Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 57.


__ADS_3

Dengan perasaan gundah gulana Azzam masih berusaha sabar menghadapi sikap keras kepala Alana, dia bahkan tidak membiarkan Alana makan sendirian. Dia menyuapi sang istri hingga makanan yang dia bawa habis, setelah itu barulah dia mengisi perut, dia juga tidak lupa memberikan obat yang harus diminum oleh sang istri.


Setelah tugasnya selesai, Azzam meninggalkan kamar dan memilih duduk di beranda depan. Dinginnya suasana malam terasa begitu menusuk tulang seiring desiran angin yang datang menerpa tubuhnya.


Entahlah, Azzam benar-benar lelah. Ingin rasanya dia pergi namun tidak tega meninggalkan Alana sendirian. Apa yang harus dia lakukan?


Dalam lamunannya, Azzam tersentak kala ponsel yang dia letakkan di atas meja berdering. Azzam mengerjap dan menghela nafas panjang kemudian meraih benda pipih tersebut dan menaruhnya di sisi telinga.


"Ya, Bu." jawab Azzam setelah memastikan bahwa panggilan tersebut berasal dari Erni.


Tidak banyak yang mereka bicarakan. Erni hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan putra dan menantunya. Dia sedikit gelisah menunggu kabar yang tidak kunjung dia terima.


Setelah Azzam menjelaskan bahwa mereka sudah tiba dan baik-baik saja, barulah Erni bisa bernafas dengan lega, hanya kabar itulah yang ingin dia dengar dari mulut sang putra.


Usai mengakhiri panggilan tersebut, Azzam memilih masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu lalu berjalan menuju kamar yang ditempati Alana.


Awalnya Azzam ragu memasuki kamar tersebut, tapi kemana lagi dia harus pergi? Hanya kamar itulah yang saat ini masih layak untuk ditempati.


Pelan-pelan Azzam menekuk kakinya di sisi ranjang dan mulai berbaring dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin membangunkan Alana yang saat ini tengah tertidur pulas.


Hati Azzam terenyuh kala mematut wajah istrinya yang begitu menyedihkan. Sedikit pucat dan sembab sebab menangis sepanjang waktu.

__ADS_1


Perlahan Azzam sedikit beringsut hingga mengikis jarak diantara mereka, tangannya bergerak merapikan rambut Alana yang berantakan menutup sebagian wajah.


Entahlah, Azzam tidak tau harus berkata apa. Meski kecewa tapi dia tidak mampu membohongi perasaannya, dia sangat mencintai Alana dan takut kehilangan istrinya itu.


"Maafkan aku, Alana. Meski aku bisa, aku tidak akan pernah meninggalkanmu sendirian. Kamu istriku, bagaimanapun keadaannya kamu akan tetap menjadi istriku."


Azzam tiba-tiba teringat kala pertama kali mereka bertemu. Dari sekian banyaknya orang, hanya Alana yang mau membantu dirinya saat mengalami kecelakaan waktu itu, karena itu pula mereka berdua akhirnya menikah meski dalam keadaan terpaksa.


Namun Azzam tidak pernah menyesali pertemuan tersebut, dia yakin Tuhan telah mengatur jalan ini untuknya. Baginya hanya Alana lah yang pantas bersanding dengan dirinya, Alana begitu istimewa meskipun sangat sulit menaklukkan hatinya yang keras layaknya batu.


Dalam pemikirannya, Azzam pun tiba-tiba terlelap di samping Alana dengan sebelah tangan memeluk pinggang sang istri. Dia benar-benar lelah sehingga tidak butuh waktu lama baginya untuk tertidur.


Seketika bening kaca di sudut mata Alana menetes, hatinya mencelos menyaksikan wajah Azzam yang tidur sangat lelap, bahkan deru nafasnya jelas sekali menunjukkan bahwa Azzam benar-benar lelah.


Alana menggerakkan sebelah tangannya kemudian menyentuh pipi Azzam dan mengelusnya lembut. Alana tau Azzam begitu sangat menyayangi dirinya, Alana takut tidak bisa berjalan seperti semula dan hanya akan menjadi beban buat Azzam.


"Jangan lagi menganggapku sebagai orang asing! Aku suamimu, aku mencintaimu dan menerima bagaimanapun keadaanmu. Aku lebih baik mati daripada harus kehilangan dirimu."


Deg...


Alana terperanjat kaget. Saat dia hendak menarik tangannya dari pipi Azzam, Azzam membuka mata dan menangkap tangan Alana.

__ADS_1


"Biarkan saja seperti ini!" imbuh Azzam dengan suara serak kemudian memicingkan matanya kembali.


"Tapi, Azzam..."


"Sssttt..." kembali Azzam membuka mata dan mengulas senyum simpul.


Azzam semakin mengikis jarak hingga wajah keduanya nyaris bersatu. "Aku mencintaimu Alana, aku sangat mencintaimu. Jika rasa ini tidak mungkin mendapatkan balasan, maka biarkan saja perasaan ini hilang dengan sendirinya! Saat hari itu tiba, aku janji akan melepasmu dan pergi dari hidupmu. Aku tidak akan..."


Mendadak suara Azzam hilang saat Alana tiba-tiba menempelkan bibirnya di bibir Azzam. Pria itu memelototi Alana, tidak percaya dengan apa yang Alana lakukan saat ini.


"Aku juga mencintaimu, Azzam. Aku tidak bermaksud..."


Kini giliran Alana yang terdiam saat Azzam melu*mat bibirnya sembari mencengkram sisi telinga Alana dengan lembut. Darah Azzam rasanya memanas dan naik hingga ubun-ubun mendengar ucapan Alana yang sudah sejak lama dia tunggu-tunggu.


"Katakan sekali lagi!" pinta Azzam usai melepaskan tautan bibir mereka. Rasanya belum cukup mendengar ucapan itu sekali saja.


"Aku mencintaimu, aku juga sangat mencintaimu, aku takut..."


"Tidak ada yang perlu kamu takutkan. Lihat aku, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, aku tidak peduli dengan kakimu, aku hanya ingin bersamamu, itu sudah lebih dari cukup."


Karena tak kuasa menahan rasa yang mengharu biru di hatinya, Azzam menitikkan air mata kemudian menarik Alana ke dalam dekapannya. Hanya ini yang ingin dia dengar. Alana pun ikut menangis tersedu-sedu di dada sang suami sembari memeluknya.

__ADS_1


__ADS_2