
Selesai makan, Daniel menyodorkan buah yang ada dalam piring.
"Ini buahnya," ucap Daniel.
"Letakkan di atas meja, biar nanti aku makan sendiri." Jawab Meyla yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Ya udah, aku letakkan di atas meja. Kalau kamu mau makan, makan aja. Oh ya, aku tinggal dulu, aku mau makan malam. Kalau kamu butuh sesuatu, kamu tinggal tekan tombolnya, nanti Mbak Nana akan datang." Ucap Daniel sambil bangkit dari posisi duduknya, sekaligus mengambil nampan beserta piringnya.
Setelah itu, Daniel segera keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan. Saat sudah berada di ruang makan, Daniel menikmati makan malamnya dengan sendirian. Saat baru mengunyah makanan, tiba-tiba teringat akan kebersamaan dengan kedua orang tuanya. Kenangan yang penuh kebahagiaan, juga tidak akan terlupakan.
"Maafkan aku, Ma, Pa. Gara-gara kecerobohan ku, kalian harus ikut menanggungnya. Maafkan aku yang selalu merepotkan kalian. Menyesal pun tiada guna, hanya memperbaiki diri jalan satu-satunya. Maafkan aku yang dulu pernah lari dari pernikahan, mungkin ini balasannya untukku." Ucapnya lirih sambil mengunyah makanan.
Daniel yang teringat akan kesalahan atas melarikan diri dari pernikahan, kini merasa jika dirinya benar-benar merasakan bagaimana rasanya harus bertanggung jawab atas kecerobohannya.
__ADS_1
"Ferdinan berhak bahagia, karena dia tulus menerima perjodohan dari Papa. Tidak denganku, aku yang sudah egois meninggalkan perjodohan itu." Gumamnya lagi yang kembali teringat terhadap kesalahan yang sudah ia perbuat.
Sambil mengingat akan kesalahannya yang dulu, tidak terasa sudah menghabiskan satu piring. Setelah itu, Daniel segera kembali ke kamar. Namun, saat hendak menapaki anak tangga, tiba-tiba niatnya diurungkan, lantaran belum waktunya untuk tidur.
Tidak ada pilihan lain selain menikmati malamnya dengan secangkir kopi panas dan pahit, Daniel memilih untuk duduk santai di teras sebelah rumahnya dengan menyibukkan diri dengan membaca buku.
Rumah yang pernah disiapkan sebelum perjodohan, kini telah ditempatinya. Daniel yang merasa suntuk dengan kesendiriannya, akhirnya rasa kantuknya pun tidak bisa dihalangi lagi meski sudah menghabiskan secangkir kopi pahit.
Cukup lama duduk di teras rumah, Daniel akhirnya memilih untuk masuk ke kamarnya untuk istirahat, lantaran paginya harus pergi ke kantor.
Dengan penuh hati-hati, Daniel membenarkan posisi tidur istrinya, juga menyelimuti tubuhnya hingga sampai di bagian dadanya. Setelah itu, Daniel mencuci muka dan juga menyikat giginya. Kemudian, Daniel naik ke atas tempat tidur, yakni tidur disebelah istrinya. Tentu saja memberinya pembatas ditengah mereka berdua, agar sang istri tidak panik, pikirnya.
Karena tidak ingin bangun kesiangan, Daniel memejamkan kedua matanya agar segera tidur dengan pulas.
__ADS_1
.
.
.
Pagi-pagi sekali Daniel sudah bangun dari tidurnya, juga sekalian membersihkan diri agar tidak memakan waktu yang lama. Setelah mandi, Daniel menyibukkan diri di ruang kerjanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda karena harus menemani istrinya makan malam, juga sudah merasa penat untuk dilanjutkan.
Berbeda dengan Meyla, justru masih tidur dengan nyenyak. Bahkan, suaminya bangun saja tidak ada respon sama sekali. Tetap saja, Daniel tidak membangunnya, dan membiarkannya bangun dengan sendirinya.
Sambil menyelesaikan pekerjaannya, alih alih Daniel mencoba untuk mengecek ponselnya yang belum tersentuh sama sekali sejak dirinya menjadi tahanan.
Saat membuka ponselnya, rupanya benar adanya pesan masuk ke nomor ponselnya. Karena penasaran, Daniel membuka pesan masuk.
__ADS_1
"Wingga," ucapnya menyebut nama kontak di ponselnya.
Karena penasaran dengan isi pesan dari Wingga, Daniel segera membukanya.