
Untuk pertama kali, Azzam meminta Erni menyuapinya makan. Dia ingin mencicipi langsung bagaimana rasa makanan dari tangan sang ibu.
Erni tidak menolak, dia mengikuti kemauan Azzam dan menyuapinya dengan tangan yang sudah lama tidak menyentuh putranya itu.
Azzam mengangakan mulut, dia mengunyah makanan itu dengan air mata berlinangan di pipi. Sesekali Erni menyeka wajah Azzam agar putranya tidak menangis lagi, Erni tidak ingin melihat sang putra bersedih.
Usai makan, Azzam lagi-lagi tidak ingin berjauhan dari Erni. Dia ingin tidur di kamar sang ibu dan memeluknya. Erni pun mewujudkan keinginan putranya, keduanya memasuki kamar setelah meminta izin pada Kurniawan. Pria paruh baya itu tidak keberatan sama sekali.
Sesampainya di kamar, Azzam langsung naik ke kasur. Sesuai keinginannya, dia pun memeluk Erni seperti anak kecil yang sudah lama tidak bertemu ibunya.
Erni mengulas senyum seraya mendekap Azzam dan mengusap pucuk kepalanya, sesekali Erni menciumnya dengan sayang.
"Alana mana, Nak? Kenapa tidak dibawa pulang?" tanya Erni yang tidak tau menahu tentang masalah yang terjadi diantara putra dan menantunya.
Azzam menghirup udara sebanyak-banyaknya, air matanya kembali menetes mendengar pertanyaan sang ibu. "Alana pergi, Bu. Alana meninggalkan Azzam."
Dada Azzam semakin ngilu saat mengenang hubungannya dengan Alana, semua hancur karena trauma yang dia hadapi.
Karena rasa takut kehilangan, Azzam tidak bisa berpikir jernih. Dia mencurigai istrinya memiliki hubungan dengan mantan kekasihnya.
Azzam sendiri tidak bermaksud demikian, tapi pengalaman mengajarkannya menjadi laki-laki posesif. Dia takut Alana mengkhianati dirinya seperti yang dilakukan Kurniawan pada Wina, wanita yang sempat dia pikir sebagai ibu kandungnya.
Azzam terisak, dia memeluk Erni dengan erat. "Azzam mencintai Alana, Bu. Azzam kesepian tanpa dia, Azzam sudah melakukan kesalahan terbesar dalam hidup. Tidak seharusnya Azzam meragukan istri Azzam sendiri."
Erni membulatkan mata dengan sempurna, dia benar-benar terkejut mendengar pengakuan Azzam. Dia tidak pernah menyangka ketakutan putranya sampai sebesar itu, gara-gara kesalahpahaman diantara mereka, Azzam harus membayar lunas semuanya.
Kembali Erni mendekap Azzam dan mengusap punggungnya. "Kalau kamu benar-benar mencintai Alana, maka berjuanglah! Kamu tidak boleh menyerah, buktikan bahwa kamu bersungguh-sungguh, Ibu yakin Alana akan menerimamu kembali, dia gadis yang baik."
Azzam membenamkan kepalanya di dada Erni. Ucapan sang ibu barusan membuat hatinya sedikit tenang.
__ADS_1
Ya, benar kata Erni. Azzam harus berjuang, dia tidak boleh menyerah. Dia harus bisa menemukan Alana dan membawanya pulang ke rumah itu.
Tidak berselang lama, Azzam pun tertidur dalam posisi memeluk Erni. Kurniawan tiba-tiba datang dan tersenyum melihat pemandangan mengharukan itu. Hatinya mencelos melihat raut kebahagiaan di wajah istrinya, sudah lama dia tidak melihat Erni sebahagia ini.
"Sudah tidur?" tanya Kurniawan, dia pun menghampiri ranjang dan berbaring di samping sang putra.
"Hmm... Kasihan sekali Azzam."
Erni menceritakan semua yang dikatakan Azzam tadi kepada Kurniawan, dia berbicara dengan nada pelan karena takut membangunkan putranya yang baru saja terlelap.
Kurniawan manggut-manggut, dia mengerti maksud ucapan istrinya. Mungkin Azzam memang trauma mengingat kejadian di masa lalu.
