Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 59.


__ADS_3

Usai sarapan, Azzam keluar dari rumah dan menurunkan kursi roda dari mobil. Pagi ini dia ingin menikmati keindahan alam di kampung itu sekaligus mengajak Alana jalan-jalan. Azzam pikir Alana butuh waktu untuk menstabilkan pikiran.


Ya, setelah mendudukkan Alana di kursi roda, Azzam mendorongnya menjelajahi desa. Kebetulan cuaca pagi ini cukup sejuk dengan pemandangan yang sangat indah dipandang mata.


"Hai, Azzam..." sorak seorang wanita yang tengah asik bermain voli di sebuah lapangan. Wanita itu melambaikan tangan ke arah Azzam, Azzam pun menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara.


"Mau kemana, Azzam?" imbuh wanita itu seraya berjalan keluar dari lapangan.


Azzam nampak kebingungan sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. Dia ingat betul bahwa wanita itu merupakan salah satu emak-emak yang tadi bergurau dengannya saat membeli sayur.


"Pagi, Bu." sahut Azzam sembari menaruh tangannya di pundak Alana.


"Alana... Kamu Alana, kan?" tambah ibu tersebut sembari mematut Alana dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"I-iya, Bu." jawab Alana tergagap, dia merasa canggung dengan keadaannya sekarang.


"Kamu kenapa? Kok..."


"Tidak apa-apa, Bu. Alana baik-baik saja." potong Azzam seraya mencengkram pelan bahu Alana.


"Tapi, kenapa..."


"Alana hanya butuh waktu untuk istirahat, makanya untuk sementara belum diizinkan terlalu lelah. Iya kan, sayang." jelas Azzam.


"Oh, Ibu pikir..."


"Kalau begitu kami permisi dulu ya, Bu. Matahari semakin terik, kasihan Alana kepanasan."


Kembali Azzam menaruh tangannya di gagang kursi roda kemudian mendorongnya menuju arah pulang. Azzam mengerti dan tau bagaimana perasaan Alana saat ini, lebih baik dia menjauh dari orang-orang agar tidak melukai hati sang istri.


Sesampainya di rumah, seperti biasa Azzam kembali menggendong Alana dari kursi roda kemudian membawanya ke kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur.


Alana yang tadinya hanya diam, seketika meraih pergelangan tangan Azzam dan mematutnya dengan mata berbinar. "Kenapa tidak kamu katakan saja bahwa aku..."


"Sssttt... Tolong jangan dilanjutkan!" potong Azzam seraya duduk di sisi ranjang.


"Tapi kenyataannya aku ini lumpuh, Azzam. Untuk apa menyembunyikannya dari semua orang?" sergah Alana.

__ADS_1


Azzam memelototi Alana kala mendengar pengakuan tersebut, ingin sekali dia marah tapi tidak berani mengingat kondisi Alana yang tidak memungkinkan.


"Sudahlah, lebih baik istirahat saja!" ucap Azzam menurunkan ego di hatinya. Entahlah, Azzam rasanya tidak tau harus bagaimana menghadapi sikap keras kepala Alana.


"Cepat atau lambat semua orang pasti akan tau, jadi..."


"Cukup Alana, tolong!" berang Azzam meninggikan nada bicara. Alana yang mendengar itu seketika terkesiap dengan pandangan berkabut.


"Al... Maafkan aku, aku tidak bermaksud..." Azzam sontak tersadar kemudian meraih tangan Alana dan menggenggamnya dengan erat.


"Kamu tidak lumpuh, kamu masih bisa berjalan seperti semula. Tolong yakinkan dirimu, jangan berpikir seperti ini terus! Aku akan melakukan apapun agar kamu bisa berjalan kembali, tolong percayalah!" lirih Azzam sembari memandangi wajah Alana dengan sendu kemudian mengelus pipinya dengan lembut.


"Tapi, bagaimana jika aku..."


"Aku tidak peduli. Mau kamu lumpuh kek, buta, tuli, bisu, aku tidak keberatan. Intinya kamu harus semangat, jangan menyerah sampai di sini!" bujuk Azzam.


"Apa kamu tidak malu?" tanya Alana menitikkan air mata.


"Jika aku yang berada di posisi ini, apa kamu malu?" Azzam malah balik bertanya, sedangkan Alana nampak menggeleng-gelengkan kepala sembari mencebik bibir.


"Kenapa tidak malu?" tanya Azzam lagi seraya mengulum senyum.


