
Satu Minggu Kemudian...
"Halo Pak, rumah itu sudah selesai direhab. Untuk tokonya juga sudah direnovasi sesuai keinginan Bapak. Kami pun telah membeli alat yang dibutuhkan, tinggal ditempati saja."
"Baiklah, terima kasih."
Dari gazebo yang ada di belakang villa, Rizal baru saja mendapat telepon dari seseorang. Setelah sambungan telepon itu terputus, dia menyeruput kopinya hingga tandas kemudian berjalan meninggalkan taman.
Ya, setelah satu minggu berlalu, kini Rizal bisa bernafas dengan lega. Akhirnya dia mampu mewujudkan mimpi Alana yang dulunya ingin sekali membuka toko kue, Rizal juga sudah menyiapkan rumah untuknya.
Agaknya Rizal sudah menyerah untuk mendapatkan hati Alana. Setiap kali dia mencoba, Alana selalu saja mengatakan hal yang sama. Kini Rizal tidak ingin mendesaknya lagi, mungkin Tuhan tidak menakdirkan mereka untuk berjodoh.
Setibanya di kamar, Rizal duduk di sisi ranjang. Dia menatap Alana yang sedang tertidur dan meraih tangannya, Rizal menggenggamnya dengan hati lirih.
Ya, rasanya Rizal tidak sanggup kehilangan Alana untuk kedua kalinya, tapi bagaimanapun Rizal harus ikhlas melepaskannya. Dia tidak punya hak menahan Alana di villa itu.
Samar-samar Alana pun menangkap wajah Rizal, dia terperanjat dan lekas membuka mata lalu menarik tangannya dengan kasar hingga terlepas dari genggaman Rizal.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Alana dengan mata melotot tajam, dia marah melihat Rizal yang terlalu lancang memasuki kamar itu.
Rizal tersenyum getir dan segera menjauh dari Alana, dia sadar tidak seharusnya menyelonong masuk tanpa permisi.
"Maaf, aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu, aku-"
Rizal diam sejenak lalu memilih duduk di sofa. "Aku ingin bertanya sekali lagi. Apa aku benar-benar tidak ada harapan untuk memilikimu?"
Satu minggu terakhir ini, entah sudah berapa kali Rizal menanyakan hal yang sama pada Alana, tapi gadis itu tetap saja memberikan jawaban serupa.
Alana tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Rizal, yang dia tau dia masih istri Azzam yang sah. Meski hubungan mereka tidak tau harus dibawa kemana, tapi Alana sangat yakin dengan perasaannya.
__ADS_1
Alana juga tidak berharap bisa kembali pada Azzam, dia tau sekarang keadaannya sudah berbeda. Dia hanya wanita cacat, tidak mungkin Azzam mau menerimanya.
Alana hanya ingin sendiri, dia tidak mau bergantung pada siapapun. Dia bahkan pernah mencoba kabur dari villa tapi sayang dia tidak bisa melakukannya.
Sekarang Alana harus bergantung pada kursi roda, dia tidak bisa berjalan seperti biasa.
"Baiklah, aku akan melepas mu, tapi berjanjilah untuk tidak membenciku. Anggaplah aku ini kakakmu, aku akan tetap mengawasi mu." imbuh Rizal.
Setelah mengatakan itu, dia berlalu pergi meninggalkan Alana yang tengah berpikir. Apa maksud ucapan Rizal barusan?
Tidak berselang lama, seorang pelayan datang dan membantu Alana duduk di kursi roda lalu mendorongnya meninggalkan kamar itu.
Sesampainya di halaman, Alana plangak plongok melihat mobil yang sudah standby untuk membawanya. Ada Rizal juga yang tengah duduk di bangku depan.
Seorang sopir menghampiri Alana, dia dan pelayan tadi membantu gadis itu masuk dan duduk di bangku tengah, lalu keduanya ikut masuk ke mobil itu.
Alana terdiam sejenak seraya mematut Rizal yang duduk di hadapannya. Pria itu tidak berkata apa-apa, dia hanya fokus menatap ke arah depan.
Setelah Alana diturunkan, Rizal ikut turun dan mendorong kursi roda yang diduduki gadis itu. Mereka berdua memasuki rumah disusul oleh sopir dan pelayan.