"Cari Alana, Mas. Jangan biarkan mereka berpisah seperti kita dulu! Aku tau pasti bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi, ini tidak mudah bagi Azzam." pinta Erni dengan wajah memelas.
Kurniawan menatapnya dengan sendu lalu mengangguk lemah. "Iya, aku akan mencarinya. Sekarang tidurlah, istirahat yang cukup!"
...****************...
"Azzam..."
Alana berteriak kencang dan langsung terduduk di atas tempat tidur. Semua bagian wajahnya mengeluarkan keringat hingga mengalir ke leher. Tatapan matanya nampak kosong, dia terlihat seperti orang linglung dengan bola mata menggelinding ke kiri dan ke kanan.
Alana cepat-cepat mengusap wajahnya, dia benar-benar syok setelah memimpikan Azzam dalam tidurnya.
Ya, mungkin saking rindunya pada sang suami, Alana sampai terbawa mimpi. Satu minggu tidak bertemu membuat Alana benar-benar merasa kehilangan.
Kini dia sadar bahwa Azzam sangat berarti dalam hidupnya, perasaan itu muncul setelah keduanya tak lagi bersama.
Alana ingin pulang menemui Azzam, tapi keadaan memaksanya untuk tidak melakukan itu. Dia tidak memiliki muka lagi menatap mata Azzam, dia sadar wanita cacat sepertinya sudah kehilangan harapan.
__ADS_1
Alana mencoba turun dari tempat tidur. Saat berusaha meraih kursi roda, dia tiba-tiba kehilangan keseimbangan, tubuhnya berguling di lantai. Alana menjerit saat kepalanya membentur sudut nakas.
"Dasar tidak berguna, bahkan untuk berdiri saja kau tidak bisa." Alana meraung merutuki ketidakberdayaannya. Harapan itu sudah tidak ada, lalu untuk apa dia bertahan dalam kondisi seperti ini?
Alana rasanya ingin mati saja, dia tidak sanggup menanggung beban ini seorang diri.
Pelayan yang ditugaskan menjaga Alana tersentak dari tidurnya, dia terkejut mendengar suara benturan keras tadi.
"Nona..."
Pelayan yang diketahui bernama Tati itu sontak berhamburan menghampiri Alana dan membantunya duduk di kursi roda. Alana hanya diam menangisi keadaannya. Sampai kapan dia harus bergantung pada orang lain? Mengurus dirinya sendiri saja dia tidak mampu.
Alana meminta bantuan Tati untuk membawanya ke kamar mandi. Dia ingin pipis dan mencuci muka.
Tati mengangguk lemah dan mendorong kursi roda Alana memasuki kamar mandi. Dia membantu Alana duduk di closet dan menunggunya di luar bilik.
Setelah Alana membuang apa yang seharusnya dia buang, dia pun memanggil Tati membantunya pindah ke kursi roda lalu mencuci muka untuk menghilangkan keringat yang masih menggenang di wajahnya.
Setelah merasa cukup nyaman, Tati kembali membawa Alana ke kamar dan memindahkannya ke kasur. Alana mengucapkan terima kasih dengan suara lirih.
Setelah Tati kembali ke sofa, Alana meraih guling dan memeluknya dengan erat. Anggap saja itu adalah Azzam, setidaknya dia bisa melupakan kegundahan di hatinya.
"Aku rindu kamu, Azzam. Kenapa kamu tidak mencari ku? Apa aku sudah tidak berarti lagi dalam hidupmu? Sekecil itukah rasa cintamu padaku?"
Alana berbicara dalam hati. Dadanya berdenyut ngilu menahan rasa rindu yang sudah memuncak. Dia menyesal meninggalkan apartemen waktu itu. Jika saja dia bisa bersabar menghadapi sikap Azzam, mungkin kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Dia tidak akan mengalami kelumpuhan seperti ini.
Akan tetapi, nasi sudah terlanjur jadi bubur, tidak akan mungkin kembali menjadi beras. Sekarang Alana harus mengikhlaskan semuanya, mungkin jodoh mereka sudah berakhir.
Alana meremas guling sembari menahan air mata agar tidak jatuh, percuma menangisi sesuatu yang sudah hilang dari hidupnya. Alana harus melanjutkan hidup meski tanpa Azzam di sampingnya, jalan mereka sudah berbeda.
__ADS_1