Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 54.


__ADS_3

Sekitar pukul lima sore mobil yang dikendarai Azzam berhenti tepat di depan sebuah rumah kecil nan sederhana, bangunan itu terlihat cukup tua namun pemandangan sekitar mampu menciptakan kedamaian di hati.


Rumah berbentuk panggung itu memiliki desain yang cukup unik, terdapat beberapa ukiran kuno di bagian dinding yang terbuat dari papan tersebut.


Udara di tempat itu juga sangat sejuk, pohon-pohon yang ada di pekarangan rumah nampak rindang. "Apa benar ini rumahnya?" tanya Azzam memastikan sembari celingak-celinguk ke arah kiri dan kanan.


"Iya, ini rumah nenek." angguk Alana, dia pun membuka pintu mobil hingga akhirnya terdiam tanpa kata.


Ya, saking senangnya setelah tiba di rumah itu, Alana sampai lupa bahwa kini dia tidak bisa berjalan seperti dulu. Awalnya dia ingin melompat dan berlari memasuki rumah tapi ternyata untuk turun saja dia tidak sanggup.


Melihat Alana terdiam seperti patung, Azzam langsung mengerti dan bergegas turun lalu mengitari mobil. Azzam mengulurkan kedua tangan dan menggendong Alana menuju pintu rumah. "Sepi sekali, apa di rumah ini tidak ada orang?" tanya Azzam ingin tau.


"Tidak ada," geleng Alana dengan pandangan berkabut.


"Lalu bagaimana cara kita masuk?" tanya Azzam kebingungan dengan kening mengernyit.

__ADS_1


"Buka paksa saja gemboknya, nanti bisa diganti dengan yang baru!" ucap Alana, dia kemudian meminta Azzam menurunkannya di beranda lalu menyuruh Azzam membuka paksa gembok tersebut.


Sesuai permintaan Alana, Azzam pun mendudukkan istrinya itu di kursi rotan yang terlihat masih sangat kokoh. Azzam kemudian menuruni anak tangga dan mengambil sebuah batu lalu memukul-mukul gembok tersebut hingga terlepas.


Setelah berhasil membuka pintu, Azzam kembali menghampiri Alana dan mengangkat tubuhnya. Dia membawa Alana masuk dan terkejut mendapati ruangan yang tertata dengan rapi meski sudah dipenuhi debu dan sarang laba-laba. "Rumah ini cukup nyaman tapi tidak baik bagimu, untuk sementara kita cari saja penginapan, biar rumah ini dibersihkan dulu agar bisa ditempati." keluh Azzam.


"Tidak usah, aku bisa mem..."


Lagi-lagi Alana lupa bagaimana kondisinya saat ini. Bisa-bisanya dia berpikir ingin membersihkan rumah itu seorang diri. "Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk mengantarku, aku berhutang budi padamu. Tolong bawa aku ke kamar itu, setelah ini kamu boleh pergi." imbuh Alana seraya menunjuk sebuah pintu.


"Baiklah," angguk Azzam tanpa penolakan, dia pun berjalan menuju pintu kamar tersebut sesuai permintaan Alana.


Ya, meski sudah beberapa tahun kosong tapi keadaan rumah itu masih sangat terawat. Belakang ada keluarga sang nenek yang selalu datang membersihkannya, namun sekitar tiga bulan ini sudah tidak ada lagi yang mengunjungi rumah itu.


Bagi Azzam tidak masalah mengeluarkan sedikit keringat asal Alana nyaman menempati rumah tua itu.

__ADS_1


Setelah kamar itu bersih, Azzam membantu Alana berbaring dan memintanya beristirahat lalu dia meninggalkan kamar dan lanjut membersihkan ruangan depan.


Malam hari, Azzam menghela nafas panjang. Dia merasa sangat lelah namun tidak masalah sama sekali demi kenyamanan sang istri. Azzam juga mengisi air di bak mandi kemudian memasak air hangat untuk Alana.


Setelah air mendidih, Azzam menuangkannya ke dalam baskom lalu mencampurnya dengan air dingin dan kembali ke kamar. Mendapati sang istri yang tengah tertidur pulas hatinya mencelos. Dia tau Alana sengaja mencari alasan agar menjauh darinya tapi dia sendiri sudah yakin untuk tidak meninggalkan Alana apapun yang terjadi.


Azzam duduk di sisi ranjang besi itu kemudian mengelus pipi Alana lembut, kian hari dia merasa hatinya semakin sayang pada Alana, dia hanya ingin istrinya senang meski keadaan susah berbeda.


Pelan-pelan kelopak mata Alana berkedip dan terbuka, dia mengukir senyum simpul menikmati sentuhan tangan suaminya yang lembut.


"Mandi yuk! Aku sudah memasak air hangat untukmu. Setelah ini aku akan keluar mencari makan malam." ucap Azzam mengulas senyum.


"Kamu masih di sini?" tanya Alana tersenyum getir.


"Kenapa? Apa aku tidak boleh berada di rumah ini? Kamu pikir aku tega meninggalkan istriku dalam keadaan seperti ini?" jawab Azzam dengan pertanyaan pula.

__ADS_1


Alana menghela nafas dalam-dalam, dia pikir Azzam akan pergi tapi tidak sama sekali.


"Sudahlah, tidak usah berpikir macam-macam!" Azzam mencubit pipi Alana gemas kemudian mencium pucuk kepala istrinya itu dengan sayang. Setelah itu dia menggendong Alana dan membawanya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kali ini Alana tidak dapat berkelit, dia hanya pasrah saat Azzam melucuti pakaiannya dan mandi bersama.


__ADS_2