Lalu Rizal membawa Alana ke kamar utama, di sanalah nantinya Alana akan menghabiskan hari-harinya tanpa Rizal maupun Azzam.
Rizal tidak tau bagaimana hubungan mereka akan berjalan nantinya, yang pasti dia ikhlas menyiapkan semua ini untuk wanita yang sangat dicintainya.
Sesampainya di kamar, Rizal mendorong kursi roda Alana ke sisi ranjang. Sebelum pergi, dia pun berjongkok di kaki gadis itu.
"Tinggallah di sini! Aku harap kamu betah meski rumah ini tidak semewah rumah suamimu. Aku juga sudah menyiapkan sebuah toko kue, kamu bisa mengembangkannya sesuai keinginanmu. Sopir dan pelayan tadi akan menemanimu di rumah ini, aku yang akan membayar gajinya setiap bulan. Kamu tidak perlu memikirkan apa-apa, fokus saja pada kesehatanmu!"
Rizal menggenggam tangan Alana lalu menciumnya, hatinya mencelos mengatakan itu semua. Andai masih tersisa sedikit rasa untuknya, mungkin Rizal akan menjadi pria paling bahagia di dunia. Tapi kenyataannya, semua rasa itu sudah hilang seiring kepergiannya.
__ADS_1
Kali ini Alana hanya diam saat Rizal menggenggam tangannya, tidak ada penolakan seperti sebelumnya.
Ya, Alana merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi. Andai saat itu dia tidak bertemu Azzam dan membantunya, mungkin dia akan sangat senang menerima Rizal sebagai suaminya.
Akan tetapi, takdir sudah menentukan garis tangan mereka masing-masing. Alana tidak bisa menerima Rizal, dia sadar statusnya masih istri orang. Lagipula Alana masih berharap bisa bertemu dengan suaminya, dia tidak mungkin mengkhianati Azzam.
"Tidak apa-apa, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Cinta memang tidak bisa dipaksakan." imbuh Rizal seraya mengusap kepala Alana.
Gadis itu tiba-tiba menangis melihat keikhlasan di hati Rizal. Ya, pria itu terlalu baik, saking baiknya Alana merasa tidak pantas menerima semua ini.
"Aku tidak bisa tinggal di sini, aku-"
"Tolong, kali ini jangan menolak, anggap saja ini bantuan dari seorang kakak!" sela Rizal, dia tidak mungkin membiarkan Alana kembali ke rumah Desi. Rizal tau bahwa wanita itu tidak menyukai Alana sejak dulu.
"Tapi-"
"Aku ikhlas, ini semua memang untukmu. Bukankah dulu aku pernah berjanji? Sekarang aku sudah menepatinya." potong Rizal, dia benar-benar ikhlas memberikan semuanya untuk Alana.
"Baiklah, terima kasih. Maaf karena aku telah mengecewakanmu, aku tidak berniat mengkhianatimu, semua terjadi tanpa disengaja." lirih Alana menatap Rizal dengan sendu, air matanya terus menetes membasahi pipi.
"Sudah, tidak usah dibahas lagi. Sekarang kita mulai dari awal ya, kamu mau 'kan jadi sahabatku?" Rizal mengulas senyum sembari mengulurkan tangannya.
Alana memaksakan diri untuk tersenyum lalu menjabat tangan Rizal. "Sekali lagi terima kasih."
"Dalam persahabatan tidak ada yang namanya terima kasih. Ingat, aku akan selalu menemanimu sampai kamu menemukan kebahagiaanmu kembali." ucap Rizal.
Alana tidak tau harus berkata apa lagi, pria itu terlalu baik untuk dijadikan sahabat. Akan tetapi, Alana juga tidak bisa menolaknya, mungkin inilah yang terbaik untuk mereka berdua.
Setelah berhasil meyakinkan Alana, Rizal pun pamit meninggalkan rumah itu. Dia tidak bisa berlama-lama, masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.
__ADS_1
Setelah Rizal pergi, Alana menangis sejadi-jadinya. Dia bersyukur pernah mengenal Rizal dan mencintainya. Dia merasa bersalah karena sudah menyakiti hati pria sebaik itu.
Tapi Alana juga tidak bisa melawan takdir, dia dipertemukan dengan Azzam yang kini sudah menjadi suaminya. Alana tidak mungkin melupakan statusnya sebagai seorang istri.