Menikah Karena Fitnah

Menikah Karena Fitnah
Bab 53.


__ADS_3

Pagi hari Alana bangun lebih dulu saat sinar matahari pagi mengganggu tidur lelapnya. Dengan mata yang masih sipit dan terlihat sembab, dia terperanjat kala mematut wajah Azzam yang sangat dekat dengan dirinya.


Ya, Azzam ternyata benar-benar tidak meninggalkan dirinya semalaman. Pria itu telah menepati janji dan masih saja memeluk Alana seperti tadi malam.


Tanpa disadari, mata Alana mendadak berkaca-kaca setelah cukup lama memandangi wajah suaminya itu. Dia merasa telah terjebak dalam situasi yang cukup sulit.


Andai saja kecelakaan itu tidak pernah terjadi pada dirinya, dia akan sangat senang mengatakan bahwa dia mencintai Azzam, dia tidak ingin kehilangan pria itu untuk kedua kalinya.


Akan tetapi semua asa yang ada di hatinya terpaksa dia pendam seorang diri. Azzam tidak boleh tau apa yang dia rasakan saat ini.


Dalam hati, Alana menjerit tanpa diketahui oleh siapapun. Ingin sekali dia berteriak tapi tak berdaya mengeluarkan suaranya, Alana merasa dadanya kian sesak sehingga dia pun memilih memalingkan wajah ke arah lain.


Perlahan air mata gadis itu tiba-tiba jatuh berderai, cepat-cepat dia meraih bantal dan menggigitnya agar Azzam tidak mendengar rintihannya.


Dalam heningnya suasana kamar, Azzam pun tersentak dari tidurnya. Matanya langsung tertuju pada Alana yang saat ini masih saja menangis dalam ketidakberdayaan.


Azzam langsung tersadar kala menyadari ada yang tidak beres dengan Alana. Dia memilih duduk dan mengambil bantal yang menutupi muka sang istri.


"Al, kamu kenapa?" tanya Azzam mendapati pipi istrinya yang sudah basah.

__ADS_1


"Ti-tidak, aku tidak apa-apa." sahut Alana sesenggukan, cepat-cepat dia menyeka pipinya untuk menghilangkan jejak.


Azzam yang mendengar jawaban Alana lantas tersenyum simpul dan mengusap pucuk kepala sang istri dengan sayang. "Yakin tidak apa-apa?" tanya Azzam memastikan.


"I-iya, aku yakin." angguk Alana cepat.


"Hmm... Baiklah kalau begitu." sahut Azzam lalu memilih turun dari tempat tidur.


"Mau kemana?" sorak Alana yang membuat langkah Azzam terhenti. Azzam pun kembali tersenyum dan berjalan mengitari ranjang lalu duduk di sisi Alana.


"Kenapa? Takut aku tinggalkan?" goda Azzam mengulum senyum.


"Oh, begitu ya, baiklah." Azzam sengaja berlagak sok cuek lalu bangkit dari duduknya.


"Ya sudah, pergi saja. Bila perlu..."


Seketika ucapan Alana terhenti saat Azzam berbalik dan kembali menghampirinya. Pria itu terkekeh dan menekuk kakinya di lantai kemudian mencubit hidung Alana gemas.


"Cukup, ini masih pagi, tidak baik marah-marah begitu!" gumam Azzam seraya mengelus pipi Alana lembut.

__ADS_1


Mendapati sikap Azzam yang begitu, hati Alana sontak terenyuh dengan mata berkaca-kaca. Entahlah, dia sendiri tidak tau apakah harus sedih atau senang menerima perlakuan sang suami yang sama sekali tidak berubah meski keadaan sudah berbeda.


Alana kemudian meraih tangan Azzam lalu menggenggamnya dengan erat. "Maafkan aku, Azzam. Tidak seharusnya kamu membawaku pulang ke rumah ini, aku hanya beban yang akan menyusahkan hidupmu. Sekarang situasinya sudah berbeda, aku tidak pantas lagi menjadi istrimu. Kenapa tidak kamu ceraikan saja aku?" isak Alana.


Mendengar itu, Azzam lantas mengukir senyum tanpa beban. "Apa kamu yakin ingin bercerai denganku?"


Deg...


Alana terkesiap mendengar pertanyaan Azzam yang seolah-olah mengiyakan, dia pun melepaskan tangan Azzam dan memutar leher ke arah lain. "Mungkin ini yang terbaik." gumamnya dengan suara tercekat di tenggorokan. Berat memang, tapi apa yang bisa dia katakan. Azzam sepertinya tidak keberatan menceraikan dirinya.


"Tolong antarkan aku ke desa! Aku akan tinggal di sana sampai kakiku sembuh." pinta Alana sembari menoleh ke arah Azzam.


"Kenapa harus ke desa? Di sini kan..."


"Di sana lebih nyaman, ada rumah nenek yang bisa aku tempati. Aku tidak punya siapa-siapa lagi di sini, biarkan aku melanjutkan hidup tanpa bergantung pada orang lain!" selang Alana.


"Baiklah jika itu yang kamu inginkan, aku akan mengantarmu ke sana." jawab Azzam seraya menganggukkan kepala.


"Terima kasih." balas Alana memaksakan diri untuk tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2