Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 49.


__ADS_3

"Azzam..."


Suara Erni tiba-tiba membuyarkan lamunan Azzam. Dia memutar leher ke arah sumber suara, tatapannya menggelap kala melihat penampakan sang ibu.


Erni mengayunkan langkah besar mendekati sang putra, Azzam pun berhamburan ke pelukan Erni. Dia sontak menangis di dalam pelukan sang ibu.


"Maafkan Azzam, Bu. Apa ini merupakan hukuman buat Azzam? Sekarang Azzam kena karma karena sudah terlalu sering menyakiti hati Ibu." lirih Azzam berderai air mata, dia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang sudah terjadi.


"Sssttt... Jangan bicara seperti itu! Ibu sudah memaafkan kamu, ini bukan karma tapi ujian. Mungkin Tuhan ingin melihat seberapa besar cinta kamu terhadap Alana." ujar Erni seraya mengusap punggung Azzam, hatinya mencelos.


Setelah Azzam cukup tenang, dia mengurai pelukan dan menyuruh Erni masuk untuk melihat keadaan istrinya. Erni mengangguk lemah dan meninggalkan Azzam di luar sana.


Sesampainya di dalam, Erni duduk di kursi samping nakas, matanya berkaca-kaca melihat kondisi menantunya yang lemah tak berdaya.


Erni meraih tangan Alana dan menciumnya dengan sayang, baginya gadis itu sudah seperti anaknya sendiri.


Alana terbangun saat merasakan sentuhan tangan Erni, dia seakan mendapatkan sentuhan dari seorang ibu yang sudah sejak lama dia rindukan.


Gadis itu membuka mata perlahan, dia terkesiap melihat wajah Erni yang sangat dekat dengan dirinya.


Erni mengulas senyum dan mengusap pucuk kepala Alana dengan sayang, lalu mengelus pipi menantunya itu dengan lembut. "Ada yang sakit?"


Alana menggeleng lemah dengan pandangan berkabut, dia bisa melihat ketulusan dari tatapan mata Erni. "Tidak, kenapa Ibu bisa ada di sini?"


Erni menarik kursi dan kembali menggenggam tangan Alana. "Azzam yang memberitahu Ibu."

__ADS_1


Alana menautkan kedua alis. "Azzam? Bukankah kalian-"


"Semua telah berakhir, Azzam sudah kembali pada Ibu. Sekarang giliran kamu, jangan menyerah dengan keadaan! Azzam sangat mencintaimu, kamu tidak tau betapa hancurnya dia saat kamu pergi. Hidupnya berantakan, dia bahkan ingin pergi jauh demi melihatmu bahagia bersama pria itu." lirih Erni seraya mengusap punggung tangan Alana.


"Tapi aku cacat, Bu. Aku tidak pantas untuk Azzam." Alana menitikkan air mata dengan bibir mengerucut.


"Tidak ada yang tidak pantas, cinta tidak memandang fisik maupun materi. Tidak ada yang tau kemana hati kita akan berlabuh. Oleh sebab itu, yakinlah pada Azzam!" bujuk Erni.


"Tapi, Bu-"


"Pikirkan sekali lagi! Apa kamu yakin bisa hidup tanpa Azzam? Ibu sudah merasakannya, Ibu pernah berada di posisimu, pada akhirnya cinta mampu mengalahkan semuanya." tegas Erni.


Alana terdiam mendengar kata-kata mertuanya itu. Benar, dia tidak bisa jauh-jauh dari Azzam, dia sudah terlanjur mencintai suaminya.


Sedang termangu dalam pemikirannya, pintu tiba-tiba berderit, Azzam masuk dan berjalan menghampiri keduanya.


"Bu, Alana ingin dirawat di rumah. Azzam sudah bicara dengan dokter, beliau mengizinkannya. Azzam juga sudah membuat jadwal terapi untuk satu bulan ke depan, kami akan pulang ke apartemen." ucap Azzam yang kini tengah berdiri di ujung ranjang.


Erni mengernyit membentuk garis-garis halus di keningnya. "Kenapa ke apartemen? Lebih baik pulang ke rumah, ada Ibu yang bisa membantumu menjaga Alana."


Azzam diam sejenak seraya mematut Erni dan Alana bergantian. "Hmm... Baiklah." angguk Azzam setuju.


Mendengar itu, Erni sontak tersenyum dan meraih tangan putranya itu. Tidak terbilang betapa bahagianya dia mendengar jawaban Azzam.


Lalu Erni bangkit dari duduknya dan mengusap pucuk kepala Alana, dia pun menciumnya dengan penuh kasih sayang. "Jangan berpikir aneh-aneh lagi, sekarang sudah ada Ibu dan Azzam yang akan menjagamu."

__ADS_1


Melihat Erni seperti itu, hati Azzam terenyuh. Alangkah bodohnya dia yang selama ini tidak bisa melihat ketulusan di hati sang ibu, hati Erni benar-benar lembut, dia bahkan tidak menolak menantu cacat seperti Alana.


Ah, Azzam rasanya ingin berteriak meminta pengampunan. Mata hatinya benar-benar dibutakan oleh kemarahan dan rasa dendam yang tidak beralasan. Kini dia sungguh menyesal, kenapa tidak dari dulu dia mencoba memahami keadaan?


Azzam pun menghampiri Erni dan memeluknya. "Terima kasih karena Ibu sudah mau menerima keadaan istri Azzam." lirihnya dengan mata memerah menahan tangis.


Erni hanya tersenyum dan mengacak rambut sang putra. Apalagi yang lebih membahagiakan dari ini? Dia hanya ingin melihat Azzam bahagia bersama wanita yang dicintainya.


Sejenak suasana di ruangan menjadi hening, mereka bertiga larut dalam penyesalan di hati masing-masing.


Tok Tok Tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Ketiganya menoleh ke arah sumber suara dan muncul lah Rudi bersama seorang perawat yang akan mencabut infus Alana.


Azzam menjauhi brankar dan berjalan menghampiri Rudi, sedangkan perawat yang datang bersama pria itu langsung melangkah menghampiri Alana dan segera mencabut jarum infus di tangan gadis itu.


Setelah perawat itu meninggalkan mereka semua, Azzam mengambil obat yang dibawa Rudi lalu memintanya menyiapkan mobil.


Rudi lekas mengangguk dan bergegas meninggalkan ruangan. Azzam pun kembali berjalan menghampiri brankar.


"Mau pulang sekarang?" tanya Azzam seraya mengulas senyum ke arah Alana.


Gadis itu tidak menjawab, dia masih ragu dan takut pulang ke rumah Azzam. Apa dia tidak akan membebani keluarga itu nantinya?


"Iya, pulang sekarang saja." sela Erni.

__ADS_1


__ADS_2