Menikah Karna Penghianatan

Menikah Karna Penghianatan
Part 18


__ADS_3

" Rey tau mama pasti kesini cuma mau maksa Rey buat kencan buta sama anak teman mama itukan?" tanya Rey dengan sangat kesal.


" Rey, kamu itu sudah 25 tahun sekarang. Mama tau kamu belum mau menikah tapi mama cuma punya anak kamu. Mama sudah tua sekarang, apa kamu mau mama meninggal sebelum kamu menikah?" teriak Dinda memarahi Rey.


" Lebay, lebayy..." jawab Rey.


" Apa kamu bilang?Mama lebay?" teriak Dinda sambil menjewer telinga Rey.


" Ma,, ma,, lepaskan telinga Rey. Sakit!!!" teriak Rey kesakitan.


" Kamu masih mau menolak kemauan mama heh?"


" Tidak tidak ma, lepaskan dulu telingga Rey. Rey akan menuruti kemauan mama, Rey janji." ucap Rey semakin menjerit kesakitan.


" Kamu janji?" ancam Dinda.


" Iya iya, lebih baik sekarang mama pulang ke rumah. Rey masih banyak kerjaan saat ini." ucap Rey lalu mendorong tubuh Dinda agar pergi dari sana sebelum Luna terbangun.


" Kamu janji dulu sama mama. Kamu temui Hana nanti malam jam 7 dan tidak akan membuat masalah lagi seperti sebelum-sebelumnya. Okey??" ucap Dinda sebelum dia pergi dari sana.

__ADS_1


" Iya iya ma, Rey janji." jawab Rey lalu membukakan pintu agar Dinda pergi dari sana secepatnya.


Luna sudah terbangun dari pingsannya dan langsung keluar dari kamar itu untuk mencari keberadaan Rey. Saat Luna membuka pintu kamar, Dinda dan Rey yang berdiri di pintu keluar langsung menoleh ke arahnya dengan sangat terkejut.


" Siapa dia?" tanya Dinda menoleh ke arah Luna dan tidak jadi keluar dari ruangan itu.


" Dia..dia..." ucap Rey terbata-bata.


" Apa yang kalian lakukan di kamar sebelum mama datang kesini?" tanya Dinda penasaran dan menatap Rey sangat tajam.


" Ma, jangan mikir aneh-aneh. Rey tadi cuma nolongin dia karna dia pingsan." jawab Rey.


" Apa yang dikatakannya benar?" tanya Dinda pada Luna.


Dinda mendekat ke arah Luna dan memperhatikan penampilan Luna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Luna yang di perlakukan seperti itu hanya bisa diam dan merasa ketakutan.


" Apa yang kamu lakukan sampai dia menangis seperti ini?" tanya Dinda pada Rey dengan nada bicara yang tinggi.


" Aku tidak melakukan apa-apa ma, jangan menuduh Rey tidak-tidak." balas Rey.

__ADS_1


" Apa kau pacarnya Rey?" tanya Dinda pada Luna dan mengabaikan Rey.


" A..aku.." jawab Luna terbata-bata.


" Dia bukan pacar Rey." potong Rey.


" Mama tidak bicara padamu, kamu lebih baik diam. Mama lagi tanya sama dia. Siapa namamu sayang?" tanya Dinda dengan sangat manis pada Luna.


" Luna tante." jawab Luna.


" Sejak kapan kamu pacaran sama Rey?" tanya Dinda.


" Ma, dia bukan pacarku. Mama jangan bikin malu Rey, lebih baik mama pulang sekarang atau Rey tidak akan menemui Hana nanti malam." ucap Rey mengancam.


" Mama tidak peduli lagi soal Hana. Mulai sekarang mama tidak akan menjodohkanmu dengan Hana. Lebih baik kamu akui saja kalau dia pacarmu. Mama janji tidak akan menjodohkanmu lagi dengan siapapun." ucap Dinda dengan penuh paksaan.


" Ya dia pacar Rey, mama puas!!! Sekarang mama lebih baik pergi dulu dari sini. Mama sangat mengganggu kita." ucap Rey sangat kesal.


" Okey okey mama akan pergi dari sini sekarang."

__ADS_1


" Luna, suruh Rey mengajakmu main ke rumah okey?? Tante akan menunggumu,,," ucap Dinda sebelum ia pergi dari sana.


" I..i..ya tante." balas Luna.


__ADS_2