Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 48.


__ADS_3

Usai memindahkan Alana ke brankar, Azzam meninggalkan ruangan barang sejenak. Dia menemui suster dan memintanya memasangkan jarum infus yang sempat dicabut istrinya tadi.


Setelah Azzam menghilang dari pandangannya, Alana kembali terisak mengingat ucapan suaminya itu. Meski Azzam sudah mengatakan bahwa dia menerimanya, tetap saja Alana merasa tidak pantas bersama sang suami.


Pria itu sudah terlalu pusing dengan masalah yang dia hadapi, Alana tidak ingin menambah beban baru untuk suaminya itu. Dia ingin lari dari tempat itu tapi keadaan memaksanya untuk tetap berada di sana, dia benar-benar tidak bisa menggerakkan kakinya.


Tidak lama, Azzam datang bersama seorang perawat. Alana yang melihat kedatangan mereka hanya diam dan memilih memejamkan mata. Bahkan saat perawat memasangkan infus di tangannya, dia hanya meringis menahan rasa sakit.


Sesaat setelah perawat itu meninggalkan ruangan, Azzam duduk di kursi dan menggenggam tangan Alana erat, sesekali dia menciumnya dengan sayang.


Alana bisa merasakan kelembutan bibir suaminya. Hatinya terenyuh, sudut matanya mengeluarkan cairan begitu saja.


"Cukup sayang, jangan menangis lagi!" ucap Azzam kala mematut wajah istrinya dengan sendu, Azzam mengangkat bokong dan menyeka pipi Alana dengan telapak tangannya.


"Kenapa tidak meninggalkan aku saja? Aku ini hanya beban untukmu." ucap Alana seraya membuka mata perlahan, dia mencebik mematut manik mata Azzam yang berkilau.


"Tidak akan, aku sudah memilihmu, jadi hanya kamu yang pantas berada di sisiku." tegas Azzam dengan penuh penekanan.


"Tapi aku tidak berguna, aku hanya akan-"


"Sudahlah, tidak usah berpikir sejauh itu. Kita akan menghadapi ujian ini bersama-sama." Azzam mengusap pucuk kepala Alana dan menciumnya dengan sayang.


Tidak peduli sesulit apapun beban yang harus dia hadapi di masa depan, Azzam tetap kekeh dengan pendiriannya. Dia akan mencari dokter terbaik untuk Alana, bila perlu dia akan membawanya ke luar negeri.

__ADS_1


"Sekarang istirahat saja dulu, aku tidak akan ke mana-mana." kembali Azzam menyeka pipi Alana dan mencium kelopak matanya.


Alana pun mengangkat sudut bibir membentuk senyuman tipis lalu merengkuh tengkuk Azzam dan memeluknya erat. "Aku mau pulang saja, aku tidak ingin dirawat di sini."


"Iya, kita akan pulang. Tapi tunggu keputusan dari dokter dulu ya." sahut Azzam dengan suara sangat lembut.


Alana mengangguk lemah dan semakin mempererat pelukannya. Mau tidak mau, Azzam terpaksa mematung dengan posisi menyungging. Pinggangnya terasa kram karena Alana tidak kunjung melepaskannya.


Hampir tiga puluh menit Azzam membeku dalam posisi seperti itu. Saat Alana tertidur barulah dia bisa menjauh dan meregangkan otot yang terasa sangat kaku, pinggang Azzam serasa mau lepas dibuatnya.


Kemudian Azzam mematut Alana sekilas dan mencium pipinya dengan lembut. "Maafkan aku, ini semua salahku." desis Azzam lalu menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Alana.


Saat Azzam hendak duduk di kursi, tiba-tiba ponselnya berdering. Azzam tidak jadi menduduki kursi itu dan memilih berjalan menuju pintu. Dia keluar sejenak seraya merogoh kantong celananya.


Setibanya di luar, Azzam menyipitkan mata mematut nama Erni yang terpampang di layar ponselnya. Dia pun menggeser tombol hijau dan menyapa sang ibu.


"Azzam, kamu dimana Nak? Kata Rudi kamu tidak jadi pergi, apa itu benar?"


Azzam menatap tajam Rudi yang masih setia menunggu di sebuah kursi. "Dasar ember!" batin Azzam mendongkol.


"Iya Bu, Azzam tidak jadi pergi. Azzam sudah menemukan Alana, dia-"


"Dia kenapa, Nak?"

__ADS_1


"Alana lumpuh, Bu. Alana tidak bisa berjalan seperti sebelumnya. Ini semua salah Azzam, Azzam yang sudah membuat Alana menderita."


"Tidak sayang, jangan menyalahkan diri sendiri! Sekarang kamu dimana? Ibu akan ke sana."


Setelah sambungan telepon itu terputus, Azzam mengirim pesan yang menuliskan bahwa dia tengah berada di rumah sakit. Setelah itu, dia meminta Rudi menunggu Alana di sana, dia meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju ruangan dokter.


Azzam ingin tau bagaimana kondisi kaki Alana sebenarnya. Apa kelumpuhan itu permanen atau masih bisa disembuhkan?


Sesampainya di ruangan dokter tersebut, Azzam masuk setelah mengetuk pintu lalu duduk di seberang meja sang dokter.


Tanpa berbasa-basi, Azzam langsung saja menanyakan bagaimana kondisi istrinya. Dokter itu menjelaskan bahwa kaki Alana masih bisa disembuhkan asal Alana mau menjalani terapi rutin.


Azzam manggut-manggut mendengar penuturan dokter itu. Dia pun membuat jadwal pertemuan untuk satu bulan ke depan.


Azzam kemudian menanyakan apakah Alana boleh dibawa pulang, dokter itupun mengangguk dan meresepkan obat untuk Alana.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Azzam pamit undur diri. Dia melangkah menuju meja administrasi dan membayar semua tagihan kemudian kembali ke ruangan Alana.


Sebelum memasuki ruangan tersebut, Azzam menyodorkan kertas resep yang diberikan dokter tadi ke tangan Rudi dan memintanya menebus obat tersebut.


Rudi mengangguk setuju. Setelah mengambil alih resep itu dari tangan Azzam, dia pun berlalu pergi meninggalkan Azzam seorang diri.


Azzam duduk sejenak di kursi tunggu, wajahnya nampak sangat lelah memikirkan keadaan istrinya.

__ADS_1


Kenapa dia bisa seceroboh ini? Andai dia berani menemui Alana saat pertama kali melihatnya di ruko, mungkin gadis itu tidak akan sehancur ini. Dia yang salah, rasa cemburu membuat egonya semakin meninggi.


Azzam benar-benar menyesal, dia merasa bersalah karena sudah khilaf menilai Alana. Harusnya dia bisa melihat betapa hancurnya Alana saat itu.


__ADS_2