Menjadi Suami Dadakan

Menjadi Suami Dadakan
Makan siang sendirian


__ADS_3

Dengan langkah kakinya yang terburu-buru karena takut terlambat, Daniel mempercepat langkah kakinya. Sedangkan supirnya diminta untuk tetap berada di kantornya. Tentu saja mendapatkan pekerjaan sampingan untuk menambah penghasilan.


Daniel yang sudah disibukkan dengan layar komputer, sampai-sampai dirinya pun lupa dengan bekal sarapannya.


Saat itu juga, Daniel dikagetkan dengan suara bel pintu. Dengan reflek, langsung menekan tombolnya hingga pintu terbuka dengan sendirinya.


"Permisi, Bos."


"Masuk saja, dan tutup lagi pintunya." Sahut Daniel yang tengah sibuk dengan keyboardnya.


"Ini berkasnya, Bos." Ucapnya sambil menyodorkan berkas dihadapan Daniel.


"Terima kasih. Silakan lanjutkan pekerjaan kamu, dan selesaikan sekarang juga." Jawab Daniel tanpa mendongak.


"Baik, Bos. Kalau begitu saya permisi." Ucapnya, Daniel hanya mengangguk.


"Jangan lupa tutup kembali pintunya." Perintahnya.


"Ya, Bos." Jawabnya dan bergegas keluar dari ruang kerja Bosnya.


Daniel yang benar-benar tengah disibukkan dengan pekerjaannya, pun lupa jika dirinya belum sarapan.

__ADS_1


"Aih, aku sampai lupa membawa bekalku di mobil. Dah lah, nanti sekalian makan siang aja langsung." Ucapnya sambil mengetik.


Sedangkan di tempat lain, Meyla yang tengah sendirian didalam kamar, pun merasa bosan dan juga jenuh.


Karena tidak ingin sendirian di dalam kamar, Meyla mencoba untuk menghubungi ibunya agar mau datang ke rumah dan menemaninya selama suaminya keluar.


Beberapa menit kemudian setelah menghubungi ibunya, rupanya tidak mendapatkan jawaban.


"Mama kemana sih, kenapa juga teleponnya gak diangkat angkat juga. Apa iya, Mama sedang sibuk." Gumamnya berdecak kesal dengan posisinya yang tengah duduk di kursi roda.


Karena belum mendapatkan jawaban dari ibunya, Meyla kembali menggunakan ibunya lagi dan lagi, yakni sampai merasa pegal, juga kesal tentunya.


"Ya, Nona. Maaf, apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Mbak Nana dengan hati-hati, takutnya salah bicara, pikirnya.


"Ya tentu saja ada. Namanya juga dipanggil, tentu saja ada perintah dariku." Jawab Meyla dengan ketus.


"Terus, saya harus bagaimana, Nona?" tanya Mbak Nana kembali.


"Tolong bantu aku antar ke bawah, maksudnya aku di mana kek, tempat yang bisa buat santai. Bosan akunya di dalam kamar terus, yang ada aku bisa jadi gila. Menikah dengan majikan mu saja sudah bikin kesal, masa iya mau di kamar terus." Jawab Nana sedikit mendengus kesal.


"Oh. Nona mau ke tempat yang bisa buat santai? kalau begitu saya akan mengantarkan Nona ke taman belakang. Ayo, Nona." Ucap Mbak Nana dan langsung mengambil alih untuk mendorong kursi rodanya sampai di taman belakang. Tentu saja menggunakan jalan pintas untuk sampai ke taman belakang.

__ADS_1


Saat sudah berada di taman belakang, Meyla dapat menikmati pemandangan yang cukup untuk menghibur diri sambil memandangi tanaman bunga, juga banyak kupu-kupu yang berterbangan.


"Mbak, ambilkan buah ya, sekalian di kupas langsung. Satu lagi, aku alergi buah naga, jadi jangan ada buah naga, titik." Perintah Meyla kepada mbak Nana untuk mengambilkan buah untuknya.


"Baik, Nona. Kalau begitu saya tinggal dulu ya, Non." Jawab Mbak Nana mengiyakan.


"Cepetan! jangan pakai lama. Aku gak suka kalau ada asisten tidak cekatan, cepetan sana pergi." Ucap Meyla dengan seenaknya sendiri.


Bahkan, tanpa disadari oleh dirinya jika suaminya telah melihat rekaman CCTV-nya lewat laptopnya.


"Benar-benar keterlaluan kamu, Mey. Kamu memang perlu diberi pelajaran, agar keras kepalamu itu sedikit mencair." Gumamnya merasa geram dengan sikap istrinya yang benar-benar kelewatan kepada asisten rumahnya.


Karena tidak ingin pekerjaannya terganggu oleh ulah istrinya yang telah memancing emosinya, sebisa mungkin untuk tetap tenang dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan sebaik mungkin, dan tidak ada yang salah, pikirnya.


Waktu yang dijalaninya selama menyelesaikan pekerjaannya, ternyata sudah waktunya untuk istirahat. Rasa lelah, penat, juga lapar tengah menjadi satu yang kini sedang dirasakan oleh Daniel.


Sedari pagi belum sarapan, Daniel mulai merasa keroncongan bagian perutnya dan bergegas menuju kantin untuk memesan makan siang.


Tidak ada yang menemani makan siang, lantaran sekretarisnya yang mempunyai pekerjaan yang sama padatnya, Daniel makan siang sendirian.


Sambil menikmati makan siang, rupanya terdengar beberapa karyawan wanita tengah membicarakannya. Bahkan, tidak ada satupun yang tahu jika Daniel sudah menikah, hanya sebagian saja, itupun hanya karyawan laki-laki.

__ADS_1


__ADS_2