Menikah Karna Penghianatan

Menikah Karna Penghianatan
Part 19


__ADS_3

Setelah kepergian Dinda, Luna dan Rey menjadi canggung satu sama lain. Rey meninggalkan Luna dan langsung sibuk melihat komputernya. Sedangkan Luna, ia mendekat ke meja Rey dan duduk di depannya.


" Apa kamu tidak mau menjelaskan padaku soal ucapanmu tadi?" tanya Luna.


" Aku mengatakan hal itu karna terpaksa. Kamu lihat sendirikan tadi, mamaku sangat keras kepala." balas Rey.


" Owwww."


" Lalu kau, apa kau tidak mau berterimakasih padaku karna aku sudah menolongmu tadi?" sindir Rey dan melirik ke arah Luna.


" Aku kan tidak minta tolong. Kau yang tiba-tiba menarikku dan membawaku kesini." jawab Luna.


" Hehh nona, kau tadi pingsan dan aku menolongmu." ucap Rey dengan kesal sambil menunjuk wajah Luna dengan bolpoin di tangannya.


" Iya iya,, trimakasih sudah menolongku. Kau puasss....." ucap Luna pada akhirnya.


" Apa yang terjadi denganmu tadi? Kenapa kau menangis sampai seperti itu?" tanya Rey penasaran.


" Siapa yang menangis? Aku tidak menangis, itu cuma kelilipan." jawab Luna berbohong.

__ADS_1


" Ya, kelilipan sampai pingsan. Okey, sangat masuk akal. Kau pikir aku anak kecil yang bisa dibohongi??" kata Rey dengan kesal.


Luna tidak menjawab ucapan Rey lagi karna ia tidak mau menceritakan yang sebenarnya terjadi pada Rey. Luna membuka ponselnya dan melihat sudah banyak panggilan masuk dari Kevin, Alena dan papanya. Ia membuka pesan dari papanya yang sedari tadi mencarinya.


" Aku sepertinya harus pulang sekarang, sekali lagi terimakasih sudah menolongku." ucap Luna terdengar begitu tulus sampai Rey menatapnya tidak percaya.


" Apa perlu aku antar?" tanya Rey sedikit canggung.


" Tidak perlu, aku bisa naik taksi." balas Luna sambil tersenyum manis ke arah Rey.


" Aku akan mengantarmu. Jarak rumahmu dari sini sangat jauh, aku sekalian mau menemui pak Bima." ucap Rey.


" Mau apa kau ketemu papaku?"


" Bukannya semuanya sudah beres kemarin? Apalagi yang perlu di bicarakan?" tanya Luna curiga.


" Banyak, kau juga akan tau sendiri nanti." jawab Rey.


Selama di mobil, Luna dan Rey tidak berbicara sama sekali namun mereka saling mencuri pandang satu sama lain.

__ADS_1


" Ternyata pria ini baik juga orangnya. Aku jadi merasa bersalah. Dari awal, aku yang salah masuk ke kamarnya waktu itu dan membuat kekacauan disana. Tapi, aku malah menyalahkannya dan membencinya." Batin Luna.


" Kau sangat cantik, aku tidak tau sejak kapan aku tertarik padamu. Kau berbeda dari semua wanita yang aku kenal selama ini. Kau sangat gila, tapi hal itu membuatku semakin penasaran padamu." Batin Rey.


Sesampainya di depan restoran, Luna melihat mobil Kevin dan Alena terparkir disana. Ia mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil Rey saat ini. Luna masih belum siap untuk bertemu Kevin dan Alena. Hatinya masih sangat hancur saat ini, ia tidak tau apa yang akan terjadi jika berhadapan lagi dengan mereka apalagi di restorannya sendiri. Ia tidak mau papanya melihatnya menangis dan lemah karna masalah cinta.


" Rey,,," panggil Luna saat Rey sudah melepas sabuk pengamannya.


" Kenapa?" tanya Rey.


" Bolehkah aku tetap berada di dalam mobilmu? Aku tidak ingin turun dari sini sekarang." ucap Luna.


" Kenapa? Bukannya kau ingin pulang tadi? Rumahmu disinikan?" tanya Rey bingung.


" A..aa... Aku.. belum siap untuk bertemu seseorang." jawab Luna terbata-bata.


" Baiklah, ayo kita pergi saja dari sini." ucap Rey lalu memasang sabuk pengamannya kembali.


" Kau tidak jadi bertemu papaku?"

__ADS_1


" Itu gampang, besok juga tidak apa-apa." jawab Rey lalu melajukan mobilnya kembali.


Apa semua ini cuma alasan dia biar bisa mengantarku? Tapi, kenapa dia melakukan ini? Apa dia benar-benar menyukaiku? Batin Luna menebak-nebak.


__ADS_2