"Karena apa?" timpal Azzam.


"Karena kamu suamiku." sambung Alana ketus.


"Lalu apa lagi?" goda Azzam mencubit pipi Alana gemas.


"Tidak ada," geleng Alana tersipu malu.


"Yakin?" goda Azzam mengukir senyum simpul.


"Iya yakin, memangnya apa lagi?" geram Alana menggembungkan pipi.


"Oh, baiklah kalau begitu. Sekarang istirahat saja, aku mau keluar sebentar." Azzam menjauhkan tangannya dari pipi Alana.


Saat ingin berdiri, Alana menahan pergelangan tangan Azzam dan bertanya. "Kamu mau kemana?"

__ADS_1


"Mau gabung sama emak-emak tadi, sepertinya..."


"Ya sudah, pergi saja!" Alana nampak cemberut sembari melepaskan tangan Azzam dan memutar leher ke arah lain. Tentu saja hal itu membuat Azzam terbahak dan kembali duduk di sisi ranjang.


"Ish, sepertinya ada yang cemburu nih." goda Azzam kembali meraih pipi Alana gemas.


"Jangan kegeeran! Siapa juga yang cemburu?" tampik Alana memasang wajah cuek.


"Benarkah? Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." tantang Azzam.


"Azzam..." pekik Alana kesal kemudian meraih lengan Azzam dan mencubitnya geram.


"Awh... Al, sakit sayang." keluh Azzam meringis kesakitan.


"Ayo, pergilah!" usir Alana memasang mata singa.


"Hehehe... Tidak jadi, aku mau di sini saja sama kamu." Azzam pun menjatuhkan diri di samping Alana dan memeluk istrinya itu dengan erat.


"Ngapain peluk-peluk?" jutek Alana menggembungkan pipi.


Kali ini Azzam tidak menjawab dan malah mempererat pelukannya. "Sudah, jangan marah lagi! Aku tidak akan kemana-mana."


"Bohong." tuding Alana memasang wajah datar.


"Tidak sayang, aku tidak bohong. Kamu saja yang tidak tau betapa rindunya aku pada saat-saat seperti ini. Rasanya seperti mimpi, aku pikir kita tidak akan pernah..."


Azzam lantas terdiam menahan air mata yang terasa penuh di tenggorokan, cairan bening itu sontak mengalir tanpa dia sadari. "Maafkan aku, aku tau ini semua salahku. Jika waktu bisa diulang, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari apartemen. Biarkan aku menjagamu, beri kesempatan agar aku bisa membayar semua dosaku padamu! Aku tau kehadiranku membuat hidupmu..."


"Tidak, Azzam. Cukup!" Alana ikut menangis dan memeluk Azzam tanpa ragu. "Kamu tidak salah, akulah yang..."


"Sssttt... Tidak usah menyalahkan diri sendiri! Sekarang ada aku, aku suamimu, kamu tidak sendirian. Kita akan melewati ujian ini bersama-sama, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Tolong jangan bicara aneh-aneh lagi, aku tidak akan sanggup berpisah lagi darimu." sela Azzam seraya merapikan rambut Alana yang berantakan kemudian mengecup pipi sang istri dengan sayang. "Aku mencintaimu, Alana. Aku sangat mencintaimu." imbuh Azzam dengan lirih.


"Azzam..." Alana tersedu-sedu dan menenggelamkan wajahnya di dada Azzam. "Maafkan aku, aku juga sangat mencintaimu. Aku takut..."


"Tidak ada yang perlu ditakutkan! Aku di sini, kita akan berbagi rasa sakit ini bersama-sama." potong Azzam menahan rasa sesak yang kian menusuk hingga ulu hati. Tidak pernah terbersit di pikirannya akan mendengar ucapan itu dari mulut Alana. Dia tidak tau entah harus bahagia atau sedih mendapat jawaban seperti ini.


Lalu Azzam mengangkat dagu Alana dan mengecup bibir mungil istrinya itu dengan lembut. "Terima kasih, aku janji akan mengganti rasa sakit yang aku ciptakan dengan kebahagiaan. Percayalah bahwa hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hati ini. Demi aku, kamu harus sembuh agar kita bisa kembali seperti dulu. Aku merindukan sekretarisku yang cantik dan periang."

__ADS_1


"Hehehe, apa aku masih bisa?" tanya Alana tersenyum simpul.


"Tentu saja," angguk Azzam sambil mencubit hidung Alana gemas.


__ADS_2