanpa dia sadari. Setelah puluhan tahun menanti, akhirnya dia bisa menyentuh putranya, bahkan memeluknya.

__ADS_1


Apa lagi yang lebih membahagiakan dari ini? Erni bahkan tidak pernah berpikir sampai sejauh ini.


Ya, Erni memang bukan Ibu yang membesarkan Azzam, tapi dia lah yang sudah melahirkan Azzam ke dunia ini. Semua kebahagiaannya direnggut karena keegoisan orang tua Kurniawan.


Erni dan Kurniawan saling mencintai, bahkan sejak keduanya masih duduk di bangku SMA.


Cinta itu terus berlanjut hingga akhirnya Kurniawan menikahi Erni tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Mereka menikah di hadapan ayah Erni.


Karena status Erni yang tidak memiliki apa-apa, membuat kedua orang tua Kurniawan menentang pernikahan itu.


Kurniawan dipaksa menikahi Wina yang saat itu menjadi wanita pilihan kedua orang tuanya.


Kurniawan menolak keras permintaan tersebut, dia tidak mungkin mengkhianati Erni, wanita yang sangat dicintainya.


Namun penyakit sang ayah akhirnya meluluhlantakkan hati Kurniawan, dia terpaksa menerima pernikahan itu demi kesembuhan ayahnya.


Namun semua tidak berjalan sesuai harapan. Ayah Kurniawan telah berbohong, katanya akan merestui pernikahan pertama Kurniawan tapi ternyata tidak.


Kurniawan sudah berusaha mencari Erni tapi tak kunjung bertemu. Beberapa tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali tanpa disengaja.


Hal itulah yang membuat Wina marah, dia cemburu dan terluka hingga akhirnya memilih mengakhiri hidup.


Dari sanalah Azzam menganggap Erni sebagai wanita jahat, perusak rumah tangga ibunya dan perebut ayahnya. Kematian sang ibu membuat kebencian Azzam semakin mendarah daging, apalagi saat Kurniawan membawa Erni pulang ke rumah itu.


Erni tidak pernah menyalahkan Azzam, putranya hanya korban dari keegoisan mertuanya. Dia menerima saja saat Azzam menghinanya, membentaknya bahkan menganggapnya sebagai pembunuh.


"Maafkan Azzam Bu, maaf."


Azzam memeluk Erni dengan erat, air matanya terus mengalir bersama ingusnya. Dia tidak tau harus berkata apa lagi, dia merasa sudah terlalu jahat terhadap sang ibu.

__ADS_1


Erni mendekap Azzam di dadanya, dia mengusap kepala Azzam dengan sayang. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Ibu tau kamu anak yang baik. Kamu anak Ibu, selamanya akan tetap seperti itu."


Dada Azzam terasa ngilu mendengar ucapan sang ibu. Setelah semua yang dia perbuat, Erni sama sekali tidak membencinya, Erni ternyata sangat menyayanginya. Bodohnya dia karena tidak pernah memberi Erni kesempatan untuk berbicara.


"Sudah, jangan menangis lagi. Ibu tidak marah, Ibu tau kamu sangat menyayangi Wina. Harusnya Ibu yang minta maaf, tidak seharusnya Ibu kembali." lirih Erni.


Azzam menggeleng-gelengkan kepala lalu menempelkan keningnya di lutut Erni. "Tidak, Ibu tidak salah. Ibu sudah terlalu banyak menderita. Ibu bahkan diam saja saat aku menghina Ibu, anak macam apa aku ini?"


Kurniawan yang sedari tadi hanya diam, kemudian ikut duduk di samping keduanya.


"Bukan kalian yang salah, tapi Ayah." Kurniawan memeluk istri dan putranya itu bersamaan. "Maafkan Ayah, Nak. Ini semua terjadi karena Ayah. Jika saja Ayah menentang keinginan kakekmu, ini semua tidak akan pernah terjadi."


Ya, jika ada yang patut disalahkan, maka Kurniawan lah yang lebih pantas menerimanya. Dia tidak bisa tegas sehingga Azzam dan Erni lah yang jadi korban.


Azzam mengangkat kepalanya dari lutut Erni, dia menatap Kurniawan sekilas lalu memeluknya. "Maafkan Azzam, Ayah. Azzam juga tidak bermaksud menyakiti hati Ayah."


Ketiganya saling berpelukan, suara tangisan ketiganya membaur menjadi satu. Tidak ada lagi yang berbicara, mereka bertiga larut menyalahkan diri masing-masing.


Beberapa menit kemudian, tangis ketiganya mulai mereda. Azzam membaringkan diri di paha Erni, wanita itu mengusap kepala Azzam seperti sedang menidurkan anak kecil.


Akhirnya rasa rindu yang selama ini tertahan, lepas begitu saja. Awalnya Erni pikir Azzam akan semakin membencinya, tapi ternyata hati putranya tidak sekeras itu. Azzam kembali ke pangkuannya, putranya yang dulu sudah datang.


Erni tidak tau harus berkata apa lagi. Tidak terbilang betapa bahagianya dia saat ini.


Disaat harapannya mulai pupus, Azzam tiba-tiba datang dengan sendirinya. Tidak peduli betapa sakit penderitaan yang dia tanggung selama ini, semua terobati setelah Azzam mengakuinya sebagai ibu.


Apa lagi yang lebih berharga dari ini? Tidak ada, Erni bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memeluk putranya, mencurahkan segala rasa sayang yang dia pendam bertahun-tahun lamanya.


Biarkan kenangan pahit itu pergi dengan sendirinya, biarkan semua rasa sakit menjadi abu yang nanti akan terbang dibawa angin.

__ADS_1


Azzam putranya, darah dagingnya, tidak ada yang lebih berarti dari ini.


Erni tak hentinya mengusap kepala Azzam, mencium keningnya berulang kali layaknya anak kecil. Puluhan tahun dia menunggu, kini semua telah menjadi kenyataan. Hatinya terenyuh saat Azzam memanggilnya ibu untuk pertama kali.


__ADS_2