Menikah Karna Penghianatan

Menikah Karna Penghianatan
Part 2


__ADS_3

Luna mencoba melarikan diri dari kamar itu tapi Rey langsung menghalanginya. Ia merentangkan ke dua tangannya di depan Luna sehingga Luna tidak bisa melewatinya.


“ Apa yang kau lakukan di kamarku? Siapa kau sebenarnya?” tanya Rey dengan nada baik-baik.


Rey sangat penasaran dengan keberadaan Luna yang tiba-tiba ada di kamarnya. Awalnya ia mengira bahwa Luna adalah gadis yang sengaja di kirim oleh mamanya untuk menggodanya. Namun sikap Luna padanya membuatnya ragu jika ia adalah gadis suruhan mamanya. Luna bahkan takut di sentuh olehnya.


" Jangan berani menyentuhku atau aku akan membunuhmu sekarang juga." teriak Luna ketakutan.


Ia meraih barang di atas meja dan melemparkannya ke arah Rey. Rey dengan sigap melindungi dirinya dengan kedua tangannya. Meskipun benturan tersebut sangat keras, Rey tetap terlihat biasa saja dan tidak merasa sakit sedikit pun.


Hal itu membuat Luna semakin kesal dan kembali melempar barang-barang lain ke arah Rey. Rey dengan cepat menghindari dari barang-barang tersebut sampai ia kelelahan. Ia berusaha mengajak Luna berbicara baik-baik untuk namun Luna tetap tidak percaya padanya.


" Hentikan!!" ucap Rey sambil mengangkat kedua tangannya.


" Ngapain kau ada di sini? Apa yang kau inginkan dariku?” tanya Luna dengan sangat emosi. Wajahnya sudah berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal. Ia sudah menghentikan melempar barang-barang karna sudah tidak ada lagi barang yang tersisa untuk dia jadikan senjata. Hanya tersisa satu vas bunga besar yang kini sudah berada di tangannya untuk senjata terakhirnya.


" Ini kamarku, aku yang seharusnya tanya seperti itu. Ngapain kau ada di sini?" tanya Rey balik.


Luna tetap tidak percaya ucapan Rey barusan. “ Kau pasti sedang menipukukan? Aku tidak percaya padamu. Pergi dari sini sekarang juga!!”


PYARRR


Lemparan vas bunga itu tepat mengenai tubuh Rey yang memang sengaja tidak ia hindari. Melihat hal tersebut, Luna langsung panik dan menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangannya.


Rey memanfaatkan situasi tersebut untuk menangkap Luna dan membekuk tubuhnya.


“ Lepaskan aku.”


" Siapa kau sebenarnya? Apa yang ingin kau lakukan kamarku? Apa kau disuruh seseorang kesini?" tanya Rey.


“ Aku penyewa kamar ini.”


Mendengar hal itu, Rey berusaha untuk mempercayainya. Lagipula, sikap Luna terhadapnya menunjukkan bahwa ia dalam kesalah pahaman saat ini.


" Sepertinya ada kesalah pahaman di antara kita berdua. Aku sudah menyewa kamar ini untuk 5 hari ke depan dan aku sudah berada di kamar ini sejak kemarin. Jika kau tidak percaya, mari kita buktikan dengan menghubungi petugas resepsionis dan menanyakan siapa pemilik kamar ini sebenarnya. Jangan berusaha lagi menyerangku atau aku akan melakukan hal buruk padamu." ucap Rey mengancam.


Rey melepaskan Luna dan langsung menelfon petugas resepsionis.

__ADS_1


Apa aku benar-benar salah masuk kamar? Di mana Aleta saat ini? Kenapa dia tidak muncul dari tadi? Apa yang terjadi sebenarnya? Jelas-jelas sebelum masuk tadi, aku sudah mengecek nomor kamar ini adalah 206. Apa yang harus aku lakukan jika ini benar-benar kamarnya??? Batin Luna khawatir.


📍📍📍


" Hallo. Dengan siapa ini?” tanya petugas resepsionis dadi sebrang telfon.


“ Reynal Wijaya.”


" Mohon maaf sebelumnya, apakah ada yang bisa saya bantu?"


“ Saya ingin mengecek nama yang menempati kamar nomor 206."


" Baik pak, tunggu sebentar."


Rey menatap ke arah Luna yang saat ini wajahnya begitu tegang. Ia sengaja mendekatkan telfon itu ke arah Luna supaya dia bisa ikut mendengarnya.


