
Alana menarik selimut dan menutup wajahnya tanpa sisa, air matanya terus saja mengalir tanpa bisa dia tahan. Suara isakan yang keluar dari mulutnya sampai terdengar ke telinga Azzam yang baru saja memejamkan mata.
Azzam sontak terkejut dan terduduk lalu turun dari sofa, dia mendekati Alana dan duduk di sisi ranjang. Pelan-pelan dia menarik selimut dan mendapati muka sang istri yang sudah basah berlinangan air mata.
"Al, kenapa menangis?" tanya Azzam seraya mengusap pucuk kepala Alana, lalu menyeka pipi sang istri dengan jemarinya.
"A-azzam, a-aku..."
"Sudah, jangan menangis lagi! Aku tidak apa-apa, aku tidak marah." jelas Azzam, kemudian mencium kening istrinya itu.
"A-aku ingin pergi saja, aku tidak bisa tinggal di sini." isak Alana sesenggukan, air matanya terus menetes tanpa henti.
Azzam menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar, dia menatap Alana dengan sendu. "Apa kamu yakin?"
Alana membuang muka dan menggigit ujung-ujung jarinya, dia tidak sanggup menatap mata Azzam yang menyayat hati.
"Kalau itu yang kamu inginkan, apa lagi yang bisa aku katakan? Aku tidak akan memaksamu untuk tetap bersamaku. Tapi sebelumnya, kamu harus sembuh terlebih dahulu. Kamu boleh pergi setelah itu."
Azzam memalingkan muka dan membungkuk sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Entahlah, dia tidak tau harus berkata apa lagi kepada Alana.
Segala cara sudah dia coba untuk meyakinkan bahwa dia menerima Alana dalam keadaan apapun, tapi tetap saja Alana tidak percaya padanya. Azzam sudah lelah berjuang sendirian, jika perpisahan adalah solusi terbaik, dia bisa apa.
"Tidurlah, tidak usah berpikir aneh-aneh lagi. Aku menghormati apapun keputusanmu."
__ADS_1
Azzam hendak berdiri tapi Alana dengan cepat menggenggam pergelangan tangannya. "Ja-jangan pergi, jangan tinggalkan aku!" pinta Alana memohon dengan tatapan tak biasa.
Azzam memutar leher ke arah Alana, kedua alisnya saling bertautan.
"Ti-tidurlah di sini, aku ingin memelukmu." isak Alana dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Azzam menyipitkan mata, bingung melihat sikap sang istri yang sulit dimengerti. Mau tidak mau, dia pun terpaksa mengitari ranjang dan naik ke kasur.
Setelah membaringkan diri, Azzam memiringkan tubuhnya dan mematut Alana dengan intim. "Sekarang tidurlah, aku tidak akan ke mana-mana."
Alana mengerucutkan bibir dan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Azzam, dia meraih tangan Alana dan menggenggamnya erat.
"Tidak usah bergerak!" Azzam mengikis jarak dan merentangkan sebelah tangannya lalu membawa Alana ke dalam dekapan dadanya. Azzam mengusap kepala Alana dan mencium keningnya dengan sayang.
"Huuuu..." Alana meremas dada Azzam, tangisannya pecah di dada suaminya itu.
Azzam menghela nafas berat dan membuangnya kasar, dia tau bagaimana perasaan istrinya saat ini. Semakin keras tangisan Alana, semakin hancur pula hati Azzam dibuatnya.
Dia benar-benar merasa bersalah atas apa yang menimpa Alana. Jika saja waktu bisa diulang, dia tidak akan pernah membiarkan Alana pergi dari apartemen.
Sejenak Azzam terdiam, dia penasaran dengan wanita yang pernah menelepon waktu itu. Azzam tidak bisa diam saja, wanita itu harus membayar mahal atas perbuatan jahatnya terhadap Alana.
__ADS_1
Azzam mengusap punggung Alana dan menempelkan bibirnya di kening sang istri. Alana terus saja menangis di dadanya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Nanti kepalanya bisa sakit." desis Azzam dengan jantung bergemuruh kencang, Alana benar-benar membuatnya semakin merasa bersalah.
Mendengar itu, Alana mendongakkan kepala dan mematut manik mata Azzam dengan intens. Matanya nampak merah dan sembab.
Azzam sedikit menunduk menatap Alana, lalu menyeka pipi istrinya itu dengan telapak tangan. "Tidurlah, aku tidak akan melepaskan mu!"
Alana mencebik bibir dan meraih tengkuk Azzam, dia semakin merapat dan mencium bibir suaminya itu. Seketika Azzam terkesiap dengan darah berdesir hebat.
Tidak hanya mencium, Alana bahkan melu*mat bibir sang suami dengan mata terpejam. Sedangkan Azzam hanya diam seperti patung, dia tidak berani membalasnya. Dia takut tidak akan bisa mengendalikan diri, dia tidak ingin menakuti Alana lagi.
Karena tidak ada balasan dari Azzam, Alana menarik diri dan menundukkan kepala. Dia merasa malu telah lancang mencium bibir suaminya. "Maaf," lirihnya dengan suara serak.
"Hmm..." angguk Azzam yang nampak sangat kaku, bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat sulit. Dia harus diam, dengan begitu dia tidak akan terbawa perasaan.
Azzam sadar, setiap kali dia mencoba mengikuti keinginannya, Alana selalu menghindar darinya. Mungkin istrinya itu memang tidak suka dengan caranya yang terlalu terburu-buru.
Akan tetapi, pria mana yang akan sanggup menahan diri terlalu lama saat berada di dekat istrinya. Azzam hanya manusia biasa yang tidak mampu menyembunyikan hasratnya sebagai seorang laki-laki dewasa.
Namun tidak mengapa, dia rela mengorbankan perasaannya demi kenyamanan Alana, untuk saat ini gadis itu hanya membutuhkan tempat untuk berlindung.
Kembali Azzam mendekap Alana dan mencium keningnya, begini saja sudah membuat Azzam sangat bahagia. Setidaknya Alana tidak menghindar lagi darinya.
__ADS_1
Azzam sangat menyayangi istrinya, wanita pertama dan satu satunya yang pernah singgah di hatinya. Azzam juga tidak mengerti kenapa gadis ini terlalu berharga di hidupnya. Disaat semua orang meninggalkan dirinya, hanya Alana yang mampu membuatnya tersenyum.