Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Dikejutkan sikap istrinya


__ADS_3

Daniel yang tidak ingin bertambah masalah, dirinya segera memanggil asisten rumah untuk membantu istrinya mandi.


"Mbak Nana, tolong bantu istri saya untuk mandi ya. Oh ya, jangan sekali-kali menolak permintaannya. Jika Mbak Nana membutuhkan sesuatu, atau perlu apa, bilang sama saya." Ucap Daniel kepada asisten rumahnya yang sengaja dipindahkan dari rumah orang tuanya untuk menjadi asisten rumah barunya, agar lebih ngerti.


Setelah memberi perintah kepada asisten rumahnya, Daniel segera membersihkan diri di kamar tamu.


Sedangkan Mbak Nana sendiri segera menuju kamar majikannya untuk membantu istri Tuannya membersihkan badan, alias mandi.


"Selamat sore, Nona. Maaf, jika sudah membuat Nona lama menunggu." Sapa Mbak Nana dengan ramah.


"Lama banget sih, dari tadi gak datang-datang." Sahut Meyla dengan ketus.


"Maaf, Nona. Kata Tuan Daniel, Nona mau mandi, benarkah?"


"Enggak! ya iyalah, ini semua juga gara-gara majikan kamu itu. Kalau bukan karena dia, aku gak bakal menikah dengannya, paham." Jawab Meyla dengan nada membentak.


"Namanya juga musibah, Nona. Mana kita tahu."


"Halah! kamu tahu apa tentang musibah. Yang ada tuh, hidupku itu udah hancur! puas! kamu."

__ADS_1


Lagi-lagi Meyla kembali membentak asisten rumah. Mbak Nana yang baru pertama kalinya mendapat bentakan, pun merasa takut.


"Masih diam juga kamunya, cepat! bantu aku mandi. Awas saja kalau kerjaan kamu gak benar, aku adukan sama majikan kamu itu agar kamu dipecat." Ucap Meyla masih dengan nada yang cukup tinggi.


Mbak Nana yang berkali-kali sudah mendapat bentakan, benar-benar menguji mentalnya.


"Baik, Nona." Jawabnya dengan sedikit gemetaran.


Setelah itu, Meyla dibantu oleh Mbak Nana untuk membersihkan diri sampai selesai, juga dibantu untuk mengenakan pakaiannya hingga dibantu menyisir rambutnya.


Belum juga menyisir rambut, Daniel sudah masuk kedalam kamar.


Meyla sendiri memilih diam, juga dirinya merasa bosan bersama Mbak Nana yang membuatnya kurang nyaman. Juga, dirinya merasa penasaran dengan suaminya.


"Ini rambut, mau di urai atau diikat?" tanya Daniel sambil menyisir rambutnya.


"Diikat aja, yang tinggi." Jawab Meyla dengan ketus.


"Baiklah, aku akan mengikatnya." Ucap Daniel dan mengikat rambut milik istrinya.

__ADS_1


Meyla hanya memperhatikan suaminya lewat pantulan cermin.


"Sudah. Mau keluar kamar, atau mau istirahat di kamar?"


"Aku mau dikamar saja, dan duduk di tempat tidur."


"Mari, aku bantu kamu untuk naik ke atas tempat tidur." Ucap Daniel berusaha untuk bersikap baik kepada istrinya.


'Ternyata nurut juga dianya. Bisa aku manfaatkan kalau gitu, aku bisa menjadi ratu di rumah ini.' Batin Meyla penuh dengan kemenangan.


Daniel sendiri tengah membantu istrinya untuk berpindah duduknya dari kursi roda ke tempat tidur. Setelah itu, Daniel memilih untuk berada di ruang kerjanya.


Sambil duduk di ruang kerja, Daniel mencoba untuk melihat rekaman CCTV yang ada di kamarnya tanpa sepengetahuan istrinya.


Alangkah terkejutnya saat melihat istrinya yang bersikap kasar kepada asisten rumahnya, yakni kepada Mbak Nana.


"Oh. Rupanya dia galak juga, keras kepala sepertinya. Mungkin juga karena dia gagal menikah dengan kekasihnya, hingga membuatnya tidak terkontrol. Aku harus melakukan sesuatu padanya, dan bisa merubah sikapnya, juga sifatnya yang keras kepala itu." Gumamnya sambil memperhatikan rekaman CCTV di dalam kamarnya.


Sedangkan Meyla tengah disibukkan dengan ponselnya, entah apa yang tengah dilakukan oleh Meyla, Daniel sudah menutup layar laptopnya yang terhubung dengan rekaman CCTV.

__ADS_1


Karena pekerjaan yang begitu padat, Daniel segera menyelesaikannya dalam kurun waktu secepatnya agar waktunya tidak terbuang sia-sia, pikirnya.


__ADS_2