
Sepeninggal Kurniawan, tubuh Azzam merosot di lantai, dia terhenyak dengan pandangan menggelap. Kelopak matanya sudah tidak mampu menampung cairan yang menggenang, semua tumpah ruah tanpa dia sadari.
Apa yang sudah dia lakukan? Bertahun-tahun dia menganggap Erni sebagai orang jahat, perebut ayahnya bahkan menuduhnya membunuh Wina.
Tidak sekali dua kali Azzam menghinanya, membentaknya, bahkan melukai perasaannya. Ternyata wanita yang dibencinya itu adalah ibu kandungnya sendiri, wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.
Ah, Azzam rasanya ingin berteriak sekencangnya. Bisa-bisanya dia menyalahkan Erni atas semua yang sudah terjadi, dia benar-benar sudah menjadi anak yang durhaka.
Dendam dan kebencian yang tumbuh di hati, membuatnya tidak bisa berpikir dengan kepala dingin, bahkan dia harus kehilangan Alana karena trauma yang dia hadapi.
Ya Tuhan, kenapa hidup ini begitu rumit? Karena rasa takut yang mendarah daging, dia sampai mencurigai Alana berbagi hati. Bukan itu maksud Azzam sebenarnya, dia benar-benar takut dikecewakan seperti yang dialami ibunya.
Sekarang semua sudah terjadi, fakta telah membuka pikiran Azzam. Erni tidak bersalah, begitu pula dengan Alana.
Azzam meremas rambutnya frustasi dan memukul kepalanya dengan kuat, bodohnya dia harus terjerat dalam kenangan masa lalu yang kini menghancurkan dirinya sendiri.
Segera Azzam menyapu sisa-sisa air mata yang berjatuhan di pipi, dia menghela nafas dalam-dalam dan bangkit dari duduknya. Azzam tidak boleh diam seperti ini, dia harus mencari Alana sampai bertemu.
Tanpa berpamitan, Azzam meninggalkan rumah dan menaiki mobil milik Kurniawan. Dia memacu laju kendaraan itu dengan kecepatan tinggi.
Ya, tidak butuh waktu lama bagi Azzam untuk tiba di sebuah gedung perusahaan yang pernah dia tolak saat mengajukan kerja sama ke perusahaan miliknya. Azzam harus menemui seseorang, dia yakin Alana disembunyikan oleh pria itu.
Sayang kedatangan Azzam tidak membuahkan hasil sama sekali, dia tidak bisa menemui pria itu. Kata seorang staf yang ada di lobby, bos mereka sedang ada urusan di luar. Azzam harus gigit jari mendengar perkataan wanita itu.
Entahlah, kemana Azzam harus mencari Alana? Dia benar-benar bingung, dia juga sangat menyesal mengingat kebodohan yang sudah dia lakukan.
Lalu Azzam memutuskan untuk datang ke kantor, dia hampir lupa bahwa Alana pernah mengajukan surat lamaran ke perusahaan. Dari sana, mungkin dia bisa mencari tau dimana Alana tinggal sebelumnya.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Alana berdering. Azzam terperanjat dan menghentikan laju mobilnya di leher jalan.
Azzam merogoh kantong celananya dan mengernyit melihat nama yang tertera di layar hp hitam putih itu.
__ADS_1
Sesaat setelah Azzam mengangkat panggilan itu, dia sontak terdiam mendengar suara seorang wanita yang tiba-tiba mengoceh tiada henti.
Wanita itu bahkan tertawa dengan kencang dan membahas masalah kecelakaan semalam.
Azzam tiba-tiba membulatkan mata dengan sempurna, dia menggeram tapi tidak bisa berbicara, dia membiarkan wanita itu menggerutu sesuka hati.
Ya, ternyata memang Alana lah yang mengalami kecelakaan tadi malam. Yang lebih menyakitkan, kecelakaan itu terjadi karena faktor kesengajaan, ada seseorang yang berniat mencelakai istrinya.
Tapi siapa wanita ini? Azzam diam sejenak setelah sambungan telepon itu terputus.
Lalu dia menghubungi Rudi dengan ponsel miliknya, dia mengirim nomor si penelepon tadi kepada pria itu. Azzam harus tau siapa wanita itu dan alasan apa yang membuatnya tega menyakiti Alana?