" Pemilik kamar nomor 206 atas nama Reynal Wijaya usia dua puluh enam tahun."


" Baiklah terimakasih banyak." ucap Rey lalu mengakhiri telfonnya.


Rey tersenyum sinis penuh kemenangan. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Luna dan meraih dagunya agar Luna menatap ke arahnya.


Wajah Luna kini sangat memerah. Ia merasa malu ternyata tuduhannya pada Rey selama ini salah. Ia bahkan menghancurkan semua barang yang ada di kamar Rey menjadi hancur lebur berkeping-keping.


" Lepaskan aku!" ucap Luna dengan nada memohon.


Bukannya melepaskannya, Rey malah semakin menekan pipi Luna hingga ia kesakitan. Rey lalu mencium Luna saat itu juga dan menahan tengkuknya supaya Luna tidak melawannya.


Luna mencoba mendorong Rey dan memukul-mukul tubuhnya agar Rey melepaskannya. " Apa yang kau lakukan? Dasar pria brengsek!" teriak Luna setelah Rey melepaskannya. Ia mengucap bibirnya dengan sangat kasar untuk menghilangkan bekas ciuman Rey.


" Itu balasan karna kau sudah berani masuk ke kamarku dan membuat keributan dikamarku."


Luna langsung mengambil tas dan ponsel miliknya yang ia lempar tadi di atas ranjang lalu pergi dari sana secepatnya. Ia takut Rey benar-benar akan melakukan hal buruk padanya.


“ Manis juga ternyata gadis itu.” Gumam Rey memperhatikan kepergian Luna dari kamarnya.


Di depan kamar, Luna langsung menghubungi Aleta.

__ADS_1


" Hallo Luna, kamu di mana sekarang?" tanya Aleta setelah mengangkat telfon dari Luna.


" Aku sudah masuk di kamar nomor 206 dan ternyata kamar itu bukan milik kita. Dimana kamu sekarang?" teriak Luna penuh emosi.


" Kenapa kau masuk ke kamar nomor 206? Kamar kita nomor 205."


" Kau mengirim pesan padaku 206!! dasar sialan."


“ Tunggu-tunggu aku akan mengeceknya.”


“ Buka pintunya sekarang juga, aku sudah ada di depan.” Teriak Luna lalu mematikan panggilan telfonnya.


Aleta membuka pintu kamarnya yang letaknya tepat di sebelah dengan kamar Rey. Ia ternyata sudah salah ketik karna tadi terlalu terburu-buru.


" Luna maafkan aku, aku yang salah ketik. Aku tidak sengaja melakukannya. Maafkan aku....." ucap Aleta merasa bersalah.


Luna tidak menghiraukan ucapan Aleta sama sekali. Ia masuk ke kamar dengan sangat emosi dan mendiamkan Aleta. Ia bahkan menghempas tangan Aleta saat Aleta berusaha menyentuhnya. Aleta tidak menyerah begitu saja, ia terus mencoba membujuk Luna agar memaafkannya. Ia mengikuti ke mana pun Luna melangkah dan terus meminta maaf padanya.


" Luna pliss lah,,, maafin aku. Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya." ucap Aleta yang sudah mulai lelah dengan sikap Luna.


“ Inikan cuma masalah sepele, kenapa kau harus semarah ini padaku?” tanya Aleta.


" Ini bukan masalah sepele, aku hampir diperkosa karna kecerobohanmu." teriak Luna marah.


Mendengar hal tersebut, Aleta langsung terkejut dan sangat merasa bersalah. Ia menangis sambil memeluk Luna dan terus mengucapkan maaf padanya.


“ Aku tidak tau jika kau mengalami hal seperti itu karna kesalahanku. Aku benar-benar minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji....”


Luna tidak tega melihat Aleta seperti itu. Meskipun ia bersalah, tapi ia tau Aleta tidak sengaja melakukannya. Lagi pula salahnya juga dari awal yang sangat pelupa sehingga harus terjadi hal seperti ini. Luna akhirnya memaafkan Aleta dan kembali seperti sedia kala.


JANGAN LUPA


👍 LIKE


📍 KOMEN


❤ FAVORIT

__ADS_1


DAN TIPS NYA YA


SEMOGA KALIAN SUKA DENGAN CERITANYA DAN TIDAK BOSAN MEMBACANYA


__ADS_2