Setelah Rudi menyanggupi perintahnya, Azzam memutus sambungan telepon itu secara sepihak. Dia pun melanjutkan perjalanan menuju apartemen.
Di waktu bersamaan, Alana tengah termangu di tempat tidurnya. Dia nampak sedih memikirkan Azzam.
Dari pintu kamar, Rizal datang dan berjalan menghampirinya. Alana tersadar dan cepat-cepat menyeka wajahnya yang sempat basah.
Pria itu membawa nampan berisi piring, dia berniat menyuapi Alana makan tapi niat baiknya malah ditolak oleh Alana. Gadis itu memukul nampan yang dia bawa hingga piring dan gelas yang ada di atasnya terjatuh dan hancur berkeping-keping, semua makanan berserakan di lantai.
Rizal menghela nafas berat, mencoba meredam kemarahan agar tidak salah dalam bertindak. Dia tidak ingin menyakiti Alana.
"Tolong lepaskan aku, biarkan aku pergi dari sini!" pinta Alana dengan tatapan yang masih sama.
Rizal menggeleng lemah. "Aku tidak bisa."
Alana membuang pandangan ke arah lain, dia tidak ingin melihat pria itu.
"Kamu sudah berada di tempat yang tepat. Untuk apa pergi dari sini? Aku akan bertanggung jawab atas dirimu." imbuh Rizal.
"Aku tidak butuh pertanggung jawaban darimu. Ingat, aku bukan siapa-siapa untukmu. Sadarlah, tindakanmu ini tidak benar!" berang Alana meninggikan suara.
__ADS_1
Rizal hanya tersenyum dan mencoba meraih tangan Alana, gadis itu kembali menatapnya dan dengan sigap menepis tangannya.
"Hubungan kita sudah berakhir sejak lama. Sekarang aku bukan wanita yang dulu lagi, aku sudah menikah." terang Alana agar pria itu mengerti.
"Pernikahan kalian hanya status, aku tau itu." kata Rizal dengan entengnya, dia tau tidak ada cinta diantara Alana dan Azzam, jadi untuk apa hubungan itu dipertahankan?
Alana tersenyum getir yang membuat Rizal menyipitkan mata.
"Kau salah besar, kenyataannya aku mencintai Azzam dan dia juga sangat mencintaiku. Jadi tolong, berhentilah mengharapkanku, sampai kapanpun aku tidak akan pernah kembali padamu. Hubungan kita sudah berakhir sejak kau pergi."
Deg...
Rizal benar-benar terkejut mendengar ucapan Alana, hatinya terasa sakit,
ngilu bak ditikam pedang tajam. Dia tidak menyangka Alana bisa berkata seperti itu padanya, tidak mungkin Alana mencintai Azzam.
Lalu bagaimana dengannya? Cintanya, pengorbanannya dan perjuangan yang sudah dia lakukan sampai bisa sesukses ini.
Rizal melakukan semua ini hanya untuk Alana, dari awal dia sudah berjanji akan kembali sebagai orang sukses, dia akan menjadikan Alana ratu di hidupnya.
Sekarang dia sudah kembali sesuai janjinya, tapi apa yang dia dapatkan? Alana bahkan tidak menunggunya, tapi malah menikah dengan pria lain.
"Tolong mengertilah! Aku tau kau itu pria yang baik, aku sangat menghargai perjuanganmu, tapi takdir sudah menentukan jalan kita masing-masing, kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku." imbuh Alana menatap Rizal dengan mata berkaca-kaca.
Rizal tertegun sejenak lalu mengerjap, setetes cairan tiba-tiba jatuh di sudut matanya. "Apa tidak ada sedikit pun sisa rasa itu untukku?"
Alana tidak menyahut, dia hanya menggeleng sebagai jawaban.
Rizal mengerling memutar pandangan ke arah lain, air matanya kian mengucur deras tanpa bisa dia tahan. Ini benar-benar menyakitkan baginya, tapi dia juga tidak mungkin memaksa Alana.
Tanpa mengatakan apa-apa, Rizal pun memilih menjauh dari Alana, dia meninggalkan kamar itu dengan hati lara.
__ADS_1
Untuk apa semua ini? Apa gunanya pontang-panting meraih kesuksesan jika akhirnya Alana harus pergi dari hidupnya?
Rizal sangat terluka, tapi dia juga tidak mungkin memaksa Alana. Gadis itu mencintai Azzam, apa lagi yang tersisa untuknya?